Pages

Sabtu, 31 Agustus 2013

Tentang Demokrasi, PNS, dan Kematian


(kisah yang entah kebetulan atau tidak)
Malam itu (Selasa, 27 Agustus 13) saya mengunjungi rumah om saya yang terletak di BPH (Bumi Permata Hijau) Talasalapang. Namanya Ustads Hasan, saya sering memanggilnya Utadz. Beliau merupakan imam dan sekaligus tinggal di masjid kompleks tersebut. Bersama istri, dan seorang anaknya yang masih TK yang bernama Alim.
Malam itu kami mengobrolkan banyak hal (lebih tepatnya curhat). Saya tahu beliau adalah orang pintar, selain karena sekarang sudah hampir bergelar doktor di UIN, saya juga sering melihatnya tampil di TVRI, memandu acara diskusi bertemakan agama dan budaya atau membawakan berita berbahasa mandar (beliau adalah orang mandar).
Mula-mulanya, kami membicarakan tentang efek-efek demokrasi yang sudah muncul sekarang, (lebih banyak tentang pemilu bupati di daerah saya –Jeneponto- yang akan berlangsung September nanti). Dan kami sama-sama setuju bahwa demokrasi itu merusak tatanan budaya tradisi yang telah dibangun bertahun-tahun. Saya pun lantas berkata bahwa dulu masih seringka lihat orang bergotong-royong membangun rumah, saling senyum kalau bertemu di jalan, saling hormat dan menghargai, tapi sekarang karena seringmi terjadi pemilu tidak seperti itumi, makin banyakmi orang bumbeknya karena beda pilihan. Makin seringmi orang menipu, dan yang tertipu makin banyak tongmi. Tidak ditaumi mana yang mau diikuti, napejabat pemerintah dia paling jago menipu. Dia hanya tertawa, kemudian menjelaskan dengan rinci idealnya sebuah demokrasi. Dia pun mencontohkan dengan kisah tentang pnglamannya waktu tnggal di Amerika. Bgaimana gaya demokrasi mereka. Meski begitu, tetap saja kami tidak beroleh solusi.
Entah bagaimana ceritanya kami tiba-tiba langsung membicarakan tentang pendaftaran pns. Dan didepannya saya mengakui bahwa sekarang sudah adami yang tawarika akan nauruskan pndaftaran PNS dengan bayaran 60 juta (didaerah tetangga kabupatenku), tapi tidak mauka terima, karena percaya masih bisaja bersaing. Dia tersenyum, yang paling kuingat adalah nasehatnya ke saya, bahasanya mengena pas di hati: To, pertahankanki itu idealis, selamatkanki itu agama. Percayakanmi pada Tuhan, biar tongmaki jadi tukan kebun, asal itumi kebenaran, asal itumi kejujuran. Suatu nanti, kalo jadi PNSki dari hasil uang begitu, hati kita tidak akan bisa puas, tidak akan pernah merdeka, tidak bisamaki (juga) nasehati orang. Orang yang setia pada kebenaran itu suatu saat akan dibutuhkan, dan kamu juga orangnya pintar (dia bilangi saya pintar), pasti bisaji tanpa sogokan. Satu lagi: kematian itu sangat kuat.
Terkejutka langsung, kenapa tiba-tiba menyebut kematian (padahal kalau dipikir-pikir tidak ada hubungannya). Beralih topikka, saya pun bertanya tentang pekerjaannya sebagai pemandu pada acara diskusi TV, siapa-siapa saja tokoh yang pernah dia wawancarai (saya berharap dia menyebut nama pak Ahyar). Tapi dia tidak sebut nama pak Ahyar. Pernahka suatu ketika bertanya: pernahki duduk bersama pak Ahyar diskusi di TV? (dia sudah tau bahwa Pak Ahyar itu dosen saya). Dia bilang belum tapi saling kenal dan pernah bertemu. Dia melanjutkan: pengamat memang dia, jadi pintar. sayapun mengiyakan, dia memang pintar, juga stailis, kubilang. 
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu, sudah jam 10 malam, dan kami harus mengakhiri pembicaraan bertopik liar ini. Sebelum saya meninggalkan rumahnya, ia sempatkan memberiku kalimat propokatif: tidak perlu menjadi singa untuk jadi raja, cukup menjadi kuda diantara para sapi.
Sesampaiku di koss, saya sempatkan membuka akun facebook saya, niatnya hendak menulis dan mensheerkan status tentang nasehat Utads tersebut. Dan…. Saya sungguh terkejut seperti tersengat kalajengking, saat mendapati hampir semua status yang tampil merupakan ucapan berduka cita atas berpulangnya ke rahmatullah tokoh yang barusan kubicarakan: Pak Ahyar. Innalillahiwainnailaihirajiuun. Tanpa sadar air mataku meleleh, lama sekali saya terpaku, merenung, dan tak bisa tidur….. benar Utads, kematian memang sangat kuaaat.

