Pages

Rabu, 26 Agustus 2015

Dalling, Kesenian Artistik Masyarakat Bajau

Kalau kawan pernah berkunjung ke Mayarakat suku Bajau, tinggal beberapa hari di sana, atau menghadiri salah satu pesta rakyatnya, pasti akan berkenalan dengan kesenian ini. Sebuah tarian, yang tentulah tak sepopuler Tari Saman di Aceh, Tari Jaipongnya Jawa Barat, Cakalelenya Papua, Tari Kecak di Bali, atau Tari Pakarena dari Makassar. Tapi Dalling, tetaplah eksis di komunitasnya, tetaplah pada ciri khasnya yang unik dan elegan. Merupakan tarian khas suku Bajau, kesenian yang sangat dicintai masyaraktnya, dipelajari dan ditarikan cewek-ceweknya sejak kecil, lalu dipentaskan pada setiap event, tak terkecuali di sekolah, atau event khusus (semisal pramuka) di tingkat kabupaten dan provinsi. Kalau Kawan orang penting dan suatu nanti ke Bajau, pasti juga akan disambut dengan tarian ini, memikat!
Selayaknya tarian bermuasal story sebagai tarian penyambut tamu atau penghibur raja di masa lalu, tarian ini mengutamakan kekompakan, ditarikan dengan glamour, elegan, dan diiringi musik khusus yang semarak, selayaknya tarian kebanyakan. Yang berbeda adalah pergerakannya lincah dan bisa dengan bebas divariasi sesuai kesepakatan para penari tanpa takut melanggar hak cipta.
Tak seperti tarian lain yang telah memiliki pergerakan khusus, dalling memiliki banyak sekali jenis, banyak variasi, dan banyak versi, yang kesemuanya itu bernama dalling, tanpa nama khas dari satu jenis movement. Inilah yang berbeda, dan ini menjadikan setiap tariannya tak terikat pada suatu kesepakan gerakan oleh penciptanya di masa lalu.
Masyarakat suku bajau yang memiliki apresiasi seni yang luarbiasa, juga aktivitas di pulau yang tak menyediakan banyak pilihan, membuat orang-orangnya haus hiburan. Membuat kesenian ini begitu popular. Saban hari, saat terjadi pesta rakyat, atau penyambutan pejabat, mengalirlah musik semarak, diiringi gadis-gadis yang (barangkali) sengaja dipilih yang cantik-cantik yang bergerak seiring sejalan menarikan tarian ini. Apalagi ditambah cewek-cewek suku bajau yang memang cantik-cantik dan manis-manis (hehe..h.)
(Tia, Welin, Lili, Elsa)
Tim Dalling Kelas VII SMP27
(Wirda, Emy, Amelia, Ariva)












Di sekolah, pada dua event seni yang pernah kami laksanakan (porseni sekolah dan Jambore kecamatan). Kompetisi dalling menjadi hal yang paling diminati, paling banyak pesertanya, paling ditunggu-tunggu, dan saat tampil paling banyak ditepuktangani. Mengenai hal ini, saya dan Adi (Peserta sarjana mendidik di SMPN 27 Berau) merupakan yang paling tertarik dan banyak bertanya, scaara kami berdua adalah dua pria baik-baik -__- yang belum banyak mengenal kebudayaan bajau.
Tak banyak yang paham, bahkan mungkin anak2 suku bajau pun belum banyak yang mengerti, Dalling membuatku terpaku pada dua keheranan: mengapa euphoria orang-orang sebegitu besarnya pada pertunjukan dalling, dan mengapa penarinya selalu anak muda (biasanya cewek-cewek)  Saya pernah secara khusus bertanya ke seorang siswa, yang juga penari dalling. Apakah tidak risih menari gaya begitu di hadapan semua orang? Yang gerakannya (Menurut pendapatku) terlalu bebas buat anak-anak (apalagi anak gadis), hingga tentu saja bertentangan jauh dgn agama mereka, yang pertanyaanku itu justru dibalikkannya padaku: mengapa mesti risih?
Saya pun sampai pada kesimpulan, ini memang kesenian yang fantastif, yang murni kesenian, yang selalu, tak ada karya seni yang sempurna. Karena kesempurnaan hanyalah persoalan subyektifitas penilai. Justru, acungan jempol dan perasaan bangga sangat layak diberikan atas kecintaan masyarakat suku Bajau pada produk keseniannya. Keinginan mereka agar Dalling tetap eksis telah sunguh-sungguh terwujud, dan ini adalah sisi fantastis lain yang patut untuk diapresaisi…. Dan itu membuatku menemukan banyak alasan untuk berbahagia, tinggal di komunitas masyarakat suku Bajau.
Dhito Nur Ahmad




Senin, 16 Maret 2015

Maratua, Paradigma Sosial dan Pendidikan!

