Pages

Kamis, 27 Agustus 2015

Masyarakat Bajau, Tentang Kepuhunan dan Kisah Cinta Remajanya


*Sebuah riset sosial, yang berdasar persepsi pribadi penulis!
“Jangan pergi dulu dek, singgah dulu sebentar. Nanti Kepuhunan!”
Sesuatu berdebar di hati saya saat perbincangan kami pertama kali dengan komunitas masyarakat Bajau. Saat itu, saya yang serupa mahluk asing (dari luar angkasa), hinggap secara misterius di sebuah komunitas komunal (suka berkelompok), yang tak kutahu adatnya bagaimana, apa agamanya, makanannya apa, dsb. Dan saat itu, kujumpai kalimat aneh pertama kali: Kepuhunan. Yang selanjutnya, biasanya terdengar lebih lengkap: Jangan dulu pergi, nanti kepuhunan.
Sekarang telah kumengerti benar, kepuhunan, yang merupakan bahasa yang paling sering saya temui di Maratua… Adalah Sejenis mitos, (sejenis pamalik) yang dipercayai, dipopulerkan, dan dianut secara turun-temurun. Masyarakat Bajau yang ramah dan punya sikap pemurah tak terkira, akan merasa tidak senang saat menawari makanan dan tidak di makan. “Nanti kepuhunan” mereka bilang.
Kepuhunan dalam bahasa bajau, artinya: tertimpa pohon, sebuah bahasa kiasan yang berarti pula: celaka, kena balak, tidak beruntung diperjalanan. Hal ini sesuai dengan falsafah kehidupan laut mereka yang hati-hati dan tidak boleh sembarang bertingkah. Kalimat sejenis, misalnya; Jangan main-main di laut, atau jangan buang perangai di laut” Artinya, bisa saja terjadi bahaya, balak yang diluar kendali kita, yang disebabkan oleh setan.
Mereka sudah mengerti, pusatnya setan ada di laut, kerajaan setan bertempat di laut, dan iblis pun memimpin, merencanakan, dan mengendalikan pasukannya untuk menyesatkan manusia, dilaut. Makanya, di masyarakat suku Bajau, kalau ditawari makanan, harus makan. kalau dipanggil singgah untuk minum teh, harus minum dulu biar sedikit. Kalau akan memancing, dipesankan untuk tidak main-main (di Makassar saat bepergian, orang tua kita akan berpesan, hati-hati di jalan - pembeda) Saya pikir, itu juga berkenaan dengan kepercayaan tradisional mereka yang (sekarang) telah berbaur dengan islam, di dada mereka.  
Masyarakat bajau, cewek-ceweknya cantik-cantik, manis-manis (seperti gula), dan senang berkumpul. Saat melihatnya pertama kali, kubayangkankanlah situasi kampungku di masa lalu, saat saya masih SD. Di sore hari, cewek-cewek telah berduyung-duyung ke sumur memakai daster, mereka berkumpul di sana bukan untuk mandi sebagai tujuan utama, melainkan ngobrol dan cerita-cerita. Di sini, fenomenanya agak mirip, kalau sore dan sedang tak main volly, cewek-cewek berdaster akan terlihat berjalan bersama (sekarang sudah berubah, yg berdaster justru ibu-ibu), berkumpul di dermaga, berkumpul di sana membentuk lingkaran. Hape di tangan masing-masing.