Jumat, 19 April 2013

sesuatu yang…. Alhamdulillah…




Alhamdulillah. Tunai sudah amanah untukmenyelesaikan studi jenjang S1. Setelah bertahun-tahun berjuang, berduka-ria, terlunta,dengan semangat kembang-kempis. Akhirnya, Alhamdulillah…. Sebuah impian yangdulu hampir mustahil terjadi…

Sebuah kesyukuran tertinggi. Allah perkenankansaya menginjakkan kaki dan menghirup berupa-rupa warna di Universitas.Mempertemukan saya dengan sosok-sosok luarbiasa, dan bergabung bersama orang-orangbaik yang menginspirasi. Dan sekarang, Dia perkenankan pula saya keluar di UNMdengan bangga, dengan wajah berseri.
Terima kasih, buat Ibuku, ayahku, beserta keempat saudaraku, yang telah mencurahkan segala cinta, motivasi, dan doa kesuksesan kepadaku.

Juga buat kawan-kawan seperjuangan. Terutamabuat sahabat terbaikku Ramli, Abhu, Nas, Ibenk, Asis Aji, Wahda, Tini, Tina, dan Ancha. Terima kasih ataswarna indah yang telah diberikan untukku Kawan! Sungguh sebuah anugerah yangakan selalu kuingat, kurindukan, dan akan menemani hari tuaku nantinya. Selamat berjuang,perjalanan masih panjang, kutunggu kabar sukses dari Kalian.

Terima kasih juga atas kebersamaan, senyum, dan kisah indah yang telahdiukir bersama buat semua kawan-kawan seangkatan (Inhar,Lina, Azis, Ulfa, Echa, Suparman, Rudi, Syarif, Uya, Abrar, Anas, Adhy, Ardhy,dan kawan lain yg tak mungkin kusebutkan satu-satu). Kebersamaanselama ini akan menjadi kenangan terindah yang tidak akan kulupakan, salam ukhuwah dan tetap semangat.

Yang tak terlupakan, kawan-kawan seperjuangansaat masa-masa konsultasi skripsi, kawan tertawa saat yudisium dan ramahtamahfakultas (Ahmad, Wiwies, Wiwindah, Aswyati, Nina, Irma, Thuty, Nurkholish,Iqbal, Misna, Isra, Heriah, Haerunnisa, Sri Ayu, dan kawan lain yang hanya kenal muka ;)  ). Aku sungguh berharap ini bukanlah akhir dari kebersamaan kita, tapimasih ada hari lain yang lebih indah, lebih seru, dan lebih romantis :) untuk kita tempati saling bercerita dan terbahak bersama. Ingat,silaturahmi dan komunikasi jangan putus.

selanjutnya, buat kawan-kawan yang saat ini sementaraberjuang menyelesaikan skripsinya…. Selamat berjuang. Semangat.….. Fastabikhulkhoirot….

Salam bahagia dariku!
(DNA) 

Kamis, 07 Maret 2013

Kisah Buat Langit

(Refleksi Akhir Studi)