Maratua, adalah salah satu pulau yang terdapat di kabupaten berau, kaltim. Berpenduduk 40% perantau, yang berasal dari banyak daerah yang berbeda. Pulau ini berpenduduk asli Suku Bajau, dan juga didiami suku perantau: Bugis, Makassar, buton, dayak, jawa, dan Lombok. Tidak keliru rupanya pulau ini dijadikan sebuah pulau pariwisata oleh pemerintah kabupaten berau. Alamnya indah, pohonnya banyak, dan pantainya bersih berpasir putih.

Di pulau inilah, kami (sarjana mengajar SM-3T Univeritas Negeri Makassar) ditempatkan, menjadi salah satu pulau yang dianggap perlu diberdayakan oleh pemerintah. Tidak tanggung-tangung, saya (Dhito), ditempatkan bersama 3 teman lain (Putu, Adi, Chaerul), menjadi bagian dari rombongan (keluarga) besar SM-3T UNM, memaksimalkan berbagai macam persiapan, dididik dengan keras, lalu di sebar ke banyak daerah di Indonesia (Berau, Manokwari, Teluk Bintuni, Waropen, Kepulauan Sitaro, dan Kepulauan Aru)

Di Kabupaten Berau, kami berangkat berombongan dari Makassar sampai ke sini. Maka berkumpullah kami, ke-29 peserta sarjana mendidik di kabupaten yang beribukota Tanjung Redeb ini, disambut, difasilitasi, lalu disebar ke berbagai kecamatan (Maratua, Derawan, Batuputih, Tabalar, Talisayan, Kelay, Segah, dan Biatanhilir)

Saya, yang ditempatkan di pulau maratua. Lalu apa yang terjadi dengan kami, dan bagaimana keadaan alam, penduduk, dan pendidikan di pulau ini? Kami mengalami semacam shock condition, menyalami berbagai macam peristiwa yang mengejutkan dan diluar perkiraan, dipaksa beradapatasi dengan cepat, dan dibuat pontang-panting melayani siswa-siswa. Kami dianggap orang yang sangat pintar, bahkan terlalu pintar untuk seukuran kepala mereka. Mampu bekerja selayaknya mesin, mengajar dari pagi sampai jam pulang, dan mampu mengajarkan hampir semua mata pelajaran yang tak ada gurunya.

Kami mempercayai sepenuhnya bahwa untuk menciptakan pendidikan berkualitas dan mencetak siswa yang ideal diperlukan berbagai macam sarana vital pendukung. Semakin lengkap sarana pendidikan yang ada, semakin tinggi pula peluang untuk mencerdaskan. Siswa-siswa di maratua, tepatnya di SMPN 27 Berau, nampaknya mengalami masalah pada hal itu, disamping (tentu saja) kualifikasi guru dari segi kualitas dan kuantitas yang kurang.

Maka tentulah, hal yang mudah kita perkirakan akan terjadi, tak perlulah kita tanyakan kualitas siswa-siswa. Mereka tinggal dilingkungan terisolir, air bersih mngandalkan hujan, barang-barang dua kali lipat lebih mahal dibanding Makassar, tak ada listrik, dan juga tentu saja tak ada tv dan radio. Maka hasilnya adalah, mereka kebanyakan masih kesulitan memaknai beberapa kata yang didaerah lain sudah lazim diucapkan, seperti kata: definisi, tragedi, tragis, kritis, motto, apresiasi, dan semboyan.

Positifnya banyak juga. Kebanyakan orang tua-tua mereka sopan, sangat sopan malah, apalagi kalau sama guru. Meski tak serupa halnya dengan siswa-siswa, yang kebanyakan bandel selayaknya anak remaja kebanyakan. Hal santer dan paling mudah disalahpahamkan saat ia memanggil kau pada gurunya, tapi setelah mempelajari seksama, saya berkesimpulan bahwa itu bagian dari budaya mereka, bagian dari kebiasaan umum yang sulit dirubah, dan itu berterima sebagai hal yang sopan dalam lingkungan umum mereka. Hal positif lainnya, tentu saja mereka terhindar dari efek buruk teknologi, dan masih mengandalkan permainan traditional.

