Pages

Minggu, 18 Juni 2017

Langit Malam

Oleh : Dhito Nur Ahmad
(Harian Budaya, Fajar_ 2013)

Malam ini, aku seperti sebatang kayu yang selalu bisu, selalu diam.  Memandangi langit malam yang juga bisu. Segalanya terasa sunyi: bebintang yang kerlap-kerlip, hembusan angin malam yang menggerakkan dedaun, suara anjing yang menggonggong dari kejauhan, juga jalanan depan rumah yang nyaris lengang semalamam. Ini sudah jam sebelas malam, aku masih duduk pada sebuah bangku-bangku di depan rumahku, melihati bebintang di petala langit, sambil merenungi nasib, menakar masa depan yang nampak suram.
Seperti malam-malam sebelumnya, merenung di tempat ini selalu membuatku mengkhawatirkan masa depan. Inilah tahun pertamaku benar-benar hidup sebagai pengangguran. Setelah kuliah usai, dan kenangan manis semasa mahasiswa meninggalkanku, tak ada yang lebih menggelisahkan selain bayangan kehidupan di masa mendatang. Cerita tentang perkamen rahasia yang sesungguhnya masih tergulung di atas sana.
 “Akan jadi apakah aku ini? Bagaimanakah diriku nanti di masa depan? Akan jadi orang sukseskah?”
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu menari di kepala, menyeruak begitu saja ke dalam pikiran. Menjadi semacam teka-teki yang belum bisa terjawab. Bagaimanapun, hidup adalah misteri, masa depan tetaplah rahasia. Dan hanya waktu yang bisa menjawabnya.
Masih kuingat percakapanku dengan kakak tertuaku pada sebuah pagi. Ia serupa seorang dermawan yang membawakanku nasib baik. Serupa tetes hujan yang membasahi tanaman yang layu. Aku tengah duduk di beranda rumah saat dia menghampiriku.
“Dua puluh juta, hanya dua puluh juta. Bayangkan!” serunya. Dia mengatakan dengan mata seperti mau meloncat. Barangkali berharap saya akan melonjak kegirangan.
Tapi itu tidak kulakukan. Aku hanya tersenyum sekedarnya.
Daeng, bukan ini yang kuinginkan.” Kataku, datar.
Dia terkejut seperti tersengat kalajengking saat kumengatakannya.
“ Hah! Kenapa? Ini peluang yang bagus. Menjadi PNS. Impian semua orang, tak semua orang punya kesempatan seperti kamu.”
“ Tapi aku tidak tertarik, aku tidak suka cara itu.” kataku tak kalah sengit.
Dan, setelahnya. Tahukah kau apa yang dikatakannya? Dia menuduhku sok suci, bodoh, berambisi yang lemah, dan tak punya masa depan.
***
Sehari setelahnya, Ibu menghampiriku dengan hati-hati. Aku tahu, dia pasti telah terkena hasut. Di awal percakapan, kalimat yang muncul di mulut Ibu adalah: Nak, saya tak tahu nantinya kamu akan jadi apa, saya juga tak tahu hidupmu akan bagaimana. Tapi ketahuilah, hanya ini cara yang saya tahu agar masa depanmu lebih baik.
Ibu berkata dengan kalimat yang dilembut-lembutkan.
“ Apakah itu berarti Ibu telah meragukan kemampuanku? Dari manakah Ibu akan dapat uang dua puluh juta itu?”
“ Bukan, bukan nak, Ibu bukan meremehkanmu. Uang dua puluh juta itu tak masalah buat saya, asal masa depanmu bahagia. Saya bisa menjual sepetak tanah warisan, asal kamu jadi PNS dulu.”
Aku menghela nafas, menatapi bola mata Ibu dalam-dalam. Sebuah telaga tenang, telaga yang tak pernah kering akan kasih sayang. Aku paham maksud Ibu, bahwa ia sangat menginginkanku hidup makmur di masa depan, bahwa ia menginginkanku terlepas dari pedihnya kemiskinan. Sejak kecil, aku didiknya dengan penuh tulus, diajarkan cara membaca dan mengaji, bahkan aku dikuliahkan sampai sarjana. Dan sekarang? Ia bermaksud mengorbankan sepetak tanahnya demi kehidupanku.
Ah Ibu, maafkanlah daku ini. Barangkali aku telah durhaka. Tetapi bagaimanapun aku tetap tak mau menempuh cara itu. Aku harus tetap setia pada kebenaranku.
Makanya, saat itu juga kukatakan sejujurnya penolakanku pada Ibu.
Ia pias. Matanya remang, barangkali tak percaya. Dan setelahnya, ah… ada air mata di sudut matanya. Pandangannya seperti meminta sedikit alasan mengapa menolak tawarannya.
 “Ibu, aku tak mungkin bahagia dengan cara seperti itu. Itu cara pintas Bu, agama kita melarang.”
Perempuan yang telah membesarkanku itu kemudian tersedu di depanku. Membuatku juga merasakan serak yang tak tertahan di dada. Tapi aku tahu, ia hanya bisa tersedu, hanya bisa menangis, karena ia tak pernah kuasa merubah budaya dan keadaan.
“Uang dua puluh juta itu juga bukan sedikit Nak….” Lirihnya.
***
Tak ada yang tahu persis, kapan dan bagaimana sebuah budaya tumbuh. Sewaktu masih kecil, sogok-menyogok tak pernah ada dalam kebudayaan kami. Sekarang, sudah serupa pohon raksasa yang akarnya telah kokoh menancap pada peradaban. Barangkali zaman telah salah menjelma di hadapanku.
Jelas aku menolak. Karena aku tak mau menerima keadaan begitu saja, bahwa nanti aku akan mati dalam dosa bergenerasi. Aku akan mewariskan dosa-dosaku pada anak, cucu, dan cicitku kelak, dan menjadi serial dosa yang tak berkesudahan. Gajiku nanti adalah uang ilegal yang didapat dari cara yang salah. Akibatnya, istri dan anak-anakku nanti akan makan dan dibesarkan dari uang haram. Oh tidak! Aku tidak sudi.  
 “Daeng Tayang kemarin telah membeli mobil baru, Sanniasa telah menjadi kepala sekolah, dan si Ali mengganti motor bebeknya dengan motor besar seharga 25 juta.” Tukas kakakku di suatu hari.
Aku tahu niatnya baik, tapi aku juga tahu dia tidak tahu cara yang baik. Aku bisa saja mengambil peluangnya. Toh nanti tugasku hanya ikut tes, menjawab soal sekedarnya. Dan akhirnya lulus, meski harus menggeser orang lain yang harusnya lebih berhak. Pekerjaan ini juga tentu saja akan membawaku menuju kemakmuran, membuatku terhindar dari pedihnya kemiskinan, tapi bukan membawaku menyongsong kebahagiaan, bukan mengarahkanku pada kebaikan.
***
Akhirnya, aku hanya bisa mengadu pada langit malam. Aku selalu duduk pada sebuah bangku-bangku depan rumahku, memandangi bebintang yang berbaris di petala langit. Merenungi nasib, menakar masa depan. Aku tak tahu, nantinya aku akan jadi apa, aku juga tak tahu hidupku nanti akan bagaimana. Yang kutahu, ini adalah cara yang salah.  Bagaimanapun, sogok menyogok tak pernah dibenarkan dalam budaya dan agama kami.  Tak pernah!
Sementara itu, kesunyian terus saja meliputi malam. Bebintang kerlap-kerlip begitu saja, angin selalu berhembus menggerakkan dedaun pohon mangga di samping rumah, dan jalan depan rumah yang nyaris lengang semalaman. Selalu begitu. (*)