“Sehebat apapun seorang pria, pria manapun itu, lihatlah, selalu ada wanita manis di dekatnya, mendampinginya. Karena hidup tidak pernah sempurna untuk dijalani seorang diri” (Anonim)
Ahhaaay..... Kalau itu ditarik ke kehidupanku, siapakah wanita manis itu? Orang jawakah? Orang Bugiskah? Orang Makassarkah? Atau jangan-jangan orang sekampungku sendiri!? Hohoh. Aku tak pernah tau, hanya Dia yang maha tahu. Semuanya telah tertulis di perkamen rahasia di atas sana. Hanya saja, aku ingat, aku selalu berharap (dan semoga begitu) dia adalah orang terbaik yang dianugerahkan Allah kepadaku.
Aku tahu, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, demikian juga sebaliknya. Aku sadar, manusia akan dipertemukan dengan orang yg sekualitas dengannya. Lalu bagaimana dgnku, bagaimana kualitas rupa dan diriku? Aah, aku malu mengatakannya padamu kawan, aku. Seorang manusia kebanyakan, manusia yang sangat biasa, bahkan terlalu biasa. Hanya saja aku tak mau mengidentikkan diriku dengan manusia-manusiaan seperti yang pernah dikatakan dosen sastraku, tidak, aku tidak mau kawan. Aku. Seorang yang berasal dari sebuah keluarga yang berpenghasilan rendah, keluarga sederhana - kalau tidak mau dikatakan miskin- yang sedang mengais kepercayaan diri dari lingkungannya, yang menyusun rencana untuk dapat sekolah, meski hanya bermodal nekad, do’a dan sedikit harap.
Rupa? Ah, rasanya ini lebih memalukan untuk diperkatakan. Tapi biar, biar kawan tahu. Aku selalu merasa cermin di kamarku itu selalu berbohong kepadaku. Makanya aku tak pernah menyukainya. Dialah yang mengatakannya padaku bahwa aku tak pernah gagah, jelek, jelek sekali, tapi entah, atau barangkali hanya cermin di kamarku itu yang telah membohongiku, aku berharap begitu, sangat berharap.
Yah, waktu telah bergulir lama sekali di hadapanku. 23 tahun. Berupa-rupa peristiwa telah menjumpaiku, aku telah berkenalan dengan banyak hal, berjabat dengan berupa-rupa warna kehidupan. Dan dari serentetan warna itu hal apa yang bisa kuambil sebagai pelajaran? Aku malu kawan, malu sekali, bahwa telah bertahun-tahun aku hidup, telah berpuluh tahun aku sekolah, dan lihatlah aku hari ini, mengenal diriku saja aku belum bisa.
Aku malu. Waktu telah berganti, dari detik, ke menit, ke hari, ke pekan, ke bulan, ke tahun, dan sampai pada ke 23 tahun umurku hari ini. Telah banyak hal yang berganti, presiden telah berganti, gubernur telah berganti, bupati di kabupatenku telah banyak kali berganti, gelarkupun sudah berganti, tetapi sepertinya isi kepalaku belum berganti.
Aku malu. Bahwa meratapi apa yang telah terjadi hanya sebuah kebodohan. Bahwa menyiksa diri dalam kubangan penyesalan hanya berakibat pada kekesalan pada diri sendiri. Toh, semua telah berlalu, telah habis dimakan waktu.
Kawan, aku tak hendak mengatakan bahwa aku tengah galau dengan kesendirianku sekarang, tidak. Aku hanya merasa tengah menyia-nyiakan banyak sekali waktuku. Berpuluh tahun kawan, 5 hari lagi genaplah 24 jatah umur yang telah kuhabiskan, entah berapa lagi jatah umur yang disimpankan Tuhan untukku. Entah bagaimanakah akan kuhabiskan sisa usiaku? Masihkah seperti hari-hari kemarin? Entah.
Sekarang. Aku tengah menanggung beban berat. Bagaimanapun, sarjana, di mata orang adalah orang yang pintar, orang ahli di bidangnya, sementara aku? Ahh…. Aku tak tahu, dengan bagaimana kan kutanggung beban yang di letakkan di pundakku itu.
Tuhan….. aku tak tahu bagaimana.
Sementara, tahu kah kawan? hatiku, selalu menuntut untuk menjadikan diriku orang yang layak diperhatikan oleh langit. Manusia yang manusia, bukan manusia-manusiaan. Laki-laki yang laki-laki jiwa raganya.
Malam ini, pada kisah yang kawan baca ini, anggap saja aku tengah berkisah pada langit. Kawan tau kan? Tak banyak manusia yang bisa dipercaya di masa ini. Makanya, langit adalah kawan paling perhatian yang kupunya. Kuharap, langit tak pernah bosan dengan kisah-kisahku…..
D. N. Ahmad
Makassar, 7 Maret 2013….

