Pages

Rabu, 06 Agustus 2014

Kengerian di Televisi


(Persepsi Pribadi)

Saya sungguh berharap suatu nanti akan kembali ke alam, tanpa televisi, dunia yg orang sebut hiburan itu, yg –sungguh- mengeraskan hati itu, yang gemar menyajikan informasi menyesatkan itu.

Saya memang hanya bisa menulis, mengekspresikan penilaian melalui tulisan dan tak mampu melakukan yang lebih, semisal program tandingan, atau menggalang massa untuk menolak, juga kalau kukirimkan ke media pasti tak dimuat, pasti. Tapi tahukah? Sakit, sakit skali rasanya, saat melihat keponakan, adik, sepupu, tante, bahkan nenek saya yang telah sangat gemar tertawa (tidak pernahmi kayaknya menangis karena terharu), dihadapan acara tak bermutu, semisal fesbukers, dahsyat, yks, family100, dan yang semisalnya.  

Kualitas seseorang sangat ditentukan oleh 2 hal: kualitas bacaan dan tontonan. Dan pemerintah kalau benar-benar memihak rakyat (bkan pengusaha media) sebenarnya punya kesempatan dan tempat yang emas utk mencerdaskan melalui siaran TV -benahiki itu media kassian- ia harusnya benar-benar tahu mana siaran yang layak, yang boleh. Jangan justru kita diperlakukan seperti orang stress semua yang butuh hiburan berlebih.

Juga, mestinya, orang-orang pintar dinegeri ini, yang kita sebut pakar itu, atau ahli itu, tahu betul dampak dari sesuatu yang kita sebut hiburan itu, sesuatu yang tiap hari disuguhkan itu, yang selalu berusaha membuat ketawa itu. Bahwa sebenarnya, telah  menjadi alat perusak moral buat anak-anak dan remaja kita. Mengapa? (jawab sendirimi nah! -__-)

Kebanyakan hadir pula seorang sinis, seolah bijak padahal tak peduli “Kalau tak suka, yah gampang, tinggal pencet remot dan ganti chenel” masalahnya tak sesederhana ituki karaeng, masih banyak masyarakat kita yang tak tau memilih, tak tahu mana baik dan buruk, tak tahu memilih mana yg merusak anaknya mana tidak, bahkan ada pula tak tahu apa itu pilihan, mereka hanya diajarkan definisi memilih=mencoblos. Ada pula orang yang sedang ada masalah dgn kepalanya, lalu terhidang pula masalah di tv, semakin masalahlah ia. Dan yang terbanyak, orang yg telah sungguh tahu baik buruk tapi punya keputusan mengejutkan.

Okelah, tv itu dibutuhkan utk informasi. Sekedar itu saja, jangan dilebihkan dari kebutuhan. Tak usahmi 24 jam siarannya, tak perluji 5 kali sehari beritanya kalau selalu ituji diulang2 dan tidak adami lagi berita penting, tak usahmi tambah acara lagi kalau tidak adami lg acara baik-baik ditau. Kasian itu pemirsa kasian, dia tak tahu dia sedang menonton pembodohan, mmboroskan waktunya, dan menonton yang sia-sia. Pembodohan tragedi pilpres misalnya, sebenarnya ini bkn kemenangan rakyat, tapi kemenangan metrotv dan kekalahan tvone, orang2 kreatif dibalik media iniji yang sebnarnya yang paling banyak berperang, yang menggalang dukungan, menciptakan opini, yang bilang jangko kampanye hitam pdhal dia yang begitu, yg ingatkan org2 penting utk netral pdhal dia yg tidak, yg menyerukan pemilu damai pdhal dia yang pancing….

Mengerikan sekali itu televisi. Banyak siaran tak penting dan ambisi pribadi didalamnya. Disanami diajarkan demokrasi, definisi toleransi yang salah, juga ditanamkan dikepalanya org bahwa seksi itu boleh, islam tak larang. Dan masalah ini tak semudah ungkapan “tinggal pencet remot dan ganti chenel”. Ada tanggungjawab moral dan kode etik di dalamnya.
*DNA

Di Akhir Cerita*


Oleh: Dhito Nur Ahmad

Di akhir cerita, yang kulakukan hanyalah merelakan, menemukan dirimu di tempat biasa, mengelus-elus lembut rambut panjangmu, memeluk lehermu erat sambil menahan diri agar tak menangis. Lalu melihatimu berdiam di tempat pemotongan, diikat setelahnya, lalu berontak tak berdaya lantaran sesuatu telah digorokkan di lehermu. Pun, di akhir cerita ini, aku hanya bisa menangis.