Sebuah kisah, beberapa bulan saya di maratua. Ada rombongan artis datang dari Jakarta, termasuk diantaranya jenifer lopes, budi doremi, dan rombongan kru tv, mereka sedang syuting acara “paradise” di kompas tv dan “mancing mania” di trans7 (kalau tidak salah). mereka stay di sana selama tiga hari, pada sebuah tempat penginapan yang kebetulan berdekatan dengan tempat tinggal saya.
Sore hari mereka menghambur bersama ke Dermaga Pelepas Rindu (disingkat DPR), satu-satunya dermaga bersignal, berbaur dengan masyarakat, mereka berusaha menyapa, dan tak ada diantara mereka yang merespon berlebih atau memperlakukannya selayaknya fans seperti di daerah lain. Tak ada yang peduli, tak ada yang ingin foto bersama, atau lebih tepatnya tak ada yang mengenali, bahkan tak ada yang tahu bahwa mereka ini adalah yang sering nongol di tv. Saya kemudian membayangkan kotaku, Makassar. Di sana, artis diperlakukan selayaknya orang mulia, dipuja dan dijadikan idola. Kedatangannya direspon dengan segala macam tindakan aneh, panggung diirikan, orang dikumpulkan, dijadikan tempat beriklan, wartawan didatangkan, lalu menjelmalah artis itu seolah berhala yang punya banyak penyembah.

Sisi kurangnya, siswa tak update informasi ilmu terbaru. Kualitas intelektual siswa stagnan dan itu-itu saja. Di sekolah pekerjaan guru makin berat.




Perubahan kualitas siswa yang tidak dibarengi perubahan kualitas guru mrupakan sebuah kemustahilan, sedangkan perubahan itu sendiri menjadi keniscayaan yang pasti dan harus terjadi. Sebutlah misalnya, apa yang terjadi di smp 27 berau, meskipun fasilitas sekolahnya bisa dibilang standarlah untuk daerah sekelas maratua yang terluar dan terisolir, tapi secara kuantitas mereka kekurangan guru, ditambah lagi jika salah satu guru punya urusan di tanjng redeb, bisa berpekan-pekan baru kembali. Penyebabnya apa? Karena ombak, perahu yang melintas kurang, speedboat yang harganya mencapai 300ribu sekali pergi, dan juga (sebagian besar karena) kesadaran pengabdian mreka yang masih kurang. Belum lagi secara kualitas, kualifikasi mereka belumlah layak disebut ideal, meskipun kata ideal ini masih menjadi sesuatu yang sangat luas untuk diperbincangkan.

Meski, tahukah? gaji PNS di sini berkisar antara 8- 12 juta per bulan, kepala sekolah tentulah lebih dari itu. Gaji PTT (Honorer kalo di Makassar) di sini mencapai 5,2 juta per bulan. Tapi secara kualitas kerja, memprihatnkan untuk diperkatakan, kawan. Pengawas sekolah meski ada dan bergaji tapi (seolah) tak pernah ada, tak pernah ke sekolah (smp 27) lihat keadaan. Itulah sisi lain yang mengherankan dan perlu dijawab. Pemerintah bukannya tak tahu, sekretaris dinas pernah curhat ke saya dan mengatakan penyakit guru-guru di Berau, yang kebanyakan malas dan sulit diatur. Tapi ia menunjukkan optimism bahwa semoga sm-3t banyak membantu di situ.


Di Sekolah saya (mungkin jg di sekolah lain di berau). Bahan pemicu pertengkaran antarguru adalah uang Bosda dan Bosnas yang jumlahnya tak kira-kira itu. Jumlahnya ratusan juta, sementara yang hendak dibiayai tak banyak, maka jadilah dilemma. mengelola uang bukanlah keahlian guru. Perdebatan sering terjadi, belum lagi guru dan kepala sekolah yang mengurusi itu biasanya sangat lama dikota mengurusi dana BOS dan meninggalkan tugas utamanya di pulau. 