Makassar, September 2013

Rabu, 07 Juni 2017

Pada Beberapa Kesempatan....

Pada beberapa kesempatan, saya masih sering berpikir. Kapan yah saya bisa keluar negeri, kapan kira-kira bisa jalan-jalan jauh, menembus batas negara sendiri, berkelana hingga jauh. Ini memang impian sejak mahasiswa, yang pernah pupus lantaran nasib dan takdir yang tak dimengerti cara mainnya. Saya pernah banting stir, membelokkan visi dan jalan hidup. Tak kesampaian ke luar negeri, saya pun mengikuti program yang berpeluang memberiku sensasi yang sama, saya mengikuti program pemerintah yang bisa membawaku pergi dari tanahku sendiri.
Saya tidak tahu, dari mana ini bermula. Semenjak saya bisa mengenal dunia dari bacaan-bacaan dan media, telah tertanam di kepala bahwa alangkah datarnya hidup kalau di sini-sini saja. Saya banyak membaca kisah-kisah perjalanan, bertemu backpacker-backpaker berani yang bermodal nekad pergi ke tanah seberang. Di Maratua dahulu, saya berkenalan dengan pelancong kanada, polandia, amerika, perancis, belanda, china, dan banyak negara asia dan eropa. Saya senang menanyai latar belakangnya, dengan bahasa inggris seadanya. Saya bisa simpulkan, sederhana saja mereka adanya, rata-rata tidak kaya seperti yang kita duga, mereka lebih mengandalkan tekad, keinginan menderita, dan menghalau segala khawatir dan manja demi memenuhi pemenuhan perluasan wawasan dan pengalaman hidup.
“Uang tiket biaya perjalanan ambil dari mana, sir?”
Saya pernah beberapa kali dengan serius menanyakan hal itu pada turis yang berbeda. Yang kusadari kini bahwa itu ternyata pertanyaan bodoh bagi seorang anak muda yang telah beranjak dewasa. Apalagi kalau itu diajukan kepada diri, atau yang memulai misi dan tujuan setiap yang dilakukannya dari uang. Hampir pasti, jawaban dari pertanyaan tersebut adalah tidak ada, tidak bisa, tidak mungkin.
Dunia luas bisa disadari keberadaannya dari terbukanya pemikiran, meluaskan pandangan, yang bisa mendapatkan sesuatu yang tak terbayangkan, pengetahuan, pengalaman, kedewasaan, teknologi, dan ilmu. Orang-orang yang seperti inilah yang bisa menemui keajaiban, mendapati ajaib kuasa ilahi. Pemuda yang menggendong tas butut dengan persiapan sebisanya, yang kalau kehabisan uang bekerja di warung sebagai pencuci piring, yang kalau menderita sekali menderita, kalau jaya sekali jaya raya. Kurang lebih sama dengan orang-orang bugis, minang, dan jawa, yang saat ini menguasai perdagangan nusantara. Mereka bisa mendiami kampung orang dengan jaya dan bisa ditemui di seantero  negeri. Berbekal tekad, nekad, dan keinginan,  
Tak pernah terbayang saya akan berlama-lama di kampung. Apalagi saat telah menamatkan sarjana, tak ada hikmah apapun yang bisa diperoleh dari setiap kisah menderita, tak ada pelajaran yang bisa diambil, selain kesan sempit dan miskin pengalaman. Orang-orang perantau, serendah apapun ilmunya, ternyata secara mentalitas lebih pemberani, lebih kuat dan tahan malang dibanding tuan tanah. Para pemuda yang ditugaskan belajar jauh di negara maju secara mandiri, cukup dengan bekal prinsip-prinsip agama di dadanya, akan memiliki daya inovasi dan inisiatif yang lebih. Imajinasi mereka bangkit, rasa percaya diri menggeliat, dan sekembalinya, membawa sejuta pengalaman, cerita, dan perenungan yang membentuk visi mereka.
Ini masih tertanam di pikiran saya. Belum pernah saya keluar negeri, tetapi memilih tinggal menetap di kampung adalah hal yang sulit dan rasanya menggelisahkan. Tidak ada pertaruhan, tidak ada penaklukan dan kemenangan. Pergi, menemui banyak tempat. Menghadapai kemungkinan-kemungkinan yang sulit ditebak, membaur bersama gelisah, kemungkinan buruk, dan surprized pada kenyataan-kenyataan baik yang dipersembahkan oleh Tuhan.
Merantau, menempa diri, itu akan memuliakan diri. Kita tak akan menggampangkan agama, hidup akan sangat dekat dan merasa butuh pertolongan Tuhan. Hidup akan mengenal antisipasi, tak ada pilihan bermalas-malasan, dan sangat mengandalkan diri dibanding mengharap pertolongan keluarga dan teman dekat.
Di rantau, Tuhan lebih dekat. Meminta dan mengharap pertolongannya lebih sering dilakukan, dengan kualitas ibadah yang lebih baik. Itu menurut saya, dan berdasar kenyataan-kenyataan yang terjadi dalam hidup saya. 