Tapi hari ini, pagi-pagi sekali, kau masih berdiri di halaman rumah. Memakan remeh-temeh rumput yang sejak bertahun lalu selalu tumbuh di situ, dan bersedia menemanimu. Iballang, kudaku, masih juga seperti dulu, gagah perkasa, kuat dan pendiam.

Aku duduk di tangga rumah, melempar pandang sejauh mungkin: ke awan-awan langit, ke sawah di hamparan, dengan sungai yang berkelok di tengahnya. Sebentar lagi, kau akan pergi, dan kampung akan riuh. Orang-orang akan berpesta, keluarga terdekat akan datang, dan kau akan semakin menjauh. Ingin sekali rasanya aku mengajakmu ke hamparan sawah itu. Paling tidak di sana kita akan melepas rindu pada hamparan rumput di pematang, juga aliran air sungai yang selalu setia mengalir sejak dulu.

Ataukah kau juga sudah rindu teman masa kecil kita itu? Mari! Kita berkunjung lagi, Mengunjungi palung ingatan terjauh, kisah masa kecil, sesuatu yang bernama kenangan. Ketika aku mengajakmu ke sawah, mengusir pipit, berjalan di pematang. Bermain di sungai, mandi-mandi. Lalu aku akan makan bersama dengan anak gembala, dengan ubi dan jagung bakar hasil kebun. Lalu kita akan pulang menjelang senja, dan kau tetap setia menawarkan punggungmu untuk kutunggangi, melewati pematang yang melengkungi hamparan sawah luas yang menguning. Ah, kenangan!

“Tak perlu terlalu dipikirkanlah, Nak” suara Ayah tiba-tiba menimpali

“Tidak, Ayah.” Suaraku serak, sedikit menyembunyikan kesedihan.

Tak mungkinlah ia merasakan pesta desahan itu, tak mungkinlah ia bisa mengerti sesuatu yang ada dalam hatiku ini. Bahwa nanti, aku harus merelakan kuda kesayanganku, sahabat masa kecilku ini disembelih, lalu digunakan untuk berpesta. Tak tega.

Sejak sepekan lalu, rumah Daeng Simba telah dibanjiri orang. Orang kampung datang beramai-ramai, menggelar tikar di Paladang, bermain domino dan kartu reme. Sehari lagi pesta berlangsung, tiga hari kedepan kampung akan riuh. Orang akan berpesta, elekton sudah siap, panggung sudah didirikan, dan ballo’ sudah tertampung berbaskom-baskom di belakang rumah. Sebagai orang berada, juga merupakan keturunan karaeng. Merupakan sebuah aib jika tak ada pesta besar, tak kedengaran elok jika tak ada tiga ekor kuda besar yang dibariskan di halaman rumah sebelum disembelih untuk pesta pernikahan. Juga beberapa keluarga yang datang membariskan mobil di halaman.  

Yuly, gadis semata wayangnya. Telah siap dilepas bersama suaminya. Sejak sepekan lalu, ia tak diizinkan kemana-mana, dirumah saja, menghabiskan waktu di depan cermin, mempercantik diri, menatap ranjang baru yang terbuat dari kayu jati. Kasur dan sepreinya mungkin sudah diganti, lembut mewangi, menyejukkan hati sembari menunggu hari yang membahagiakan banyak orang itu.

 “Berapa uang?” begitu tanya Daeng Kebo, membuka percakapan malam ramai itu.

Daeng Simba tersenyum, tak banyak tingkah, berusaha merendah.

“Tidak banyak Nak. Hanya sedikit beras, uang dan perhiasan. Tak perlu banyak-banyak, asal ada pembeli asam dan garam.” Begitu ia katakan, sambil tersenyum tentu saja.