Minggu, 21 Desember 2014

Senyum Anak-anak Teluk


Saya sungguh terharu pada perjuangan anak-anak Teluk Alulu untuk dapat sekolah. Kehidupan mereka taklah anak-anak sekolah kebanyakan di Indonesia. Kampung mereka jauh di pulau, ditempuh dengan darat sejauh 7 kilo meter, lalu dilanjutkan dengan perahu kecil (katinting) selama satu jam perjalanan. Mereka, umumnya adalah anak-anak nelayan, kopra, dan pemanjat kelapa. Hidup melarat di kampung terluar, terpencil, dan tertinggal. Di sana, mereka terabaikan, dikampung yang seolah ditelan laut luas, sejak kecil tak pernah berkenalan dengan listrik pemerintah, bahkan ada yang mengaku tak pernah menonton tv, hingga Indonesia yang di kepalanya hanyalah sebatas pulau tinggalnya saja.

Saya pernah ikut berlibur ke kampung mereka, menyebrang dengan katintin yang mereka nahkodai sendiri. Di katinting, mereka bercerita tentang kampong mereka dan berjanji mengantarkanku ke tempat-tempat yang indah. Di kampung merekalah saya paham: Seorang anak, berusia belia yang belum mengerti hidup dan tak ngerti pentingnya sekolah, harus berjuang melewati beratnya rintang, meninggalkan kampung dan belajar merantau sejak smp untuk dapat sekolah. Mereka, sudah harus sadar sejak dini, melawan orang tua saat masih kecil lantaran pesimisme orang tua-tua pedalaman yang masih tak percaya dengan sekolah. Kalau tidak, taklah bisa mereka sekolah, menjadi bagian anak-anak kebanyakan yang setelah tamat SD tinggal di kampung membantu ayah menangkap ikan dan bertani kopra.
*Buat Mereka, Teluk Aluluan: Elsi, Reki, Tio Van Hoten, Septori, Lili Trikia, Ari Andi Ramadan, Wardi, Achmad Rido, Sanipa, Bella Sheilvia, Emy Syafitri, Sarwenda, dan Yoland


Maratua, Berbahagia dalam Keterbatasan

*(Risto, SMPN 27 Berau di Pulau Maratua)

Maratua… merupakan salah satu pulau penempatan peserta SM-3T Universitas Negeri Makassar. Terletak di Pulau terluar Kabupaten Berau-Kaltim, yang berbatasan laut langsung dengan dua negara tetangga (Malaysia dan Filipina). Hanya terdapat dua kendaraan menuju ke sana, yang pertama dengan menggunakan kapal barang, butuh 12 jam kurang lebih perjalanan dari Tanjung Redeb dengan kendaraan ini, berbiaya normal 50 ribu rupiah (biasanya sang nahkoda menggratiskan untuk guru-guru yang mengabdi di pulau). Sedangkan, akses yang kedua bisa ditempuh dengan speedboat, ditempuh 4 jam dengan biaya 250 ribu rupiah. Pulau ini berpenduduk asli Suku Bajau, berbaur dengan suku perantau yang kebanyakan Bugis dan Jawa.

Sejak pertama kali datang, rasanya tak ada yang paling sakit saat mengetahui dan mengalami segala realitas kehidupan daerah pedalaman yang terpencil dan terisolir. Tak pernah ada listrik pemerintah, penerangan hanya mengandalkan genset yang menyala dari maghrib hingga jam 10 malam. Barang-barang kebutuhan sangat mahal, air hanya mengandalkan hujan, dan tak ada signal, satu-satunya tempat bersignal adalah di dermaga (Dermaga Pelepas Rindu). Maka, angin malamlah yang lebih banyak menyaksikan, angin yang sejak beratus-ratus tahun lalu selalu setia menggerakkan pepohon kelapa yang berbaris rapi di semenanjung. Saya selalu setia di dermaga, melepas rindu pada dunia luar. Beranjak bersama malam, dari satu kesepian menuju kesepian berikutnya.

Sebagai daerah terpencil, dan berbatasan laut langsung dengan Negara tetangga. Salah satu masalah terbesar adalah nasionalisme. Kemampuan terbaik selalu berusaha kuberikan, membantu peserta didik bergembira dalam belajar. Memastikan, bahwa mereka, anak-anak negeri dalam keadaan baik-baik saja, tak kurang suatu apa di dadanya, tak pudar segala semangat di hatinya. Kami tak hanya belajar di kelas, berdialog diselingi canda dan tawa, biar mereka terbahak meski suguhan situasi sama sekali tak menawan

Hingga akhirnya secara perlahan, saya telah semakin bisa beradaptasi, telah makin cinta pada masyarakatnya yang ramah, terharu pada perjuangan anak-anak pulau untuk dapat sekolah, dan terpesona pada kecantikan alam Maratua yang para turist menjulukinya sebagai “paradise islandTak apa beras mahal, dan kami hidup dalam segala keterbatasan, tapi Maratua, selalu menawarkan petualangan yang mengasyikkan, membuatku mampu menaklukkan banyak hal dan makin merasa sebagai “laki-laki”… dan akhirnya, saya makin menyadari suatu hal… bahwa Semakin terbatas, semakin kita menemukan banyak alasan untuk berbahagia.
  