Melihat Papua dari Perspektif yang Dekat


Sebuah rumah kecil dan mungil. Tempat bernyanyi banyak orang di dalamnya. Segalanya sederhana: rumah, pakaian, apa yang dimakan, harapan, dan mimpi-mimpi. Rumahnya dibangun sederhana dan seadanya, meski sesungguhnya kaya dan banyak uang. Penyikapan mereka terhadap hidup seadanya, tanpa keinginan bermegah-megah dan berbangga-bangga. Rumah mereka dibangun pada tempat yang kaya, dibelakangnya belantara dengan segudang gaharu, kayu belantara, tanah-tanah menjanjikan. Di hadapannya sungai bersambung ke laut, berhulu di gunung. Emas di perutnya, mutiara di lautnya, berlian di gunungnya, burung surga di langitnya. Tersedia.

Saya dengar bapak mereka kuat. Perempuan dan laki rupa sempurna. Berotot dan kekar, buat menyulam dunia dengan sejumput harapan yang gamang, dengan silaunya yang getir. Tapi kini, pondasinya telah ubanan, angin masih sepoi, tapi tak kunjung lagi bertengger di beranda-beranda rumah mereka. Bahkan disokongnya juga segala harapan dan cita-cita.

Papua, dengan rupa ramah dan eksotis. Sebuah persembahan agung dari sang pencipta. Penyikapan terhadap hidup sederhana saja adanya dan jelas hidup mereka -meski sederhana- lebih berbahagia dibanding kita. Tak banyak membandingkan, tak terlalu banyak perhitungan dan antisipasi. Kehidupan beragamanya juga harmonis, jauh lebih harmonis dibanding jawa. Islam berkembang dengan sangat baik dan eksis. Bahkan lebih eksis, jauh lebih mendalam dan aktif aktivitas keberadaannya dibanding yang berada dalam kungkungan dan lenaan mayoritas.

Saya berada dalam kondisi yang agama tidak boleh diabaikan. Dia penting, sepenting bernafas setiap 3 detik yang kalau tidak diikuti bisa merana. Dia berharga, seberarga secarik peta harta karun yang bisa memakmurkan di dunia.

Anak sekolahnya, bukan salah mereka kalau mereka belum secerdas yang di kota, hidup mereka terisolir, tinggal di belantara, di antara alam, gunung dan pantai-pantai. Tak banyak fasilitas belajar. Tapi secara moralitas, penghargaan mereka terhadap agama, pendidikan, orang tua, guru, bahkan terhadap diri, jauh lebih hebat dibanding para pelajar di makassar yang telah terbilang cerdas itu, yang telah punya banyak pilihan, dan sangat berpeluang jadi anak yang sopan, baik-baik, dan cerdas. Tapi aduhai, ditengah kemudahan itu, terlena dalam kubangan mayoritas. Menggampangkan perangai. Semakin cerdas, justru semakin sulit menghargai guru, agama, dan pendidikan.

Saya telah mengajar di banyak tempat. Telah mengajar di kota provinsi, di kabupaten, sampai pada daerah paling pedalaman. Sepanjang ingatan, telah bisa saya menarik garis pembanding, mengira-ngira kenapa, terheran-heran, kok bisa?! Melihati kenyataan, anak-anak pedalaman papua jauh lebih sopan dibanding siswa-siswa di kota. Lebih membahagiakan mengajar mereka.

Belajar dari papua, yang kita kenal keras kuat dan bebal itu. Ternyata setelah mendatanginya, setelah kita lihat dari perspektif yang dekat. Melihat kehidupannya, bagaimana mereka hidup, seperti apa mereka berprinsip dan berpikir, punya sisi menarik dan lebih maju dibanding yang di kota. Jauh lebih arif, jauh lebih indonesia, jauh lebih memahami agama, dibanding para sarjana, para orang yang telah diakui pintar, yang telah menghabiskan puluhan tahun sekolah. Jauh lebih pintar dari pencetus undang-undang ham dan perlindungan anak, para pengikut demokrasi, para analis pendidikan, para wartawan dan pemirsa tv.