Kamis, 03 Januari 2013

Pacaran: antara Kenormalan dengan Pelanggaran


Berpacaran, ahhaay.... sebuah topik yang selalu menarik untuk dibahas, selalu menggoda untuk dibicarakan, dan selalu kontroversial dalam setiap pandangan orang. Ada yang mengatakan ini adalah sebuah kenormalan, sangat wajar, alamiah, dan justru orang yang tidak berpacaranlah yang tidak normal, karena tidak ada naluri biologis yang alamiah itu dalam dirinya. Namun ada juga yang mengatakan berpacaran itu sebuah ketidaknormalan, karena tidak ada sesuatu dalam dirinya yang bisa mengontrol nafsu biologisnya yang liar. Ini mengindikasikan bahwa berpacaran identik dari berbagai pelanggaran dari banyak aspek kehidupan, baik dari segi kemanusiaan, budaya, sosial, biologis, dan terutama agama.
Baiklah, itu akan kita bahas secara sederhana dalam tulisan ini. Kita akan bersama menganalisis mengapa keinginan berpacaran itu normal (sangat normal malah) dan mengapa berpacaran itu identik dengan pelanggaran. Seperti kita tahu bersama, maksudku sebagian (bagi yang tahu), bahwa cinta itu adalah bagian dari fitrah, bahkan orang yang tidak memiliki naluri mencintai itu bukan manusia namanya, barangkali mahluk lain yang bukan manusia, entah mahluk apa namanya. Namun, segala sesuatu yang baik itu ada penyakitnya, seperti: penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya', penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri, penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian, penyakit tampan adalah sombong, penyakit bangsawan adalah membanggakan diri, penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah menyombongkan diri, penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah, dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan (H. R. Ali R.A.)
Lalu bagaimana dengan cinta dan berpacaran itu? Di mana letak penyakitnya? Ah, rasanya tak perlu saya jawab, karena saya juga tidak tahu.... heheheh
Baiklah.... biar kukatakan padamu pendapatku tentang berpacaran ini kawan....
Dari aspek budaya.... jelas-jelas ini bukan kebudayaan kita. Maksudku bukan berasal dari falsafah hidup kebugismakassaran kita. Tengoklah sejarah. Adakah budaya berpacaran itu menjadi sebuah budaya yang dipuja-puja moyang kita? Justru perkara cinta dan berpacaran ini menjadi siri tertinggi manusia bugis makassar, sebuah pelanggaran tertinggi yang dimana pelanggarnya harus menukar dengan nyawanya. Nah, disinilah titik-baliknya, sekarang berpacaran menjadi kebudayaan baru yang sebetulnya bukan punya kita, tapi kebudayaan orang yang merasuki kebudayaan kita.
Dari segi kecerdasan, orang berpacaran itu biasanya selalu melarutkan dirinya dalam situasi kasmaran. Nah, disitulah logika akan lumpuh, mata dan telinga menjadi buta dan tuli, buta dari kebenaran dan tuli dari nasehat baik. Orang yang logikanya lumpuh pasti tidak akan bisa menangkap apa-apa, dia tidak bisa mempelajari hal apapun, tidak bisa berkonsentrasi, dan akhirnya menjadi bodoh.
Dari segi pergaulan sosial, orang berpacaran cenderung terbawa arus, ngalir, orang yang ngalir cenderung mengikuti apa saja yang trend, tidak memiliki kekuatan untuk melawan arus, dan akhirnya akan jatuh dipembuangan. Secara kemanusiaan, ini tentu saja tidak manusiawi, bahkan cenderung ke hewaniawi, mengapa? Karena nafsu, berpacaran identik dengan nafsu, yang kalau semakin diperturutkan akan selalu meminta yang lebih. Nah, kalau sudah demikian, pembeda antara hewan dan manusia itu menjadi makin menipis. Dan ini tentu saja menurunkan derajat kemanusiaan. Anak yang tak berdosa menjadi korban dan merentetlah kemudian tindakan aborsi, pembunuhan anak bayi, ah kawan pasti sering mendengarlah kejadian seperti itu di tv. Lalu bagaimana secara medis? Kawan tentu kenal penyakit berbahaya HIV/AIDS bukan? Nah, itu penyebabnya diawali dari pergaulan bebas semua itu, yang biasanya diawali dari embel-embel berpacaran.
Dari aspek biologis, kita semua, maksudku yang normal, tentunya dianugerahi nafsu biologis yang sangat alamiah. Kita diberi rasa cinta, sayang, marah, rindu, benci, suka, dan rasa-rasa  lainnya yang apalah namanya, yang jelas kalau rasa strawberyy, bukan. Nah, tentu saja sangat tidak seru hidup di dunia ini kalau rasa-rasa itu tidak naik turun. Ada suatu ketika rasa itu akan membuncah-buncah, mengharu-biru, bikin sakit kepala, lalu surut seperti tak punya rasa, dingin, datar, dan membosankan. Tentu saja bukan cinta namanya kalau tidak begitu, mungkin cinta itu takkan ada, atau paling tidak akan menjadi hambar, kurang menggigit, tidak menggelisahkan, tidak bikin cemburu, tidak misterius. tidak asyik.
Tentu saja kita sepakat bukan bahwa semua itu adalah anugerah? Dan anugerah itu layaknya untuk disyukuri, dan cara menyukurinya itu dengan memperlakukannya sebaik-baiknya agar tidak sampai anugerah itu justru menjadi perusak kehidupan kita. Agar tidak merusak, tentu saja perlu dikontrol, dan satu-satunya yang menyediakan solusi dan aturan kontrol dari itu semua adalah AGAMA ISLAM, satu-satunya kawan, ingat, satu-satunya. Agama kita telah menyediakan aturan main agar cinta itu tetap suci, tetap indah, tetap menggigit, tetap menggelisahkan, tetap bikin cemburu, tetap misterius, tetap asyik, dengan tak lupa menyediakan penyaring untuk menapis segala ampasnya yang rada-rada kotor.
Dan bersyukurlah orang yang diberi rasa cinta bisa menyikapi cintanya dengan tepat. Mengapa? Karena sangat berpeluang menulikan dan membutakan. Islam tidak pernah melarang dan mengekang manusia dari rasa cinta, tidak pernah kawan, tidak pernah, justru islamlah yang mengatur agar dengan cinta itu manusia tidak menjatuhkan martabat dan kehormatannya sebagai manusia.  
Lalu, Bagaimana sikap kita? Apakah kita menganggap berpacaran adalah sikap normal atau sebuah pelanggaran? (D. N. Ahmad)