   

Minggu, 14 September 2014

Catatan Perjalanan (29 Bolang SM-3T) Di Berau*

Oleh: Dhito Nur Ahmad (Risto)

Sore, 29 Agustus 2014, setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan serta menyinggahi tempat-tempat yang asing. Akhirnya sampailah kami di Kabupaten Berau. Sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Kalimantan timur. Kami, rombongan sarjana mendidik (SM-3T), berjumlah 29 orang, didampingi dua dosen kereen kami (Pak Suardi dan Pak Jumadi), bermaksud ke Berau bukan untuk berwisata, bukan pula untuk jalan-jalan, tapi malam itu di kepala kami telah tergambar bahwa esok, kami akan masuk dalam sebuah ruangan yang (cukup) mewah, ada banyak orang, ada tepuk tangan meriah, spanduk yang dibentangkan besar-besar di hadapan, dan pajangan foto-foto yang dideretkan rapi di dinding. Pun, Pak Bupati akan menyambut kami secara khusus. Sekadar seremonial, yang pastinya akan ada ucapan selamat, akan ada ceramah panjang tentang pentingnya pembangunan kualitas pendidikan, foto-foto bersama, juga jabat-jabat tangan bersama. Dan itu semua dilakukan dengan ramah dan dipaskan untuk mngena di hati.

Dan betullah, pertama kali datang, di penjemputan area bandara kami disambut dengan hangat sekali oleh Pak Prapto, pak wakil kadis yang katanya diutus khusus oleh Kepala Dinas untuk menyambut kami. Senyumnya lebar, kumisnya tipis, serta punya tata kesopanan yang seukuranku berlebihan. Kami diangkut dengan dua bus, masing-masing menuju ke hotel yang berbeda (Hotel Sanggam dan Nirwana). Berau adalah sebuah kabupaten yang tak bisa dianggap kecil, perjalanan dari bandara ke hotel kami rasakan lumayan jauh, 25 kilo kurang lebih. Kabupaten yang  beribukota Tanjung Redeb ini merupakan kota yang sedang berkembang dan membangun, dimana-mana kami disuguhi dengan pemandangan pekerja-pekerja proyek yang sedang memperbaiki jalan, di jalan-jalan umum kita disugui dengan pajangan-pajangan semacam: mohon maaf, jalan sedang dalam perbaikan, atau maaf, jalan Anda sedang dialihkan. Saya kemudian teringat tentang beberapa literatur dan berita yang pernah saya baca dan dengar, bahwa kaltim ini merupakan kota industri yang kaya dan punya sikap dermawan tak terkira. Penghasil batu bara, gas alam, dan minyak tertinggi, dan itu semua diserahkan dengan kereen dan elegan sekali pada asing. Sementara, telah kusaksikan sekarang, kotanya sendiri tak terlihat maju, dari rumah-rumah penduduknya tampak bahwa mereka belum sesungguhnya sejahterah. Dan saya yakin mereka telah dilukis dengan sangat professional oleh asing untuk tunduk dan patuh. Maka terngianglah di benak saya sebuah tindak yang paling saya benci: Kolonialisme.

Malam hari, akhirnya bertemulah 14 anak muda bugis-makassar yang sedang mengawali rantau di Kota Berau. Di hotel, pertemuan selalu makin kami intensifkan, percandaan dan segala hal remeh-temeh tentang tugas mulia, meluruskan niat, sikap patriotik, kemungkinan situasi buruk, dan juga tentang…hm, cinta, selalu kami bicarakan dengan hangat dan akrab. Hingga kami rasa tak ada ruang bagi kami untuk bersedih. Saya, zam, chaerul, dan iccank, menjadi serupa komoditi ekspor berkualias selangit diantara 10 perempuan-perempuan lain teman kami (chepi, ully, mirna, misna, kasma, lia, ani, irma, erna dan dillah). Scara… kami berempat adalah pria baik hati dan jauh dari sifat sombong (-__-)