Saban malam, usai isya, usai segala aktivitas seharian yang membosankan dan itu-itu saja. Para remaja kemudian akan menghambur lagi ke dermaga. Duduk bergelap-gelap dengan masing-masing menenteng hape (hanya di sini tempat bersignal). Di sanalah para setan berkerumun, di sanalah awal mula semua pertemuan, menemani anak-anak muda yang duduk mojok berpasangan tanpa menghiraukan orang lain. Seperti telah mahfum olehmu, kawan. Di zaman sekarang, remaja mana sih yang tak punya pacar? Kegilaan pada dunia kecil ini seperti cacar yang menyerang hati remaja-remaja Indonesia. Pun, sekumpulan remaja pedalaman Kalimantan terasing di pulau. Tentu saja kecuali dua orang pria perantau Makassar yang pernah tinggal di perumahan kompleks sekolah -_-
Kisah cinta mereka skeptik. Berpacaran, ---biasanya budaya berpacaran mereka dilakukan semenjak smp, putus-nyambung dengan orang yang berbeda, hingga akhirnya putus, atau (harus) menikah, bukan karena nikah paksa seperti dalam novel sitti nurbaya, tapi karena terpaksa nikah---, ketemuan, duduk berdua di dermaga. Para lelaki tak mengenal cinta sebagai perjuangan, pengorbanan untuk mengejar panaik yang banyak, terpaksa berpisah karena lanjut sekolah, kisah cinta terbentur adat, atau karena ditolak karena alasan-alasan ekonomi dan keturunan. Tak, masyarakat bajau tak mengenal itu. Mereka mengenal menikah dalam proses yang sederhana, tak berkelok seperti adat bugis, terjadi begitu saja, dan tak terkesan begitu sakral penuh adat.
Barangkali (ini hanya barangkali), tak ada diantara mereka yang pernah membaca kisah cinta romeo-juliet, fahri-aisyah, laila-majnun, ikal-a ling, arai-zakiah, atau kisah cinta semacamnya yang butuh pengorbanan, semisal kisah cinta yang sang wanitanya telah terlanjur mengunci hatinya baik-baik, lalu kuncinya dilempar ke dasar samudra dan sang laki-laki mesti mendapatkannya terlebih dahulu. Dasar samudra itu sangat gelap, butuh senter tercanggih buatan jepang. Celakanya, kunci itu dijaga oleh tujuh ekor hiu gergaji yang besar, hiu itu ganas-ganas, dan hanya bisa ditaklukkan dengan racun penawar khusus agar hiu itu mabuk dan tertidur. untuk mendapatkan racun penawar itu, dibutuhkan bertapa 40 hari 40 malam, tak makan tak minum disebuah goa angker. Untuk ke sana harus izin dulu sama penjaga gua, membawa seorang perawan berkulit putih yang tinggal di sebuah desa di afrika………dst. 
Tapi kisah cinta mereka tetaplah pada kegilaannya. Semua cerita tak masuk akal, yang tidak butuh penjelasan, yang (orang bilang) buta itu, tetaplah mereka jalani segitunya. Seperti kebanyakan remaja tak tegas, yang umumnya takkan mampu mengendalikan peran dan diri. yang akhirnya jatuh pada kubangan penyesalan, seperti air yang jatuh di pembuangan.
Pada Remaja Bajau, saat ada pesta pernikahan, dikenal pula istilah: acara muda-mudi. Berupa acara buat para anak muda (yg biasanya) bersama pasangannya masing-masing (yang tak punya pasangan akan merasa terasing), menghadiri pesta di malam hari. Tak tanggung-tanggung, disediakan tempat untuk senang-senang, di malam hari pula. Dihibur biduan khusus, saban malam beberapa akan berjoget bersama, ditemani goyang dumang, morena, dan music discotik.