Segalanya butuh dilihat dari perfektif yang dekat, termasuk pendidikan. Kalau pendidikan semakin merusak moral, berarti itu bukan peningkatan, ada hal yang butuh diubah. Karena hanya akan merusak esensi sesungguhnya dari pendidikan itu sendiri. Dan itulah yang terjadi pada dunia pendidikan sekarang. Banyak hal diartikan secara brutal. Semisal, kekerasan dalam kondisi apapun itu dilarang, setiap aktivitas fisik adalah kekerasan, guru adalah orang yang selalu dicurigai. 

Terimakasih Athirah

Tergerak hati saya untuk menuliskan. Sebuah pekerjaan asing, karena telah lama tidak saya lakukan. Semua tentang Athirah, sekolah kami, tempat kami belajar, yang merupakan sekolah kereen dan terbilang terbaik di negeri ini. Tak bohong orang bilang. Tak pernah saya temui sekolah dengan sistem seperti ini sebelumnya, dimana agama dan moralitas ditempatkan di atas apapun. Al-qur’an dijunjung tinggi, prestasi dibidik sempurna, dan martabat-budaya athirah tidak ditinggalkan. Tak pernah saya berpikir sebelumnya bisa bergabung, bahkan tak tinggi-tinggi impian saya terhadap sekolah ini. Tetapi, saya sangat bersyukur, bisa berkesempatan belajar, bergaul dengan guru-gurunya, dan menjadi bagian yang bisa memasuki kelas-kelasnya, menyapa siswa-siswanya, dan menjadi teman belajar saya.
Tidak keliru rupanya, sekolah ini diberi nama dengan begitu menarik dan percaya diri: Athirah. Mengingat nama itu merupakan interpretasi dari sebuah nama yang mulia, seorang ibu yang lembut, pendidik seorang pemimpin nasional yang tangguh, dan pengangkat harkat martabat bugis di mata dunia. Sejak dahulu, orang-orang bugis, unggul dibidang perdagangan, politik, dan keberanian. Dan itu, diharapkan tercurah juga pada setiap siswa Athirah, orang-orang yang berksempatan belajar di dalamnya, termasuk guru-gurunya.
Sekolah ini sederhana saja sebenarnya, dengan struktur dan sistem seperti sekolah kebanyakan. Yang tidak sederhana adalah, kualitas pemikiran guru-gurunya, kebersamaan yang mereka bentuk, kedisiplinan kerja, dan totalitas-dedikasi dalam menyelesaikan tugas.
Kalau kawan berkesempatan bergabung, setiap pagi jam 6.15 pagi, guru-guru pasti telah berkumpul disebuah ruang melaksanakan briefing, yang terkadang diisi dengan pengarahan kepala sekolah, tadabbur Al-qur’an, dan yang lebih sering adalah pembacaan bersama Surat Lukman. Itu, dilaksanakan dengan kebersamaan yang sangat terasa, percandaan yang mengakrabkan, hingga hanya ada cinta di hati mereka. Kegiatan briefing tersebut, selalu ditutup dengan doa’a yang agung, perwujudan pengharapan, bahwa setelah upaya terbaik dilaksanakan,  segalanya diserahkan kepada Allah, berharap dibantu dan diberi kekuatan serta petunjukNya. Kalau bertemu siswa-siswanya, kawan akan disapa “Assalamualaikum Pak.....” lalu tangan-tangan mungil mereka akan mencium tanganmu, senyum terbaik mereka akan ditumpahkan seluruhnya kepadamu.     
Athirah sungguh memberi saya banyak. Saya, dengan latar belakang mengajar di daerah 3t, yang terbiasa berhadapan dengan siswa-siswa pesisir dan pedalaman, yang berupaya maksimal bagaimana membuat siswa aktif di kelas, agar tidak gurunya saja yang aktif sendirian. Di Athirah, kami justru ditempa sebaliknya, kami diperhadapkan pada siswa-siswa yang superaktif, dengan pertanyaan macam-macam, reaksi yang berbeda, yang butuh dikendalikan, diarahkan, pada saat tertentu didiamkan, dan dibentuk. Penanganan yang berbeda tentu dibutuhkan, juga kesabaran, keikhlasan, dan semangat pengabdian.
Guru-guru Athirah, ketika memiliki seratus alasan untuk berhenti, menyerah, dan ogah2an, mereka hanya butuh satu alasan, satu saja, yang membuat mereka tetap tinggal dan bertahan, berjuang dan mengabdi, memberikan yang terbaik. Satu, yang mengalahkan banyak, yang punya kekuatan lebih, yang seolah puncak segala alasan dan kekuatan, yang dicipta Tuhan dengan formasi khusus di hati mereka: cinta.
Dan hari ini. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya menerima pula surat cinta, dari siswa-siswa saya di Athirah, cinta sepenuh-penuh dari mereka, yang tentu saja tidak melibatkan perasaan aneh semacam sakit kepala dan usus.
Saya mengucap terimakasih. Atas segala haru, sedih, dan bahagia yang saling berbaur. Adik-adik saya yang baik, yang diluar dugaan saya, Alhamdulillah bisa saya diterima di kelas, menjadi bagian dari orang yang belajar bersama mereka. Siswa-siswa saya, yang super-aktif, yang cerewet, senang senyum-senyum kalau belajar, dan sangat rajin bertanya, meski pada hal-hal remeh dan tidak penting. Tetapi mengandung muatan sempurna, bahwa kemampuan untuk tampil di manapun, mentalitas orang-orang panggung, mereka miliki. Hingga tak heran sering menjuarai berbagai kompetisi bergengsi. Bersama mereka, kadang saya merasa melampaui diri, melebihi kemampuan yang kukenal, kadang pula merasa hilang diri, tak seperti yang kukenal.
Terimakasih Athirah, terimakasih teman-teman belajar saya. Atas senyum manis bapak kepala sekolah dan ketiga wakaseknya, Pak Aji (Zainuddin), Ibu AF, Ibu Hasni, teman-teman guru, juga adik-adik saya di kelas VIII.4 dan VIII.5, yang telah memberi warna, memberi saya pengalaman senang, bahagia, juga pengalaman marah, sedih. Sungguh sebuah pengalaman yang akan saya butuhkan di masa depan. Saya telah berupaya, memaksimalkan yang saya bisa, agar bisa menjadi teman belajar yang asyik, jadi serupa ibu yang penyayang, ayah yang melindungi, kakak yang pemarah, dan sahabat yang baik. Tetapi tetap, segala hal-hal baik yang diniatkan, yang dilakukan dengan cinta besar yang kita punya, selalu saja punya sisi kurang. Saya merasa ini bukanlah apa-apa, dan saya menjadi bukanlah siapa-siapa. Kisah saya akan berlanjut, menuju tempat yang berbeda.
Sebelum kisah saya berpindah, kami sempatkan berfoto bersama, dengan pimpinan dan guru-guru, dengan siswa-siswa saya. Saya merasa, ini merupakan keakraban yang tak biasa, sebuah sensasi kebersamaan yang tak mungkin ternilai dengan materi, dan itu telah kami kekalkan dengan foto bersama. Melengkapi sealur cerita yang telah kami ukir bersama di sekolah terlanjur kereen, dengan siswa-siswa yang Anggun, Unggul, dan Cerdas: Athirah.......
dna