“Sedikitkah itu Karaeng? Lima kuintal beras, uang 50 juta, juga dengan 20 gram emas. Panaik yang setimpal, Karaeng.” Seru yang lain.

Mereka pun terdiam. Tak ada yang bermaksud bersuara, karena diam sudah cukup menjawab semuanya. Pun, sudah beberapa hari ini, orang-orang telah berkumpul di rumahnya, menggelar tikar di Paladang, makan bersama, bermain domino, minum kopi, juga kue-kue yang telah ia sediakan. Sudah tak tertakar jumlah biaya yang telah ia habiskan.  

Tak seperti bertahun lalu, kampung tempat lahirku ini tidak lagi senyap. Orang-orangnya masih sama, tapi budayanya sudah berbeda. Pernikahan. Acara tersakral yang pernah kulihat, kini tak lagi jadi acara suci untuk menyempurnakan agama, tapi menjadi budaya beribut-ribut, pertunjukan kelas sosial, juga pesta besar sebagai lambang kemakmuran sang empunya pesta.

Aku terdiam, terpaku sendiri di depan rumah. Menatapi Iballang, kuda perkasa itu. Teman sejak kecil. Aku menolak, tak setuju.

“Itu kuda terakhir kita, Ayah. Janganlah dijual pada Daeng Simba” sanggahku hari itu.

“Ayah sudah tua nak, tak sanggup lagi memelihara kuda ini. Semenjak kau kuliah, dan menghabiskan banyak waktu di kota. Ayah sendirilah yang harus menyabit rumput setiap pagi dan sore, untuk makan kudamu ini.”

“Pun, tak banyak lagi padang rumput di kampung ini, hampir semuanya telah berganti kebun, sawah, dan rumah penduduk.” Ia melanjutkan.

***

Banrimanurung, kampung kami, kampung yang terletak di ujung barat Jeneponto. Di sini, bertahun-tahun kami hidup sederhana, apa adanya, mengandalkan hasil sawah, kebun, dan peternakan. Dan damai, pun tak pernah menolak untuk memeluk rumah sederhana kami. Di sinilah, pusat pemeliharaan kuda, sejak dulu. Sejak aku bisa mengingat, kuda tak pernah lepas dari budaya kami. Hampir setiap rumah memelihara kuda. Kuda merupakan teman mandi di sungai, kendaraan pribadi saat bepergian jauh, tenaga pembajak sawah, kendaraan pengangkut hasil pertanian, dan juga punya daging yang enak saat pesta pernikahan atau sunatan.

Namun, sejak teknologi masuk kampung, populasi kuda makin menurun. Telah ada motor sebagai kendaraan bepergian, traktor untuk membajak sawah, dan mobil untuk mengangkut hasil pertanian. Peradaban pun telah hampir sepenuhnya berganti. Pekerjaan orang telah banyak yang beralih dan tak banyak lagi yang tertarik meneruskan memelihara kuda.  

Aku bersedih, hanya bisa bersedih. Dan di akhir cerita, yang kulakukan pun hanyalah merelakan, menemukan dirinya di tempat biasa, mengelus-elus lembut rambut panjangnya, memeluk lehernya erat sambil menahan diri agar tak menangis. Lalu melihatinya berdiam di tempat pemotongan, diikat setelahnya, lalu berontak tak berdaya lantaran sesuatu telah digorokkan di lehernya. Pun, di akhir cerita ini, aku hanya bisa menangis.

Makassar, 2014
*Harian Budaya, Fajar

 

Minggu, 25 Mei 2014

Paham!