Seni dan hiburan, adalah dunia mereka, olahraga adalah detak nafas mereka. Sebuah apresiasi membanggakan apabila terdapat acara seni atau olahraga di kampung, menunjukkan identitas khas yang melekat pada budaya mereka. Unik dan Mengesankan!
*Dhito Nur Ahmad

Berkenalan dengan Alam Maratua

Kawan, sudah pernahkah kalian ke Maratua? Atau begini, sudah kenalkah kalian dgn Maratua, atau paling tidak pernah mendengar atau membaca nama Maratua? Mari, akan kuajak kalian berkenalan. Mr. Robert, bule’ dari polandia pernah kumintai pendapatnya, ia berujar: Very beautiful young man. Like a little paradise! Maratua, terletak di utara, keindahannya tak diumbar-umbar, tak terlalu diekspose, hingga tentulah tak sepopuler pantai Kuta di Bali, Pantai Senggigi di Mataram, alam Raja Ampat, atau pantai Losari di Makassar. Tak. Maratua berbeda. Ia tersembunyi, jauh ke utara, di batas laut Negara tetangga. Ada banyak destinasi yang bisa kawan kunjungi dan nikmati. Kalau suatu nanti kawan berkunjung ke sini, dan jika kalian berjalan di sepanjang pulau yang melengkung seperti huruf J, kalian akan disambut dengan udara yang lembut dan segar, udara yang tak dingin dan tak panas, seperti memang telah ditakar Tuhan untuk dipaskan di hati. Kemudian, lihatlah ke sekitar: pepohon yang masih belantara, dan monyet-monyet bergelantungan di atasnya, laut yang berpendar biru muda, menjilati pasir putih, beburung yang terbang, dan delta yang melengkung seperti telah disolek secantik mungkin oleh Tuhan.
Mari! Mari kawan, akan kubawa kalian jalan-jalan mengelilingi pulau eksotik ini. Pertama, akan kukenalkan kalian kampung tempat tinggalku. Kampung Payung-Payung, merupakan bagian dari empat kampung yang ada di pulau: Bohebukut, Bohesilian, dan Teluk Alulu. Saat kalian ke Payung-Payung, tentu saja kalian turun di ujung dermaga. Berjalanlah kalian di sepanjang dermaga itu. Keluar dari dermaga menuju perkampungan, kalian akan disambut dengan gapura besar, memampangkan sopan sebuah tulisan penuh adat “ Selamat Datang di Objek Wisata Pulau Maratua Kabupaten Berau”, dengan patung penyu di kanan kiri sebagai pengawal. Selepasnya, rumah kecil-kecil berbaris tak rapat, jalan lurus-lurus tak beraspal, dan para pejalan tak beralas kaki lalu lalang di bahunya. Di kanan kiri jalan tertata rapi sekali pepohon kelapa, berjejer memanjang seperti barisan upacara. lalu seratus meter dari tempat itu, hanya diantarai sebuah lapangan sepak bola, terdapatlah sebuah sekolah, tempatku mengukir kisah bersama adik-adik siswa. Antara dermaga, lapangan sepak bola, masjid, dan sekolah, merupakan pusat kampung payung-payung. Di dominasi warna hijau dan biru.
Di hadapan kampung itu, sedikit menjauh, terdapat pulau cermin raksasa di tengah laut: Pulau Kakaban, tempat ubur-ubur terbaik dunia berada. Di sebelah baratnya, terdapatlah pulau Sangalaki, merupakan tempat penangkaran penyu alami. Penampakannya kecil seperti spot di tengah laut, pasirnya bersih dan dipenuhi bekas rayapan penyu. Telah pernah kami kelilingi dengan jalan kaki di putih pasirnya, dibelai semilir anginnya.
Mari, kita ke utara, menemui gugusan pulau lain yang ada. Tepatnya di ujung terutara, terbentanglah dua pulau kembar, bernama Bakungan. Saya telah dua kali ke sana, tidur2an di dermaga panjangnya, dan menatap berlama-lama ke utara. Tak ada apa-apa lagi setelahnya, kecuali lautnya yang sangat biru pertanda sangat dalam, membentang kosong hingga ke filipina.