Selain itu, tak lupa pula kami bicarakan tentang Paskhas, maksudku, kisah-kisah yang kami lewati bersama di asrama Paskhas-AU. Dalam hal ini, chepi, sebagai wanita paling cerewet dan mengaku diri paling cantik (heheh) paling banyak bercerita. Segala yang bernama penderitaan bersama, tentara-tentara yang keras tapi punya sikap lembut mengagumkan itu, tentang muasal niat kenapa bergabung di sm3t, tentang kemungkinan hidup malang selama setahun, juga tentang kejadian-kejadian lucu saat camping bersama di lereng bukit moncongloe, maros. Ah chepi dan ully adalah yang paling tau, telah sangat jago bercerita dan sepertinya sudah berpengalaman dengan segala hal yang berhubungan dengan perasaan. Dan saya? Yang merasa berkarakter asli pendiam dan berusaha memosisikan diri senyambung mungkin, tak banyak berkomentar apa-apa. Tapi atas nama kesetiakawanan, sebagai sumber untuk lebih banyak belajar, pun sebagai bahanku untuk menulis, kudengarkan semuanya baik baik, kusimpan di memoriku, juga kurekam beberapa adegan yang menurutku penting.

Maka betullah, saya memang yang harus lebih banyak belajar. Pertemuan kami selanjutnya, saya mengalami banyak hal yang mesti kupelajari lagi, semisal bagaimana menambah confident saat jadi korban percandaan teman, bagaimana membuat orang tertarik dan terkagum-kagum dengan ceritaku, juga tentang cara memberi semangat dan bangga pada diriku sendiri melebihi caraku melakukannya pada orang lain.

Apa yang terjadi pada kami selama berada di hotel, telah cukup menunjukkan bahwa kami sudah sangat akrab. Rahasia-rahasiaan telah sebagian besar dibongkar, hingga akhirnya kami harus mengakhiri moment kebersamaan itu dengan perpisahan yang mengharukan. Saya bersedih tentu saja. Moment terakhir kebersamaan, saat teman-teman sehotel, juga teman lain yang menginap di hotel nirwana bertemu bersama, pada sebuah acara penyambutan oleh bupati, kepala dinas, camat-camat, dan kepsek-kepsek di sebuah ruangan. Kami harus saling merelakan, Zam, sang wakorkab –bersama Pardin- bertugas di Kelay, mengajar anak suku dayak dalam Kalimantan. Ainun, sang sekretaris sekaligus inisiator dan yang paling banyak ide tentang kami, bersama Ika, Eni, Syifah, dan Innah di tempatkan di Kepulauan Derawan, sebuah pulau wisata yang indah dan terluar. Sementara Chepi, sang bendahara, bersama Kasma bertugas di Talisayang. Teman-teman yang lain, tersebar rata ke banyak daerah (Segah, Batu Putih, Tabalar, Biatan, dan Maratua) berjauhan satu sama lain.

Sebelum berpisah, tentu saja ritual yang tak kami lupakan adalah berfoto bersama, berlatarkan gedung dinas kota Tanjung Redeb, ke-29 orang teman, bersama kedua dosen pendamping kami (pak suardi dan pak jumadi) yang setelahnya menyalami kami dengan hangat sekali, membisiki kami kalimat menyemangati (terutama analogi adaptasi pisangnya Pak Suardi), dan juga mengingatkan kami untuk tetap menguatkan koordinasi.

Kami merasa masih harus bertemu dalam waktu yang tidak (terlalu) lama, untuk saling bercerita pengalaman di penempatan, untuk menyampaikan hasil observasi awal sebagai bahan program kerja pengabdian, mengalternatifkan segala masalah yang mungkin saja dihadapi teman di lokasi, dan juga memantapkan segala hal yang berhubungan dengan koordinasi. Kami (saya, zam, ainun, chepi dan teman lain) adalah orang yang paling membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Terutama, tentu saja kerjasama dan kebersamaan dari teman-teman SM-3T Berau yang lain, semoga segala yang telah dipogramkan dengan mantap sekali dapat berjalan dengan mengagumkan dan berujung pada hasil pengabdian yang mengesankan.