Oleh: Dhito Nur Ahmad

Apa yang kau pahami tentang senyum yang terpasang di pinggir jalan?
Apa yang kau pahami tentang pepohon yang berbuah poster?
Apa yang kau pahami tentang artis-artis dari Jakarta?
Apa yang kau pahami tentang kotak-kotak  suara?
Apa yang kau pahami tentang gugatan ke MK?
Apa yang kau pahami tentang demokrasi?
Lalu                         
Apa yang kau pahami tentang Tuhan?
Bangkala Barat, 2014

Selasa, 06 Mei 2014

Kehadapan Liku Camba

Oleh: Dhito Nur Ahmad
Ke hadapan aliran Liku Camba, aku menggugat. Kemanakah kini anak-anak menghabiskan masa bermainnya? Dimanakah jernih dingin aliran sungai yang dahulu begitu indah? Juga nyanyi riang beburung di atas dahan? Kemana?
Di pinggirannya kini aku berdiri. Memandangi riak airnya yang dipermainkan angin, mengalir menembus celah lanra yang tumbuh liar di tepi sungai. Mendengarkan suara Ibu yang dahulu melarangku berenang terlalu jauh ke dalam sungai.
“Jangan jauh-jauh, Nak!”
Atau perkataan. “Tidak Boleh!”
“Kenapa, Bu?
“Airnya dalam, berbahaya!”
“Saya jago berenang Bu, tak usah khawatir.”
Kukatakan itu pada Ibu. Lalu, tanpa menunggu beliau menyahut lagi, aku segera berlari ke pinggir sungai, bergabung dengan teman-teman lain. Melompat ke sungai, berenang, bermain giri’-giri’. Itulah surga kenanganku, peristiwa yang tak pernah kulupa, bahkan selalu kurindukan sampai sekarang.
Sekarang, anak-anak sudah tak bersedia mandi-mandi sore di situ. Entah mengapa. Mungkin tak tertarik, atau aliran sungai itu tak lagi memesona mereka. Entah. Pun, telah banyak yang berubah. Di pinggiran sungai itu, pernah tumbuh pohon asam, lebat. Saking lebatnya, sebagian tubuhnya dikujurkan ketengah sungai dan menutupi separuh jembatan bambu yang melintang. Dulu di sanalah anak seumuranku menjadikannya tempat berlompat ke air, bermain giri-giri, sembari menunggu kerbau selesai mandi di bagian bawah sungai.
Sekarang orang-orang hanya lalu-lalang di situ. Tak pernah lagi kulihat ada anak bertelanjang dada, bermain giri’-giri’, atau sekedar singgah lalu melompat ke sungai. mereka hanya lewat, kebanyakan telah dengan mobil atau motor mereka, tak singgah, tak berminat. Paling-paling hanya melirik, melepaskan pandangan sejenak, berlalu, kemudian lewat lagi, melirik lagi. Begitu saja seterusnya.
Di sinilah kini aku berdiri. Mendengarkan Liku Camba bercerita. Apa yang ia katakan? Tidak ada. Tak terdengar. Hanya alirannya yang sedikit mempermainkan ingatan.
“Saat peradaban tumbuh, anak-anak lebih sibuk dengan tv, hp, dan playstation. Dan sungai, kehilangan rerimbun pohon, anak-anak, kerbau-kebau, dan ibu-ibu yang mandi dan mencuci baju.”
Begitu ceritanya.
Zaman telah memperlakukannya dengan kejam. Tidak lebih dari perampok, mengambil semua jejak kejayaan: saat airnya masih mengalir jernih, dan disanalah anak sekolah mandi pagi, lalu lewat saat pulang-pergi sekolah. Di sana pulalah para warga menangkap ikan, mencuci baju, memandikan kerbau. Bisa dibilang aktivitas warga tak terpisahkan dengan sungai ini.
“Sekarang, apa yang bisa dimaknai dari hp yang canggih, tv yang mengabarkan kekacauan, sawah yang ditumbuhi beton, dan playstation yang menggantikan petak umpet?”