Selasa, 12 Juli 2016

Sebut Saja Ini Romantika

Aduhai, saya ingin bercerita, kepada kawan-kawan seangkatan saya yang sekarang telah dewasa. Alangkah beruntungnya kita, yang terlahir tahun 80-an hingga awal 90-an. Di saat dunia kita memang masih sangat anak-anak, masih sangat kampung, masih sangat tradisional. Saya ingin bercerita, menghadirkan kisah picisan masa lalu, lalu menarik garis pembanding, dengan pendidikan masa sekarang. Adakah kemajuan, adakah itu hanya kemunduran?
Masa sekolah, adalah masa-masa bahagia. Tidak ada galau-galau, kita disadarkan sedari dini untuk rajin belajar, patuh pada guru-orang tua dan jangan nakal, biar jadi anak yang cerdas, anak yang berguna buat nusa-bangsa dan agama. Malas sedikit, dapat nasehat agung dari guru-guru kita, bandel sedikit diingatkan dengan lembut, bahkan pada kondisi tertentu dihukum dengan keras, yang pada zaman sekarang tentulah sudah dianggap pelanggaran ham.
Mari, kita simak lagu-lagu masa anak-anak kita. Akan saya hadirkan salah satu, sebuah gubahan dari Ibu Sud, tentang makna diri dan sekolah.
Hai, Amat, mengapa tidak sekolah?
Aku? Lebih senang tinggal di rumah.
Hai Amat, janganlah kau tinggal bebal.
Nanti tentu kau akan menyesal.
Hai Amat, janganlah kau tinggal dungu
Aku? Tidak perlu pergi berguru
Hai, Amat, tak guna kau banyak harta.
Kalau engkau tak dapat membaca.
Hai Amat, lekaslah pergi belajar.
Benar? Benar segala katamu, benar.
Hai Amat, ingatlah akan pesanku.
Itu kunci jalan kehidupanmu.
Dahulu kita diajari pendidikan budi pekerti, pekerti yang luhur, yang didasar pada falsafah agama dan falsafah pancasila. Sekarang kita diajari pendidikan karakter, yang bahkan anjing pun, kucing pun, harimau pun, semua binatang pun punya karakter. Dahulu kita diajari membaca kalimat “ini Budi, ini bapak Budi,” dari sebuah buku kecil yang sopan, menampilkan gambar anak berbudi pekerti, yang berkesan jelas taat pada orang tua, rajin ibadah, rajin menabung. Sekarang malah buku itu diejek oleh orang pintar, dan buku2 kita diganti dengan gambar-gambar sampul artis-artis cantik dari Jakarta, yang kemarin digosipi di tv sedang putus dengan pacarnya.
Aduhai dulu, kita dididik dengan keras oleh guru-guru yang pendidikannya tidak tinggi, tapi belum pernah nonton tivi, yang hatinya masih jernih, mengajari kita untuk jadi anak yang patuh pada guru dan orang tua, rajin belajar dan penuh semangat biar pintar, memberi tahu bahwa hemat pangkal kaya, rajin shalat dan mengaji biar jadi anak soleh. Sekarang, aduhai, perih sekali hati saya melihat anak-anak zaman sekarang. Bahkan guru-gurunya saja sudah tidak berdaya, negara telah melahirkan guru-guru yang dicurigai, yang tidak dihormati. Guru-guru yang tidak dipercaya, hingga anak butuh dilindungi darinya dengan undang-undang. Aduhai, siapakah sang pembuat undang-undang itu? Sudah pernahkah beliau turun ke sekolah, melihat keadaan anak-anak zaman sekarang? Pahamkan dia bagaimana itu pendidikan?
Aduhai lihatlah, pendidikan karakter yang dirancang oleh (katanya USAID) itu, sangat menekankan guru menhormati siswanya (bkn lagi siswa menghormati guru), datang sekolah disambut dengan senyum manis, berbaris depan pagar, menyalami siswa. Masuk kelas, guru pun lebih duluan dalam kelas, menyalami siswanya. Ini dimaksudkan mengajari karakter, tapi nyatanya, justru siswa makin tidak menghargai guru, patoa-toai sama gurunya, tidak adalagi guru yang tegas, yang galak, yang ditakuti (tentu, galak itu dibutuhkan, yang pada kondisi tertentu ditakuti siswa).
Aduhai dulu, kita diperkenalkn dengan Sultan Hasanuddin, dengan Bung Karno, bahkan diharuskan menghafal 4o nama pahlawan dan daerahnya, agar tahu betapa susahnya mendirikan negara ini, betapa kita harus cinta pada negara ini dan melanjutkan perjuangan dan pengorban mereka. Aduhai sekarang, anak-anak kita lebih cinta pada barcelona dibanding yang dari negaranya sendiri, lebih mengelu-elukan tim blanda yang dahulu menjajahnya dan mencibir tim sendiri, lupa pada yang dahulu menindas nenek moyangnya. Betapa kita kagum sekali pada jepang, pada korea, tanpa ada lagi ruang melihat hal yang bisa dikembangkan di daerah sendiri. Bagaimana mau maju negara, cinta pada negara saja tidak ada, produk negeri sendiri diremehkan, dicibir, dianggap tidak berkualitas. Aduhai, tidak butuh waktu 100 tahun, buat kita melupakan masa-masa ditindas sama penjajah kurang ajar, bukan mengajarkan membenci, bukan. Tapi mengajarkan sadar, bahwa ini dada masih punya cinta, masih punya bangga, pada negara kita yang sekarang dirundung malang ini.