Jika kalian pernah berkunjung ke Maratua, saya yakin kalian pasti akan mengingatnya sampai sekarang. Saat matahari pertama kali menyinari bumi, kalian akan disambut dengan kicauan burung yang bersahutan, monyet yang berangkulan. Lalu, dari pantulan embun yang membasahi pepohon bermunculan warna-warni seperti pelangi, seperti selendang para bidadari yang selalu menari penuh bahagia. Para warga telah mengenal kedamaian adalah nafas, seperti detak jantung yang berdentam setiap detik, alam di kampung adalah hidup mereka. Kalau kawan ke sini, demi Tuhan, kawan tidak akan menemui air yang meninggi yang menggenangi rumah, tidak akan pernah ada kemacetan-kemacetan menjengkelkan, suara-suara bising kendaraan, dan keadaan yang runyam saat anak-anak muda turun ke jalan dan melempar batu sembarangan.
Di selat, terdapat 4 gugusan pulau cantik, hanya dua yang berpenghuni (rumah wisata) yaitu Pulau Papandangan dan Nusa Kokok. Pulau tercantik dan menjadi icond adalah Pulau Papandangan (atau lebih popular disebut pulau Nabuko –disebut begitu karena wisata pulau ini dikelola perusahaan wisata jerman yang bernama PT. Nabucco--).
Sebenarnya saya telah beberapa kali ke Nabuko dan saya tak pernah bosan dengan sensasinya. Sebab air laut pandai sekali memainkan peran. Ketika surut tiba, tampaklah pasir putih membentang yang bagus ditempati main-main dan berkejar-kejaran. Jikalau pasang, tempat itu jadi laut dangkal yang dirambati berbagai jenis ikan jinak, itu berarti aktivitas snorkeling jadi mengesankan. Saya pernah melihat penampakannya dari atas gunung putih, daratan tertinggi maratua. Dari sana, Nabuko begitu menggoda dengan penataan artistik. Pantainya dikelilingi rumah-rumah bule menghadap kelaut dengan teras memanjang sampai ke laut dikokohi tiang-tiang yang panjang. Dari puncak gunung itu pula, tampak deretan kelapa yang berbaris. Kalau air surut, pasir putih akan membentang membentuk lingkaran tak jauh dari hadapannya sampai ke Pulau Nusa Kokok. Di siang hari, di sanalah bule-bule berjemur sepanjang surut.
***
Kalau hujan turun, pelangi warna-warni selalu. Berpadu puncak pepohon kelapa dan chery yang tumbuh banyak di pekarangan. Kalau panas, laut akan menghembuskan nafas segarnya ke pulau, meniup pepohon dan segenap mahluk-mahluk yang ada di bawahnya. Ketika kita ingin memancing, tak perlu jauh-jauh ke tengah laut, di ujung dermaga pun, bisa dapat ikan. Mata kalian akan kian terbuka, ketika melihat penyu menyerbu pagi di dermaga, selalu. Ada ratusan penyu yang selalu datang ke pantai, memutar-mutar, bermain-main di air dangkal, sambil sesekali menyembulkan nafasnya ke udara.
Sementara, sekolah kami (SMPN 27 Berau) beragam buah meneduhinya. Cabang-cabang buah kedondong tinggi berkilat-kilat memampangkan buahnya yang ranum menguning dan tak dipedulikan, kalau pagi burung-burung segala rupa rajin bermain-main di situ, meloncat-loncat penuh bangga ke pohon ketapang, nangka, kates, lalu menjarah buah-buah cherry yang tumbuh di depan rumahku. Saat kupusatkan pendengaranku pagi-pagi, duduk bersila memejamkan mata di teras, serupa pekunfu shaolin yang sedang bertapa, saya begitu dapat merasai semilir angin yang menggerakkan dedaun, dan bunyi-bunyi beburung itu seperti mahluk-mahluk dari surga yang meniupkan keindahan sampai ke kalbu.
Mari, kawan. Akan kuajak lagi kalian ke Kampung Bohesilian, di sini terdapat Objek wisata Teluk Pea, Ombok-Ombok, Gua Angkal-Angkal, Danau Haji Mangku, dan Goa Sembat. Hutannya luas, belantara dan curam. Sementara, di Kampung Bohebukut yang merupakan ibukota kecamatan, terdapat Maratua Paradise, Maratua guest house, Goa Organ, Danau Tanah Bambang, dan Goa Keheabok. Antara kampung Bohebukut dan Payung-Payung, terdapat lagi danau besar nan cantik: Haji Buang, begitu damai dan asli. Kalau kawan bersampan ke tengahnya, akan kawan temui segala rupa ubur-ubur dan monyet2 yang berangkulan di deltanya. Kalau dari gunung putih, penampakannya serupa kelokan ular bercabang: Mengesankan.
Kalau ada waktu, berkunjunglah suatu nanti, kawan! Akan kawan temui sebuah dunia yang kan membuatmu jatuh cinta pada alam, pada petualangan…. Kawan!