Merantaulah


Oleh : Imam Asy-Syafi'i
Orang pandai dan beradab
tak kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah! 'kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia 'kan keruh menggenang

Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran
Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
Kayu gahru tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan          
Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan

Kamis, 27 Desember 2012

Puisi Untukmu Kawan....


Puisi untukmu kawan
Semoga....... kau senang, kau bahagia
Nanti, aku ingin berkunjung ke kotamu
Semoga kau masih mengenalku

Puisi untukmu kawan
Kubuat hanya untukmu saja
Semoga.... kau senang kau bangga
Nanti, semoga masih ada waktu untuk bercerita
Tentang waktu yang mengalir ditepian hari kita

Puisi buatmu kawan,
Semoga.... kau senang kau riang
Nanti, kita masih akan bernyanyi bersama
Pada bayang indah kenangan
Biar melipur dan menusuk hati

Barangkali nanti, takkan lagi ada puisi tentang kita, kawan
Karena hanya sepi yang akan menari di hari kita
Dan angin yang takkan lagi membawa kabar hidupmu
Pun hari yang tak menyediakan waktu untuk bersama
Meski hanya bercerita, tentang kenangan di lorong kampus kita

Kawan, di sinilah, di kampus kita
Kita pernah bersama mengeja kata cinta
Kau yang mengajarkanku makna kebersamaan
Yang membuatku jatuh cinta pada kesepian

Puisi terakhir untukmu kawan
Semoga kau senang, kau bangga
Bahwa kita pernah akrab di sini
Di tepian kampus kita, dalam remang pinggiran waktu