Dahulu, kita diajarkan musyawarah mufakat, bahkan anak-anak seusia saya sangat menghafal GBHN, sebagai haluan negara yang dirumuskan oleh lembaga tertinggi negara bernama MPR, yang dahulu masih kuingat diketuai orang alim bernama Amin rais. Sekarang majelis permusyawaratan itu tdh tdk ada, GBHN telah dihapus. Haluannya diganti dengan demokrasi yang entah akan membawa negara kita kemana. Sistem baru itu mengajarkan kita pemilu, yg bahkan sgalanya butuh berdebat dulu, butuh saling mengakali dulu, yang bahkan seorang professor pun setara kualitasnya dgn pengembala kerbau, yang kuantitas lebih dipilih dibanding kualitas.
Aduhai Dahulu, para perempuan adalah mahluk paling sopan di dunia, paling pemalu di dunia, bahkan paling pemarah dan galak (kadang juga menangis) kalau dikasi jodoh2 sama temannya, sekarang aduhai, ada semuami tawwa pacarnya, bisami nahitung2 mantannya. Padahal di masa saya SD hingga SMP, berpcran adalah aib, ditau keluarga bisa dihajar, diomeli. Itu tindakan memalukan, org makassar bilang tau napakasiri bija pammanakanna, Ibunya akan merasa diolesi tai di mukanya oleh anaknya sendiri, merasa telah gagal mendidiknya. Bahkan nikah terpaksa, merupakan tindakan bunuh diri, secara adat keduanya harus mati diujung badik atau kalewang.
Dahulu, aturan masih bersandar pada hukum adat dan Al-quran, yang rata-rata berjalan beriring, sekarang datang pula aturan dari asing yang bernama ham, gender, dengan segala aturan undang-undangnya, yang anehnya bisa mengalahkan, bisa menggeser aturan luhur adat dan agama itu. Akibatnya, lihatlah anak-anak sekarang, kasihan saya melihatnya.
Aduhai dulu, kita diajari untuk fanatik, menempatkan cinta tertinggi pada nusa-bangsa dan agama. Yang rincian fanatiknya meliputi tiga hal, yakni: meyakini dengan sungguh, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan sungguh-sungguh dalam perbuatan. Sekarang, kita tidak diajari untuk fanatik, fanatik adalah sikap bejat. Dianggap tidak ada toleransinya, tidak menerima perbedaan, dan primordial, yakni mementingkan golongannya diatas golongan lain. Padahal, kalau beragama tidak fanatik, pasti mudah sekali disesatkan, kalau belajar tidak fanatik, maka yang kita dapat hanya keragu-raguan dan kesia-siaan, kalau berbangsa tidak fanatik, akan lebih mengelukan negara lain diatas negaranya.
Dahulu, kita diajari menghafal, kita diajari mengingat dengan baik dengan melekatkan baik-baik setiap pelajaran di kepala. Aduhai sekarang, itu dianggap ketinggalan zaman, padahal dahulu, kejayaan didapat dengan menghafal, Al-qur’an berjaya karena hafalan, sahabat-sahabat adalah para penghafal yang hebat. Sekarang, mereka diarahkan memahami pelajaran, cukup dipahami saja. Jadinya, anak-anak kita bukanlah orang yang hebat hafalannya, dan tidak kuat pula daya analitisnya. Hebat hafalan, berarti ada dasar pijakan untuk dianalisis, tidak ada hafalan, analitik hanya mengambang, lari-lari pembahasan, tidak ada dasarnya, dan mudah tersest jalannya.
Aduhai dulu, kurikulum kita sederhana saja, tidak ribetji penilaiannya, karena perilaku belajar itu esensinya tidak dinilai, tapi ditangani penyelesaiannya secara langsung, secara terus menerus. Kalau kita nakal bukan dicatat, tapi diingatkan, dihukum, kalau cemerlang kita dipuji, ditepuktangani, bukan dinilai di atas kertas. Sekarang Kurikulum baru itu, bikin pusing guru saja di proses administrasi, tdk ditekankan proses membelajarkan, di proses penanganan. Harus bagaimana kalau kondisi kelas sedang begini, kalau siswa sedang kondisi seperti ini, kalau mengajarkan materi ini. Aduhai ribet sekali k.13 itu, labil sekali RPP itu, tidak berpendirian dan berubah-rubah.
Sebagai guru, paling tidak sadar dulu, tahu dulu masalah, bahwa saat kita telah diserang dari berbagai arah. Kita telah didoktrin banyak oleh media yang entah dikendalikan oleh siapa itu. Pendidikan kita dalam kondisi genting, butuh diselamatkan oleh orang-orang yang tahu masalah, sadar diri, yang pembelajar.