*Dhito Nur Ahmad (Peserta SM-3T UNM di Maratua) 

Rabu, 26 Agustus 2015

Dalling, Kesenian Artistik Masyarakat Bajau

Kalau kawan pernah berkunjung ke Mayarakat suku Bajau, tinggal beberapa hari di sana, atau menghadiri salah satu pesta rakyatnya, pasti akan berkenalan dengan kesenian ini. Sebuah tarian, yang tentulah tak sepopuler Tari Saman di Aceh, Tari Jaipongnya Jawa Barat, Cakalelenya Papua, Tari Kecak di Bali, atau Tari Pakarena dari Makassar. Tapi Dalling, tetaplah eksis di komunitasnya, tetaplah pada ciri khasnya yang unik dan elegan. Merupakan tarian khas suku Bajau, kesenian yang sangat dicintai masyaraktnya, dipelajari dan ditarikan cewek-ceweknya sejak kecil, lalu dipentaskan pada setiap event, tak terkecuali di sekolah, atau event khusus (semisal pramuka) di tingkat kabupaten dan provinsi. Kalau Kawan orang penting dan suatu nanti ke Bajau, pasti juga akan disambut dengan tarian ini, memikat!
Selayaknya tarian bermuasal story sebagai tarian penyambut tamu atau penghibur raja di masa lalu, tarian ini mengutamakan kekompakan, ditarikan dengan glamour, elegan, dan diiringi musik khusus yang semarak, selayaknya tarian kebanyakan. Yang berbeda adalah pergerakannya lincah dan bisa dengan bebas divariasi sesuai kesepakatan para penari tanpa takut melanggar hak cipta.
Tak seperti tarian lain yang telah memiliki pergerakan khusus, dalling memiliki banyak sekali jenis, banyak variasi, dan banyak versi, yang kesemuanya itu bernama dalling, tanpa nama khas dari satu jenis movement. Inilah yang berbeda, dan ini menjadikan setiap tariannya tak terikat pada suatu kesepakan gerakan oleh penciptanya di masa lalu.
Masyarakat suku bajau yang memiliki apresiasi seni yang luarbiasa, juga aktivitas di pulau yang tak menyediakan banyak pilihan, membuat orang-orangnya haus hiburan. Membuat kesenian ini begitu popular. Saban hari, saat terjadi pesta rakyat, atau penyambutan pejabat, mengalirlah musik semarak, diiringi gadis-gadis yang (barangkali) sengaja dipilih yang cantik-cantik yang bergerak seiring sejalan menarikan tarian ini. Apalagi ditambah cewek-cewek suku bajau yang memang cantik-cantik dan manis-manis (hehe..h.)
(Tia, Welin, Lili, Elsa)
Tim Dalling Kelas VII SMP27
(Wirda, Emy, Amelia, Ariva)












Di sekolah, pada dua event seni yang pernah kami laksanakan (porseni sekolah dan Jambore kecamatan). Kompetisi dalling menjadi hal yang paling diminati, paling banyak pesertanya, paling ditunggu-tunggu, dan saat tampil paling banyak ditepuktangani. Mengenai hal ini, saya dan Adi (Peserta sarjana mendidik di SMPN 27 Berau) merupakan yang paling tertarik dan banyak bertanya, scaara kami berdua adalah dua pria baik-baik -__- yang belum banyak mengenal kebudayaan bajau.
Tak banyak yang paham, bahkan mungkin anak2 suku bajau pun belum banyak yang mengerti, Dalling membuatku terpaku pada dua keheranan: mengapa euphoria orang-orang sebegitu besarnya pada pertunjukan dalling, dan mengapa penarinya selalu anak muda (biasanya cewek-cewek)  Saya pernah secara khusus bertanya ke seorang siswa, yang juga penari dalling. Apakah tidak risih menari gaya begitu di hadapan semua orang? Yang gerakannya (Menurut pendapatku) terlalu bebas buat anak-anak (apalagi anak gadis), hingga tentu saja bertentangan jauh dgn agama mereka, yang pertanyaanku itu justru dibalikkannya padaku: mengapa mesti risih?
Saya pun sampai pada kesimpulan, ini memang kesenian yang fantastif, yang murni kesenian, yang selalu, tak ada karya seni yang sempurna. Karena kesempurnaan hanyalah persoalan subyektifitas penilai. Justru, acungan jempol dan perasaan bangga sangat layak diberikan atas kecintaan masyarakat suku Bajau pada produk keseniannya. Keinginan mereka agar Dalling tetap eksis telah sunguh-sungguh terwujud, dan ini adalah sisi fantastis lain yang patut untuk diapresaisi…. Dan itu membuatku menemukan banyak alasan untuk berbahagia, tinggal di komunitas masyarakat suku Bajau.
Dhito Nur Ahmad




Senin, 16 Maret 2015

Maratua, Paradigma Sosial dan Pendidikan!

Maratua, adalah salah satu pulau yang terdapat di kabupaten berau, kaltim. Berpenduduk 40% perantau, yang berasal dari banyak daerah yang berbeda. Pulau ini berpenduduk asli Suku Bajau, dan juga didiami suku perantau: Bugis, Makassar, buton, dayak, jawa, dan Lombok. Tidak keliru rupanya pulau ini dijadikan sebuah pulau pariwisata oleh pemerintah kabupaten berau. Alamnya indah, pohonnya banyak, dan pantainya bersih berpasir putih.