Rabu, 26 Desember 2012

Lagi.... Tentang KKN-PPl


Oleh : D.N. Ahmad
Kesunyian jualah yang akhirnya menetaskan rindu. Kebersamaan, canda, dan kebahagiaan, barangkali adalah arus kebahagiaan yang hanyut ke muara dan tak kembali. Adakah kesendirian dapat melunasi semua itu?
Sore, tanggal 25 April 2012, aku merasakan sebuah gemuruh yang resah dari kedalaman hatiku, dan hari ini, lagi-lagi aku merasakan gemuruh itu. Kenangan. Ya, lagi-lagi tentang kenangan, sesuatu yang telah membuatku menjadi manusia paling menyedihkan di bumi ini. Kenangan itu, seperti batu kerikil di pinggir jalan, liar, kotor, selalu tak mau lepas di ingatan dan selalu tak sabar untuk ingin dituliskan. Maka aku, dengan susah payah harus mengumpulkan ingatan untuk menuliskan semuanya.
Rindu dan kenangan, seperti saudara kandung, ah bukan, lebih tepatnya saudara kembar, identik, serupa, namun apabila diteliti secara seksama ia tak sama. Bagi seorang kekasih, rindu adalah kegalauan hati ingin cepat-cepat berjumpa dengan kekasihnya, namun bagiku, bagi seorang mahasiswa yang hampir sarjana, rindu itu adalah berpacu dengan waktu, memburu dosen biar wisudah secepatnya dan terlepas dari belenggu universitas yang memenjarakan. Ah tidak, aku tidak ingin bercerita tentang kerinduan itu. Aku ingin bercerita tentang kerinduan seorang mahasiswa KKN-PPL yang telah lama meninggalkan lokasi KKN-PPLnya. Namun apapun itu, rindu tetap identik dengan kesedihan. Semenjak kumeninggalkan kota mereka, rindu itu adalah seekor raksasa yang betah berlama-lama di hatiku, ia menginap, mengganggu, tak mau pergi, jahat.
Malam ini, ketik aku menuliskan cerita ini. Anggap saja aku tengah mengusir raksasa itu dari hatiku. Namun hari-hari berlalu, semua upayaku untuk mengusirnya selalu tak berhasil. Jadilah aku seperti ini, begitu menyedihkan.
Nyatanya, aku selalu rindu, rindu bercanda lebih seru lagi dengan mereka, rindu tertawa lebih lama lagi, rindu bercerita lebih panjang lagi. Aku rindu dengan mereka yang menyapaku dengan sapaan “Kak”, rindu dengan orang yang kusapa dengan “Dek”. Aku rindu sebuah pagi di mana aku selalu mandi paling awal, sholat subuh, jalan-jalan ke pangker sembari berharap aku bertemu seseorang yang mengenalku di sana dan menyapaku dengan “Kak Dhitoooo....”. Aku rindu sebuah hari dimana aku menghabiskan sebagian hari dengan mengajar di kelas sambil bercanda. Aku rindu dengan sebuah sore dimana aku bermain takro bersama dengan adek-adek, atau sesekali bermain basket di halaman sekolah. Aku rindu menghabiskan hari dengan berjalan-jalan ke lejjae, pantai wakka, bilariase, dan lumpue. Aku rindu pada puisi-puisi yang mereka tuliskan khusus buatku. Aku rindu...... Dan dari serentetan kerinduan itu hal apakah yang bisa kuambil? Toh sekarang aku hanya bisa rindu dengan kerinduanku.
Ya, malam ini, kerinduan tentang kisah KKN-PPL di kota pangkajene sidrap tiba-tiba saja memuncak di kepala. Sebuah kisah sederhana, kisah kebersamaan yang terjalin secara sederhana, namu menghasilkan sebuah kenangan yang tidak sederhana, yang melahirkan sebuah pengalaman mahal yang bernama inspirasi. Disana cukup banyak kisah terukir, antara aku dan teman-teman seposko, antara aku dengan masyarakat kota pangkajene, antara aku dengan tuan rumah poskoku (Kak Andry, Pak Bahar, Ibu Muti, Kak Hasni, tak lupa pula dua adikk yang lucu Dillah dan Tiara), dan yang tak terlupakan kisah antara aku dan adik-adikku di SMP Negeri 3 Pangsid (Spentreed).