Selasa, 31 Mei 2016

Cantik Itu Sakit



Oleh : Dhito Nur Ahmad

Aku mengenal pria itu dua bulan lalu. Dia datang bersama senja dan menyejukkan tubuhku dengan sinaran lembutnya. Betulkah dia mencintaiku? Entah. Yang kutau dia bilang mencintaiku, kemudian setelahnya melukaiku dengan teramat dalam. Bahkan menggelapkanku ke dalam bayangan hitam yang kelam, aku hampir saja tak mendapat petunjuk pulang setelah kejadian itu.
***
Sebuah hari yang tak sederhana, aku mengenalnya pada suatu hari yang tak kumengerti. Hari itu, aku telah mendapati diriku berada pada sebuah tempat bersamanya. Hanya kami berdua. Saat itu, masih sore. Masih kulihat cahaya matahari yang memantul di balik jendela wisma. Sepi, tak ada suara, hanya suara letupan jantung yang kurasa terasa merobek dada. Tentu saja kau telah tau apa yang telah kami perbuat saat itu.
Setelah itu, keadaan tambah senyap. Perasaan itu pun lenyap. Dia memintaku untuk melupakan semua kejadian itu. Aku pun tak ada pilihan lain selain menerima kejadian sore itu. Lalu kami, dia dan aku berpisah seolah tidak pernah terjadi apa pun, membawa sejuta penyesalan yang mungkin akan diratapi suatu saat nanti. Kawan!  inilah cinta dan kekasih yang pertama menyalamiku. Sesuatu yang banyak dipuja-puja jutaan manusia di bumi
Ceritanya sederhana. Aku, adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri di kotaku. Jauh sebelum aku di sini, aku adalah wanita kebanyakan di kampungku. Aku hidup jauh di pelosok kabupaten. Sebuah desa kecil yang damai, Bertani dan berkebun adalah aktifitas utama di desaku, termasuk ayahku. Meskipun begitu, desaku tergolong maju, masyarakatnya makmur. Mungkin seperti desa kebanyakan di kabupatenku, yang sedikit berbeda adalah adat dan kultur masyarakat di desaku yang mendapat pujian dari banyak kalangan. Desaku terkenal sebagai basis kultur islam yang kokoh, sebuah anugerah terindah yang di anugerahkan Allah kepada desaku. Tentu saja termasuk aku dan sanakku.
Aku besar di pesantren, dari TK sampai Madrasah Aliyah semua kuhabiskan di kampung halamanku sendiri. Belajar ilmu agama dan segala unsur pendidikan yang berlaku di pesantren. Semua menyenangkan, hidupku sangat ceria. Tapi itu dulu, dulu sekali ketika aku belum mengenal dunia secara luas.
Setamat Aliyah, adalah semacam ketakterdugaan ketika aku berkesempatan untuk kuliah di Makassar, kota pusat pendidikan dan peradaban modern di Indonesia timur. Tanah baru, suasana baru, dan tentunya dengan tantangan yang baru.
Maka, di sinilah aku sekarang. Berkenalan dengan langit dan tanah lain yang tak pernah kutemui di kampungku. Sangat mengasyikkan, lambat laun aku semakin merasakan sebuah perkembangan kehidupan. Kadang-kadang terbersit di pikiranku akan tidak enaknya kehidupanku dulu. Tak seperti sekarang, dulu tak pernah aku untuk sekedar jalan-jalan di mall, nontong di bioskop, atau sekedar ke tempat wisata yang indah dan menenangkan. Aku begitu merasakan kebebasan yang tak terhingga, tak ada lagi aturan ketat kampungku yang seakan memenjarakan, jilbab kutanggalkan, karena keadaan yang tak memungkinkan. Pun melihat teman-temanku melepas jilbabnya saat pulang kuliah. Sekarang baru kurasai semuanya. Wuuih..! hidup ini indah ternyata!
Semua berawal pada suatu hari. Aku masih ingat hari itu. Sore. 12 November 2010. Aku melihat sebuah gejolak yang resah pada kedalaman mata seorang lelaki. Saat itu dia memujiku cantik, wanita tercantik yang pernah ia lihat. Setelahnya, dia kemudian bilang mencintaiku dan menanyaiku perasaanku terhadapnya. Dan aku menolaknya, lalu pergi di hadapannya. Tapi, peristiwa itu tidaklah membuatnya menyerah, dia mengejarku dengan berbagai macam caranya. Dia sungguh perhatian terhadapku. Jika bertemu di kampus, dia selalu menggodaku, selalu bilang bahwa aku ini cantik.
Lalu betulkah aku cantik? Aku tidak tahu. Yang kutahu teman-temanku pun sering bilang begitu. Lalu hal apakah yang bisa kuambil dari kecantikan ini?
Sepekan setelahnya, aku berjumpa dengannya secara tak sengaja, di kos seorang kawan, matanya begitu dalam memandangiku, menembus jauh di relung hatiku. Dia mengenalkanku dengan suatu keadaan yang sama sekali asing buatku. Sore itu, hatiku telah ditaklukkannya tanpa perlawanan. Dia telah merubahku menjadi kekasihnya, laki-laki yang telah membuatku menjadi ember yang siap menampung apa pun yang ditumpahkan kepadaku. Aku sendiri tak tahu, senangkah aku dengan kejadian itu. Cintakah aku kepadanya? Entah! Yang jelas dia bilang cinta kepadaku, dan aku pun mengangguk pasti ketika sore itu dia menanyaiku hal serupa.
Di tempat itu lah kami sering duduk berdua. Menggunakan waktu yang telah tersedia untuk kami. Hari itulah kami larut dalam sebuah kenangan yang mungkin akan menjarahku seumur hidup. Kelarutan dihadapan kekasih adalah bayangan bau neraka yang menyengat, tapi itu nanti dirasakan pada saat kekasih itu telah tiada. Kurasai betul, bahwa sungguh tak mudah untuk hidup dalam dunia yang aneh ini. Aku, cinta, dan dosa cinta begitu tipis perantaranya, seperti berada dalam satu dunia yang sulit dipilah. Namun, itulah aku. Wanita kebanyakan abad ini. Wanita yang mungkin tak aneh di masa yang menjunjung tinggi budaya baru yang tak berpendirian.
Setelah itu kami berdua terhenyak. Dan mulai sama-sama perih dengan keadaan yang tak tertahankan. Semua menyayat, seakan mau membunuhku karena kubang penyesalan yang amat dalam.
Lalu, bencikah aku padanya? Cintakah aku padanya? Aku sungguh tak tahu apakah aku membencinya atau mencintainya, yang jelas dia pernah bilang mencintaiku.
Makassar, 2010