“Tak lagi ada orang yang ngobrol tentang hujan semalam yang sangat deras, tentang tanaman padi yang disinggahi banyak burung pipit, atau tentang kerbau Daeng Sijaya yang kemarin melahirkan anak kembar dua. Zaman telah berbeda, orang lebih banyak bercerita tentang si Anu kemarin yang diputuskan sama pacarnya, tentang kawin cerai para artis, tentang pemilu yang sebentar lagi, tentang demonstrasi ricuh di ibu kota, atau tentang harga kedelai yang melambung.”
Ke hadapan aliran Liku Camba kuadukan semua itu. Apa yang ia katakan? Tidak ada. Tak terdengar. Hanya alirannya yang sedikit dipermainkan angin.
***
Masih segar di ingatan. Sepuluh tahun lalu, wajah kampungku sebagian besar masih bentangan sawah, sungai, dan hutan-hutan kecil yang melingkar. Di ujung timur, tepatnya di sebelah kanan tak jauh dari rumahku, masih membentang gagah Liku Camba, sebuah sungai jernih yang membentang dari Lompobattang sampai ke Teluk Bangkala. Di pinggiran sungai itulah saya menghabiskan masa kecil. Kusadari betapa beruntungnya diriku masih sempat menikmati kampungku yang indah dan subur. Di sanalah saya pernah keluyuran bersama teman sepermainan, berlayar dengan perahu bambu dari Silanu sampai ke Batuloe, bermain petak umpat di rawa-rawa, menjebak tekukur di pinggiran hutan. Jika siang tiba kami akan bermain di sungai, dan pulang dengan membawa ikan gabus.
Sekarang, tak ada lagi wajah Liku Camba yang gagah dan damai itu, dia telah berubah dan tak nyaman lagi ditempati bermain dan mandi-mandi. Pepohonan pun kian habis. Sawah dan rawa-rawa telah ditumbuhi rumah dan gedung bertingkat.
Hutan jati yang kukenal membentang sepanjang Bukit Leang-leang. Kini telah menjelma kebun jagung dan rumah-rumah. Kuingat betul, dahulu di sanalah biawak bersarang. Di pucuk pohon jati itu banyak sekali burung jalak dan bukkuru’ yang tinggal. Saya terkenang masa-masa berburu dahulu, di sana kami sering menangkap burung dengan menggunakan ketapel dan perangkap yang terbuat dari anyaman bulu ekor kuda. Terkadang juga hanya mengejutkannya yang sedang bertengger di pucuk pepohon, lalu terbanglah mereka bersamaan, memenuhi langit kampungku yang biru bersih. Sekarang, tak pernah lagi kulihat rombongan burung yang terbang di langit  kampungku.
Tak terasa waktu telah lama berjalan. Mengalir begitu saja, seperti aliran Liku Camba itu. Bertahun-tahun kutinggalkan kampungku lantaran melanjutkan pendidikan di kota. Bertahun pula kurindukan surga kenangan masa kecil yang pernah kuukir di kampung ini. Masih teringat nasehat Daeng Nuntung dahulu, juga nasehat para warga yang lain.
“Mandilah di sungai, tapi jangan pernah buang hajat di sana, Nak!”
“Kenapa Daeng?” tanya seorang teman.
“Sungai adalah sumber kehidupan kita, kebersihannya harus dijaga.” Jawabnya meyakinkan.
Pun Ibuku, pernah menasehatiku.
“Nak, jagalah sungai ini. Tak usah kau pelihara layaknya tanaman. Biarkan saja ia mengalir, pastikan ia bersih” begitu nasehatnya hari itu.
Jadinya, sepanjang ingatan, sungaiku dahulu sangatlah bersih. Tak pernah ada sampah plastik yang mengapung di atasnya, apalagi kotoran manusia. Paling hanya dedaun pohon, atau busa sabun yang berasal dari ibu-ibu yang mencuci.
Tapi kini, kesadaran yang seperti itu telah mulai hilang. Geliat zaman telah berhasil merampok kebiasaan bersih mereka, barangkali.
“Saat peradaban tumbuh, anak-anak lebih sibuk dengan tv, hp, dan playstation. Dan sungai, kehilangan rerimbun pohon, anak-anak, kerbau-kebau, dan ibu-ibu yang mandi dan mencuci baju.” Aliran Liku Camba bercerita.
Aku menggugat, ke hadapannyalah kini aku menggugat.
Bangkala Barat, 20 Maret 2014