Di pulau inilah, kami (sarjana mengajar SM-3T Univeritas Negeri Makassar) ditempatkan, menjadi salah satu pulau yang dianggap perlu diberdayakan oleh pemerintah. Tidak tanggung-tangung, saya (Dhito), ditempatkan bersama 3 teman lain (Putu, Adi, Chaerul), menjadi bagian dari rombongan (keluarga) besar SM-3T UNM, memaksimalkan berbagai macam persiapan, dididik dengan keras, lalu di sebar ke banyak daerah di Indonesia (Berau, Manokwari, Teluk Bintuni, Waropen, Kepulauan Sitaro, dan Kepulauan Aru)

Di Kabupaten Berau, kami berangkat berombongan dari Makassar sampai ke sini. Maka berkumpullah kami, ke-29 peserta sarjana mendidik di kabupaten yang beribukota Tanjung Redeb ini, disambut, difasilitasi, lalu disebar ke berbagai kecamatan (Maratua, Derawan, Batuputih, Tabalar, Talisayan, Kelay, Segah, dan Biatanhilir)

Saya, yang ditempatkan di pulau maratua. Lalu apa yang terjadi dengan kami, dan bagaimana keadaan alam, penduduk, dan pendidikan di pulau ini? Kami mengalami semacam shock condition, menyalami berbagai macam peristiwa yang mengejutkan dan diluar perkiraan, dipaksa beradapatasi dengan cepat, dan dibuat pontang-panting melayani siswa-siswa. Kami dianggap orang yang sangat pintar, bahkan terlalu pintar untuk seukuran kepala mereka. Mampu bekerja selayaknya mesin, mengajar dari pagi sampai jam pulang, dan mampu mengajarkan hampir semua mata pelajaran yang tak ada gurunya.

Kami mempercayai sepenuhnya bahwa untuk menciptakan pendidikan berkualitas dan mencetak siswa yang ideal diperlukan berbagai macam sarana vital pendukung. Semakin lengkap sarana pendidikan yang ada, semakin tinggi pula peluang untuk mencerdaskan. Siswa-siswa di maratua, tepatnya di SMPN 27 Berau, nampaknya mengalami masalah pada hal itu, disamping (tentu saja) kualifikasi guru dari segi kualitas dan kuantitas yang kurang.

Maka tentulah, hal yang mudah kita perkirakan akan terjadi, tak perlulah kita tanyakan kualitas siswa-siswa. Mereka tinggal dilingkungan terisolir, air bersih mngandalkan hujan, barang-barang dua kali lipat lebih mahal dibanding Makassar, tak ada listrik, dan juga tentu saja tak ada tv dan radio. Maka hasilnya adalah, mereka kebanyakan masih kesulitan memaknai beberapa kata yang didaerah lain sudah lazim diucapkan, seperti kata: definisi, tragedi, tragis, kritis, motto, apresiasi, dan semboyan.

Positifnya banyak juga. Kebanyakan orang tua-tua mereka sopan, sangat sopan malah, apalagi kalau sama guru. Meski tak serupa halnya dengan siswa-siswa, yang kebanyakan bandel selayaknya anak remaja kebanyakan. Hal santer dan paling mudah disalahpahamkan saat ia memanggil kau pada gurunya, tapi setelah mempelajari seksama, saya berkesimpulan bahwa itu bagian dari budaya mereka, bagian dari kebiasaan umum yang sulit dirubah, dan itu berterima sebagai hal yang sopan dalam lingkungan umum mereka. Hal positif lainnya, tentu saja mereka terhindar dari efek buruk teknologi, dan masih mengandalkan permainan traditional.

Sebuah kisah, beberapa bulan saya di maratua. Ada rombongan artis datang dari Jakarta, termasuk diantaranya jenifer lopes, budi doremi, dan rombongan kru tv, mereka sedang syuting acara “paradise” di kompas tv dan “mancing mania” di trans7 (kalau tidak salah). mereka stay di sana selama tiga hari, pada sebuah tempat penginapan yang kebetulan berdekatan dengan tempat tinggal saya.
Sore hari mereka menghambur bersama ke Dermaga Pelepas Rindu (disingkat DPR), satu-satunya dermaga bersignal, berbaur dengan masyarakat, mereka berusaha menyapa, dan tak ada diantara mereka yang merespon berlebih atau memperlakukannya selayaknya fans seperti di daerah lain. Tak ada yang peduli, tak ada yang ingin foto bersama, atau lebih tepatnya tak ada yang mengenali, bahkan tak ada yang tahu bahwa mereka ini adalah yang sering nongol di tv. Saya kemudian membayangkan kotaku, Makassar. Di sana, artis diperlakukan selayaknya orang mulia, dipuja dan dijadikan idola. Kedatangannya direspon dengan segala macam tindakan aneh, panggung diirikan, orang dikumpulkan, dijadikan tempat beriklan, wartawan didatangkan, lalu menjelmalah artis itu seolah berhala yang punya banyak penyembah.