Di spentreed, rasanya aku selalu bahagia. Aku selalu lupa cara untuk bersedih. Disanalah baru kunikmati hidup tanpa diatur, bebas serupa burung-burung. Bisa bicara sebebasnya. Di waktu istirahat aku selalu nongkrong di lab. IPA yang disediakan sekolah sebagai tempat istirahatku, dan mereka adik-adikku selalu saja ada yang datang menemani, berbicara sebebasnya, bercanda sebebasnya, jika mereka iseng mngerjaiku dengan bahasa bugis maka akupun pasti mengerjainya dengan bahasa makassar. Hahaha... saat seperti itu kami pasti saling tertawa. Aku ingat, seorang siswa pernah menanyaiku dengan beruntun, “Kak, apa sih gunanya itu pacaran?, pernahki berpacaran? Sama siapa kak, siapa namanya pacarta?” hahaha tahukah? Aku betul-betul kebingungan menjawabnya. Tapi tidak, aku tidak ingin mereka berpikiran bahwa aku miskin ilmu tentang berpacaran. Maka akupun menjawab sekedarnya bahwa aku hanya memiliki pengalaman hampir berpacaran, atau keakraban yang sangat dan orang identikkan berpacaran, jadi tentulah saja aku tidak tau manfaat berpacaran aku hanya tamat di teorinya saja. Dan di saat seperti itu, mereka semua selalu tidak percaya dengan ceritaku.... “iyya kaaaaahhh.....???? ” katanya dengan... ah, kenapa jadi manis sekali?!
Di spentreed, banyak sekali cerita terukir. Tentang latihan upacara bendera di sore hari, tentang latihan kasidah di poskoku, tentang persiapan acara maulid di sekolah, tentang bermain basket bersama, upacara bendera bersama, tentang pengalaman pertama makan makanan khas sidrap, tentang........ mereka, adik-adikku, yang memberiku pengalaman pertama memimpin, membuatku mengerti kerja tim dan kebersamaan, merekalah yang mengajarkanku makna kata “kita” dan “kami”.
Tapi, ah.... lihatlah hari ini, tak ada yang tertinggal kecuali cerita. Kenangan kebersamaan yang selalu tak ingin bosan untuk dikenang. Aku selalu ingat kenanganan saat terakhir aku masuk di kelasnya. Siang itu, foto-foto pahlawan yang terpajang di tembok yang menjadi saksi, saksi untuk semua tawa, pilu, tawa, haru, luka, dan segala perasaan aneh yang pernah singgah di hati, menjelma seekor raksasa yang menetap dan tak mau pergi di kamarku.  Foto-foto itu, begitu murung, sangat murung, semurung langit pangkajene yang sedang berencana hujan.
Dan akhirnya, waktu selalu menepati janjinya, bahwa tak ada yang lebih pasti selain perpisahan. Memutus cerita-cerita kami di spentreed, aku kembali ke kotaku. Melanjutkan pendidikanku, dan menggiringku ke rutinitas kampus yang makin hari makin bikin sakit kepala. Dan akhirnya kesunyian jualah yang akhirnya menetaskan rindu. Kebersamaan, canda, dan kebahagiaan, barangkali adalah arus kebahagiaan yang hanyut ke muara dan tak kembali.
Hari-hariku selalu sepi, sunyi, sepi, sunyi, sepi.... hanya hapeku yang tak pernah sunyi, pesan dari kalian, adik-adikku yang selalu menanya kabar, kapan datang lagi ke sekolah, kubalas saja sekedarnya bahwa aku selalu baik-baik dan semoga nanti Allah masih menyediakan waktu buat kita berjumpa lagi.
Adik-adikku yang tercinta, tetaplah seperti ini, kenanglah kami kakak-kakakmu. Berilah sedikit ruang di hatimu untuk kami, sedikit saja. Untuk nanti, kita tempati saling bercerita jika bertemu, untuk nanti saling melepaskan kerinduan. Berdoalah Adik-adikku, semoga kami semua baik-baik, demikian jualah yang kulakukan untukmu. Meski kini kita tak lagi bersama, tapi kita beradik-kakak selamanya, kita bersama selamanya, bersama dalam kerinduan yang sama, sampai nanti, waktu yang menuntaskan semuanya. Terimakasih atas hari yang indah, kebersamaan yang indah, dan kerinduan yang....??
Malam ini hujan turun, deras, deras sekali. Aku tahu, aku telah jatuh cinta, dan inilah cinta sejati itu, cinta dengan segala kegilaannya, dengan segala kerinduannya.
 Makassar, sebuah malam di bulan Mei