Sabtu, 31 Agustus 2013

Tentang Demokrasi, PNS, dan Kematian


(kisah yang entah kebetulan atau tidak)
Malam itu (Selasa, 27 Agustus 13) saya mengunjungi rumah om saya yang terletak di BPH (Bumi Permata Hijau) Talasalapang. Namanya Ustads Hasan, saya sering memanggilnya Utadz. Beliau merupakan imam dan sekaligus tinggal di masjid kompleks tersebut. Bersama istri, dan seorang anaknya yang masih TK yang bernama Alim.
Malam itu kami mengobrolkan banyak hal (lebih tepatnya curhat). Saya tahu beliau adalah orang pintar, selain karena sekarang sudah hampir bergelar doktor di UIN, saya juga sering melihatnya tampil di TVRI, memandu acara diskusi bertemakan agama dan budaya atau membawakan berita berbahasa mandar (beliau adalah orang mandar).
Mula-mulanya, kami membicarakan tentang efek-efek demokrasi yang sudah muncul sekarang, (lebih banyak tentang pemilu bupati di daerah saya –Jeneponto- yang akan berlangsung September nanti). Dan kami sama-sama setuju bahwa demokrasi itu merusak tatanan budaya tradisi yang telah dibangun bertahun-tahun. Saya pun lantas berkata bahwa dulu masih seringka lihat orang bergotong-royong membangun rumah, saling senyum kalau bertemu di jalan, saling hormat dan menghargai, tapi sekarang karena seringmi terjadi pemilu tidak seperti itumi, makin banyakmi orang bumbeknya karena beda pilihan. Makin seringmi orang menipu, dan yang tertipu makin banyak tongmi. Tidak ditaumi mana yang mau diikuti, napejabat pemerintah dia paling jago menipu. Dia hanya tertawa, kemudian menjelaskan dengan rinci idealnya sebuah demokrasi. Dia pun mencontohkan dengan kisah tentang pnglamannya waktu tnggal di Amerika. Bgaimana gaya demokrasi mereka. Meski begitu, tetap saja kami tidak beroleh solusi.
Entah bagaimana ceritanya kami tiba-tiba langsung membicarakan tentang pendaftaran pns. Dan didepannya saya mengakui bahwa sekarang sudah adami yang tawarika akan nauruskan pndaftaran PNS dengan bayaran 60 juta (didaerah tetangga kabupatenku), tapi tidak mauka terima, karena percaya masih bisaja bersaing. Dia tersenyum, yang paling kuingat adalah nasehatnya ke saya, bahasanya mengena pas di hati: To, pertahankanki itu idealis, selamatkanki itu agama. Percayakanmi pada Tuhan, biar tongmaki jadi tukan kebun, asal itumi kebenaran, asal itumi kejujuran. Suatu nanti, kalo jadi PNSki dari hasil uang begitu, hati kita tidak akan bisa puas, tidak akan pernah merdeka, tidak bisamaki (juga) nasehati orang. Orang yang setia pada kebenaran itu suatu saat akan dibutuhkan, dan kamu juga orangnya pintar (dia bilangi saya pintar), pasti bisaji tanpa sogokan. Satu lagi: kematian itu sangat kuat.
Terkejutka langsung, kenapa tiba-tiba menyebut kematian (padahal kalau dipikir-pikir tidak ada hubungannya). Beralih topikka, saya pun bertanya tentang pekerjaannya sebagai pemandu pada acara diskusi TV, siapa-siapa saja tokoh yang pernah dia wawancarai (saya berharap dia menyebut nama pak Ahyar). Tapi dia tidak sebut nama pak Ahyar. Pernahka suatu ketika bertanya: pernahki duduk bersama pak Ahyar diskusi di TV? (dia sudah tau bahwa Pak Ahyar itu dosen saya). Dia bilang belum tapi saling kenal dan pernah bertemu. Dia melanjutkan: pengamat memang dia, jadi pintar. sayapun mengiyakan, dia memang pintar, juga stailis, kubilang. 
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sudah jam 10 malam, dan kami harus mengakhiri pembicaraan bertopik liar ini. Sebelum saya meninggalkan rumahnya, ia sempatkan memberiku kalimat propokatif: tidak perlu menjadi singa untuk jadi raja, cukup menjadi kuda diantara para sapi.
Sesampaiku di koss, saya sempatkan membuka akun facebook saya, niatnya hendak menulis dan mensheerkan status tentang nasehat Utads tersebut. Dan…. Saya sungguh terkejut seperti tersengat kalajengking, saat mendapati hampir semua status yang tampil merupakan ucapan berduka cita atas berpulangnya ke rahmatullah tokoh yang barusan kubicarakan: Pak Ahyar. Innalillahiwainnailaihirajiuun. Tanpa sadar air mataku meleleh, lama sekali saya terpaku, merenung, dan tak bisa tidur….. benar Utads, kematian memang sangat kuaaat.