Akhirnya, sampailah kami di masing-masing penempatan. Saya makin merasakan, makna kebersamaan dan hangatnya persahabatan justru setelah kami berpisah. Sebuah sensasi membahagiakan, dan selalu saya rindukan. Sampai jumpa pada kisah indah kita yang lain. Salam hangat dari kami, dari pulau indah dan terluar, Maratua. (Dhito, Adi, Ilu, dan Putu)
*korkab


Rabu, 27 Agustus 2014

Sedang Ingin Berkisah

Kawan, sini. Marilah sini! Duduklah di dekatku, saya ingin bercerita. Bersediakah kau mendengarnya? Bersedia yah! Ayolah! Jangan gitu ah, saya akan senang sekali jika kau bersdia jadi pendengarku. Baiklah, untuk mempersingkat waktu-_- kumulai saja ceritanya. Begini. Penahkah kau melihat skawanan jin yang berdiskusi berhadap-hadapan selayaknya manusia? Pernahkah kau mengadakan pembicaraan dengan teman-temanmu untuk kuliah di negeri jin? Atau percayakah kamu jika jin itu sendiri sekarang tengah duduk bersamamu dan membantumu membaca catatan ini? Percaya? Hoh, tidak? Hm… baiklah, saya juga tak percaya bahwa kau akan percaya. Tapi sudahlah. Saya tak akan bercerita tentang itu. Tak sekarang. Saya akan bercerita tenang kami, kita, dan sealur cerita yang kami ukir dengan sangat sderhana bersama teman-teman seperjuangan di PASKHAS TNI-AU.
Siapakah kami dan bagaimanakah kami? Ah, biarlah itu jadi lipatan rahasia yang cukup kami saja yang tahu. Kau tak perlulah, atau ah, baiklah, begini, jika kamu sangat ingin tahu, dan ingin merasai pula, lebih mendekalah, saya akan membisikimu: di sana itu, membahagiakan, lebih dari sekdar cinta pertama, lebih, lebih dari skdar itu.
Jika kau ingin menjadi bahagia, kau tak perlu bersusah-susah sekolah tinggi-tinggi, bekerja keras pagi-malam, atau memburu jabatan yang disediakan Negara. Cukuplah kau jadikan dirimu menderita semenderita mungkin, sakit sesakit mungkin, menangis semenangis mungkin. Lalu kemudian kamu kemudikan dirimu ke tempat yang lain, bandingkan stelahnya, itulah bahagia. Atau kusarankan bgini, kalau perlu, cambuklah dirimu di suatu hari, hari setelahnya kamu akan merasai dan benar-benar menikmati sensasi: alangkah bahagianya hidupmu.
Itulah yang tengah kurasakan kawan, dan itulah pelajaran pertama yang bisa kubagi padamu, dan bahagia itu, benar-benar bisa kurasakan setelah diajar mngubah keadaan buruk yang sngaja diciptakan itu jadi pembahagia. Dan diakhir cerita, kami betul-betul merasakan bagaimana kebersamaan itu, bagaimana disiplin itu, bagaimana mengatur diri itu.
Di sini pula, kami belajar saling mencintai (cinta yang bukan melibatkan rasa yang aneh itu yah!) Pun, kisah kami akan tetap seperti ini adanya. Dan… inilah dia….. teman-teman saya….



Di sini kami saling mengingatkan diri, bahwa di luar sana, ada spesies yang sangat berbahaya buat kita, yaitu mahluk aneh dan ditakdirkan hidup dalam raga kita, sesuatu yang kadang mnyetir kita jatuh cinta, benci, selalu ingin bersenangsenang, menunda hal penting, dan bermain fb lama-lama. Besok lusa, dengan mudahnya ia akan mengarak kita ke pembuangan. Ingat itu yah, teman-teman…..
Jika kamu punya pacar dan berkata tak bisa melupakanmu, maka mulai sekarang mulailah blajar lupa (utk sementara). apalagi kalau yg mengatakan bahwa setiap saat yang dipikirannya selalu ada kamu, tanyakanlah satu tambah satu jumlahnya berapa. jika jawabannya adalah kamu, maka betullah. jika tidak, berarti dia pmbohong kelas amatiran yang utk sementara harus kamu lupakan -_-. Tapi jika kamu punya teman baik dan mengatakan hal serupa padamu, percayalah, ia bukan sahabat, bukan, tapi makhluk yang harusnya membuatmu bersiap-siap jika kisah hidupmu nanti meluncur sangat menyakitkan. Masuk akal?
Akhirnya, saya ingin mengakhiri cerita ngawur ini dengan ucapan selamat. Selamat. Kepada kawan-kawan seperjuanganku di bawah ini.