Jumat, 20 November 2015

Salam dari Makassar, Adik-Adik Maratua!

“Apakah ini gerangan yg sedang kurasakan?”

Ada suatu waktu saya merasa menjelma seorang pria yang tergila2 pada perempuan tionghoa bernama a ling dalam lagu crhistopher nelwan. Dunia seperti berputar, badanku gemetar. Seperti ada kupu2 menari, dalam dadaku. Tapi tidak, ini bukan cinta yang seperti itu, ini bukan kegilaan naïf itu. Ini tentang kenangan, sebuah lagu yg mengingatkanku pada satu episode terindah dalam hidup saya, pada sebuah tempat yang jauh, di pelosok Kalimantan.

Dan di malam ini, di malam sunyi ini, saya ingin sekali mengatakan…. bahwa saya rindu, sangat rindu, pada adik-adik saya di Maratua. Lalu saya menangis, benar-benar menangis. Laki2 memang boleh menangis, boleh bersedih, boleh tersentak, atas sebuah kenyataan pahit. Saat saya tersadar pada satu hal, bahwa jarak, saya dan kalian, telah jauh, betul2 jauh. Tidak ada lagi acara2 mengajar, tidak ada lagi kegiatan2 di dermaga, main2 volly di lapangan, dan jalan2 ke banyak tempat wisata. Aih, kalau rindu itu datang. Saya jadi benci perpisahan, sangat benci.

Saya mencintai kalian, bukan sebagai ikal mencintai a ling. Tapi seumpama ibu mus, pada si ikal. Di usia kalian yang menjelang remaja, yang orang bilang masa labil-labilnya dan belum punya pegangan hidup agar tak terombang-ambing, belum ada yang bersedia menjadi peganganmu, bahkan oleh dirimu sendiri. Selama ini tidak ada yang mengajarimu tentang realnya hidup, ilmu terkini yang kamu butuhkan, yang real, mendesak, dan sangat kamu butuhkan sekarang juga. Di daerah jauh dan pedalaman begitu, yg figure contoh positif belum banyak, yang mencontohkanmu harus bagaimana agar kamu baik2 saja saat sedang jatuh cinta, harus bagaimana kalau sedang bosan, sedang jatuh, atau diam-diam galau dan cemas tanpa sebab. Tidak, kamu mesti belajar sendiri, dunia tak mengajarkanmu, belum! Tapi selalu kukatakan dulu. jadikanlah segalanya adalah guru, tempat belajar. Temukanlah guru sebanyak2nya dalam hidup. Sering2lah kunjungi hatimu, temuilah ia dalam malam. Bacalah buku-buku terbaik, temukan teman2 terbaik, dan teladanilah hanya org2 baik. Tak pernah ada mantan guru dalam hidup, itu bukan jabatan, dia panggilan hati, pekerjaan jiwa.

Setiap orang memiliki cara untuk mengenang, setiap orang mempunyai saat2 tertentu dikepungi rindu. Lalu, seperti apa saya dikenang? Bagaimana saya dirindu? itu bagian personal kalian. Tapi bagi saya, ber-sm3t di maratua adalah 1 tahun episode kisah terindah dalam hidup. Sbuah kisah petualangan anak muda dengan segala dimensi yang kompleks. Memberiku segala proses yg dibutuhkan. Terimakasih atas setahun yang indah. Jauh di dalam lubuk hatiku, saya sangat menyayangi kalian. Tak pernah cukup segala ilmu, tak pernah cukup segala senyum dan cinta. Segala kisah bisa kita simpan, untuk kita ceritakan suatu nanti, saat berjumpa lagi, nanti.

Antara Makassar-Maratua, terbentang jarak. Jauh, jauh ke utara. Kesana segala rindu berarak, segala haru mengarah. Tak semua pesan sempat di balas, atas pertanyaan dari  kalian, yang hampir selalu sama: Apa kabar kak? Kapan kembali lagi ke pulau Kak? Malam ini, kujawab, dengan segala rindu dan haru bahwa saya Alhamdulillah selalu sehat, masih selalu baik2 saja, dan insha Allah, kalau Allah menghendaki, suatu nanti akan kembali ke maratua, meski sekedar jalan2, meski belum tau entah kapan. Salam dari Makassar, baik-baiklah selalu di sana, di pulau indah kalian!

Sincerely love, Dhito Nur Ahmad!