Jumat, 19 April 2013

sesuatu yang…. Alhamdulillah…




Alhamdulillah. Tunai sudah amanah untukmenyelesaikan studi jenjang S1. Setelah bertahun-tahun berjuang, berduka-ria, terlunta,dengan semangat kembang-kempis. Akhirnya, Alhamdulillah…. Sebuah impian yangdulu hampir mustahil terjadi…

Sebuah kesyukuran tertinggi. Allah perkenankansaya menginjakkan kaki dan menghirup berupa-rupa warna di Universitas.Mempertemukan saya dengan sosok-sosok luarbiasa, dan bergabung bersama orang-orangbaik yang menginspirasi. Dan sekarang, Dia perkenankan pula saya keluar di UNMdengan bangga, dengan wajah berseri.
Terima kasih, buat Ibuku, ayahku, beserta keempat saudaraku, yang telah mencurahkan segala cinta, motivasi, dan doa kesuksesan kepadaku.

Juga buat kawan-kawan seperjuangan. Terutamabuat sahabat terbaikku Ramli, Abhu, Nas, Ibenk, Asis Aji, Wahda, Tini, Tina, dan Ancha. Terima kasih ataswarna indah yang telah diberikan untukku Kawan! Sungguh sebuah anugerah yangakan selalu kuingat, kurindukan, dan akan menemani hari tuaku nantinya. Selamat berjuang,perjalanan masih panjang, kutunggu kabar sukses dari Kalian.

Terima kasih juga atas kebersamaan, senyum, dan kisah indah yang telahdiukir bersama buat semua kawan-kawan seangkatan (Inhar,Lina, Azis, Ulfa, Echa, Suparman, Rudi, Syarif, Uya, Abrar, Anas, Adhy, Ardhy,dan kawan lain yg tak mungkin kusebutkan satu-satu). Kebersamaanselama ini akan menjadi kenangan terindah yang tidak akan kulupakan, salam ukhuwah dan tetap semangat.

Yang tak terlupakan, kawan-kawan seperjuangansaat masa-masa konsultasi skripsi, kawan tertawa saat yudisium dan ramahtamahfakultas (Ahmad, Wiwies, Wiwindah, Aswyati, Nina, Irma, Thuty, Nurkholish,Iqbal, Misna, Isra, Heriah, Haerunnisa, Sri Ayu, dan kawan lain yang hanya kenal muka ;)  ). Aku sungguh berharap ini bukanlah akhir dari kebersamaan kita, tapimasih ada hari lain yang lebih indah, lebih seru, dan lebih romantis :) untuk kita tempati saling bercerita dan terbahak bersama. Ingat,silaturahmi dan komunikasi jangan putus.

selanjutnya, buat kawan-kawan yang saat ini sementaraberjuang menyelesaikan skripsinya…. Selamat berjuang. Semangat.….. Fastabikhulkhoirot….

Salam bahagia dariku!
(DNA) 

Kamis, 07 Maret 2013

Kisah Buat Langit

(Refleksi Akhir Studi)