Tetaplah semangat, tunjukkan yang terbaik, jadikan kebersamaan adalah nafas kita (togetherness is our breath). Insya Allah impian kita bersama terwujud, melunasi janji kemerdekaan, mencerdaskan anak bangsa, dan mewujudkan generasi emas Indonesia. Ingat, kata komandan PASKHAS TNI-AU: Modalnya hanya semangat, semangat.  itu saja.


Selasa, 12 Agustus 2014

Pada Musim Hujan Kali Ini…


Menurutmu, bagaimanakah rasanya kehilangan orang yg paling dicintai dalam hidup? Sakit pastinya. Bagiku, seperti kehilangan satu-satunya harapan untuk hidup. Pernyataan itu sebenarnya pernah kuungkapkan dalam status saya di fb (agak lamami). sesuatu yang juga tak kutau mengapa saya merasa perlu membaginya. Tapi sungguh, saya pernah merasa menyesal sekali karena menuliskanya. Bahkan, sering ingin marah pada diri saya. Belakangan ini, saya merasa terlalu dikuasai sama fb, hingga segala sesuatunya mesti dishare, mesti melapor. Itulah, sebenarnya saya pun tidak bgitu nyaman sama orang yg terlalu sering curhat di fb. Ingin sekali kukatakan, bahwa fb itu bukan apa2, tak harus menjadi semacam candu yang mudah sekali mengatur hidup. Sebenanya, saya pun telah beberapa kali berencana menutup akun saya, meskpun tak pernah jadi sampai sekarang.

Dari dulu memang kusadari, saya memang tak pandai mengungkapkan sesuatu dengan cara yang lucu dan menyenangkan, tak pernah saya bisa menggoda orang dengan ceita tak masuk akal namun disenangi, apalagi membuat org menangis karena ceritaku. Mungkin seperti yang selama ini org sangka: saya terlalu gugup, terlalu pesimis. Maka kuputuskan saja untuk mengungkapkan segalanya dengan menulis. Sesuatu yang menurutku lebih saya kuasai ketimbang berbicara langsung.

Makanya, saat ini kuputuskan untuk menuliskan semuanya, dan mungkin takkan kujawab tentang musabab pertanyaan yg kulontarkan di awal tadi. Kalau saya bersedih, mestikah ada alasannya? Harusnya ya, segala sesuatu yg terjadi memang butuh alasan. Tapi ini? Saya sendiri tak tau bisa bgini, hingga saya merasa tak butuh alasan utk bersedih, atau lebih tepatnya tak perlu kukatakan padamu alasannya, karena tak dikatakan pun pasti tahu. Pun, saya tak bgitu senang dgn nasehat yang memintaku tabah, sabar, dan semacamnya.

Kehilangan org dicintai memang sakit. Seperti kehilangan segalanya, kekuatannya mampu melenyapkan segala mimpi, bahagia, dan membuat kita seolah tak berjarak dengan sepi. ia hadir begitu saja tanpa kuasa dibendung, tanpa bisa dicegah, lalu kemudian  membawa lari satu2nya alasan utk melanjutkan hidup. Sekedar tahu saja, ia sangat mencintaiku, bahkan sebelum kepergiannyapun namaku selalu disebutnya, bahwa betapa ia ingin diriku jd org . Dan betapa aku pun berupaya mewujudkan yg ia inginkan dariku, tapi tak sempat lagi.

Lamami memang beliau pergi, sudah lebih 8 bulan, tepat di akhir tahun, dan dimusim hujan. Tapi sejak saat itu selalu ada masalah dengan diri kalau sedang sendirian, kalau bukan takut, pasti menangis, dan hujan menjadi musim yg datang tak beraturan di hati, semaunya. Lalu, semuanya terjadi begitu saja, seperti tak membutuhkan alasan utk terjadi. Juga menjadi slah satu pengompor utk mewujudkan cita-cita lamaku untuk pergi, dirantau, meninggalkan makassar dan kampungku.

Entah ini karena apa, sy merasa kek… hidupku bermula dari situ. Dan lagi2 entah knp, pada musim hujan kali ini saya mrasa perlu menuliskan ini dsini. Juga, ini adalah rencana ksekian saya utk tak terlalu aktif membuka fb saya, atau membukanya hanya utk sesuatu yg penting saja.