“Sehebat apapun seorang pria, pria manapun itu, lihatlah, selalu ada wanita manis di dekatnya, mendampinginya. Karena hidup tidak pernah sempurna untuk dijalani seorang diri” (Anonim)
Ahhaaay..... Kalau itu ditarik ke kehidupanku, siapakah wanita manis itu? Orang jawakah? Orang Bugiskah? Orang Makassarkah? Atau jangan-jangan orang sekampungku sendiri!? Hohoh. Aku tak pernah tau, hanya Dia yang maha tahu. Semuanya telah tertulis di perkamen rahasia di atas sana. Hanya saja, aku ingat, aku selalu berharap (dan semoga begitu) dia adalah orang terbaik yang dianugerahkan Allah kepadaku.
Aku tahu, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, demikian juga sebaliknya. Aku sadar, manusia akan dipertemukan dengan orang yg sekualitas dengannya. Lalu bagaimana dgnku, bagaimana kualitas rupa dan diriku? Aah, aku malu mengatakannya padamu kawan, aku. Seorang manusia kebanyakan, manusia yang sangat biasa, bahkan terlalu biasa. Hanya saja aku tak mau mengidentikkan diriku dengan manusia-manusiaan seperti yang pernah dikatakan dosen sastraku, tidak, aku tidak mau kawan. Aku. Seorang yang berasal dari sebuah keluarga yang berpenghasilan rendah, keluarga sederhana - kalau tidak mau dikatakan miskin- yang sedang mengais kepercayaan diri dari lingkungannya, yang menyusun rencana untuk dapat sekolah, meski hanya bermodal nekad, do’a dan sedikit harap.
Rupa? Ah, rasanya ini lebih memalukan untuk diperkatakan. Tapi biar, biar kawan tahu. Aku selalu merasa cermin di kamarku itu selalu berbohong kepadaku. Makanya aku tak pernah menyukainya. Dialah yang mengatakannya padaku bahwa aku tak pernah gagah, jelek, jelek sekali, tapi entah, atau barangkali hanya cermin di kamarku itu yang telah membohongiku, aku berharap begitu, sangat berharap.
Yah, waktu telah bergulir lama sekali di hadapanku. 23 tahun. Berupa-rupa peristiwa telah menjumpaiku, aku telah berkenalan dengan banyak hal, berjabat dengan berupa-rupa warna kehidupan. Dan dari serentetan warna itu hal apa yang bisa kuambil sebagai pelajaran? Aku malu kawan, malu sekali, bahwa telah bertahun-tahun aku hidup, telah berpuluh tahun aku sekolah, dan lihatlah aku hari ini, mengenal diriku saja aku belum bisa.
Aku malu. Waktu telah berganti, dari detik, ke menit, ke hari, ke pekan, ke bulan, ke tahun, dan sampai pada ke 23 tahun umurku hari ini. Telah banyak hal yang berganti, presiden telah berganti, gubernur telah berganti, bupati di kabupatenku telah banyak kali berganti, gelarkupun sudah berganti, tetapi sepertinya isi kepalaku belum berganti.
Aku malu. Bahwa meratapi apa yang telah terjadi hanya sebuah kebodohan. Bahwa menyiksa diri dalam kubangan penyesalan hanya berakibat pada kekesalan pada diri sendiri. Toh, semua telah berlalu, telah habis dimakan waktu.
Kawan, aku tak hendak mengatakan bahwa aku tengah galau dengan kesendirianku sekarang, tidak. Aku hanya merasa tengah menyia-nyiakan banyak sekali waktuku. Berpuluh tahun kawan, 5 hari lagi genaplah 24 jatah umur yang telah kuhabiskan, entah berapa lagi jatah umur yang disimpankan Tuhan untukku. Entah bagaimanakah akan kuhabiskan sisa usiaku? Masihkah seperti hari-hari kemarin? Entah.
Sekarang. Aku tengah menanggung beban berat. Bagaimanapun, sarjana, di mata orang adalah orang yang pintar, orang ahli di bidangnya, sementara aku? Ahh…. Aku tak tahu, dengan bagaimana kan kutanggung beban yang di letakkan di pundakku itu.
Tuhan….. aku tak tahu bagaimana.
Sementara, tahu kah kawan? hatiku, selalu menuntut untuk menjadikan diriku orang yang layak diperhatikan oleh langit. Manusia yang manusia, bukan manusia-manusiaan. Laki-laki yang laki-laki jiwa raganya.
Malam ini, pada kisah yang kawan baca ini, anggap saja aku tengah berkisah pada langit. Kawan tau kan? Tak banyak manusia yang bisa dipercaya di masa ini. Makanya, langit adalah kawan paling perhatian yang kupunya. Kuharap, langit tak pernah bosan dengan kisah-kisahku…..
D. N. Ahmad
Makassar, 7 Maret 2013….