Sisi kurangnya, siswa tak update informasi ilmu terbaru. Kualitas intelektual siswa stagnan dan itu-itu saja. Di sekolah pekerjaan guru makin berat.




Perubahan kualitas siswa yang tidak dibarengi perubahan kualitas guru mrupakan sebuah kemustahilan, sedangkan perubahan itu sendiri menjadi keniscayaan yang pasti dan harus terjadi. Sebutlah misalnya, apa yang terjadi di smp 27 berau, meskipun fasilitas sekolahnya bisa dibilang standarlah untuk daerah sekelas maratua yang terluar dan terisolir, tapi secara kuantitas mereka kekurangan guru, ditambah lagi jika salah satu guru punya urusan di tanjng redeb, bisa berpekan-pekan baru kembali. Penyebabnya apa? Karena ombak, perahu yang melintas kurang, speedboat yang harganya mencapai 300ribu sekali pergi, dan juga (sebagian besar karena) kesadaran pengabdian mreka yang masih kurang. Belum lagi secara kualitas, kualifikasi mereka belumlah layak disebut ideal, meskipun kata ideal ini masih menjadi sesuatu yang sangat luas untuk diperbincangkan.

Meski, tahukah? gaji PNS di sini berkisar antara 8- 12 juta per bulan, kepala sekolah tentulah lebih dari itu. Gaji PTT (Honorer kalo di Makassar) di sini mencapai 5,2 juta per bulan. Tapi secara kualitas kerja, memprihatnkan untuk diperkatakan, kawan. Pengawas sekolah meski ada dan bergaji tapi (seolah) tak pernah ada, tak pernah ke sekolah (smp 27) lihat keadaan. Itulah sisi lain yang mengherankan dan perlu dijawab. Pemerintah bukannya tak tahu, sekretaris dinas pernah curhat ke saya dan mengatakan penyakit guru-guru di Berau, yang kebanyakan malas dan sulit diatur. Tapi ia menunjukkan optimism bahwa semoga sm-3t banyak membantu di situ.


Di Sekolah saya (mungkin jg di sekolah lain di berau). Bahan pemicu pertengkaran antarguru adalah uang Bosda dan Bosnas yang jumlahnya tak kira-kira itu. Jumlahnya ratusan juta, sementara yang hendak dibiayai tak banyak, maka jadilah dilemma. mengelola uang bukanlah keahlian guru. Perdebatan sering terjadi, belum lagi guru dan kepala sekolah yang mengurusi itu biasanya sangat lama dikota mengurusi dana BOS dan meninggalkan tugas utamanya di pulau. 

Minggu, 21 Desember 2014

Senyum Anak-anak Teluk


Saya sungguh terharu pada perjuangan anak-anak Teluk Alulu untuk dapat sekolah. Kehidupan mereka taklah anak-anak sekolah kebanyakan di Indonesia. Kampung mereka jauh di pulau, ditempuh dengan darat sejauh 7 kilo meter, lalu dilanjutkan dengan perahu kecil (katinting) selama satu jam perjalanan. Mereka, umumnya adalah anak-anak nelayan, kopra, dan pemanjat kelapa. Hidup melarat di kampung terluar, terpencil, dan tertinggal. Di sana, mereka terabaikan, dikampung yang seolah ditelan laut luas, sejak kecil tak pernah berkenalan dengan listrik pemerintah, bahkan ada yang mengaku tak pernah menonton tv, hingga Indonesia yang di kepalanya hanyalah sebatas pulau tinggalnya saja.

Saya pernah ikut berlibur ke kampung mereka, menyebrang dengan katintin yang mereka nahkodai sendiri. Di katinting, mereka bercerita tentang kampong mereka dan berjanji mengantarkanku ke tempat-tempat yang indah. Di kampung merekalah saya paham: Seorang anak, berusia belia yang belum mengerti hidup dan tak ngerti pentingnya sekolah, harus berjuang melewati beratnya rintang, meninggalkan kampung dan belajar merantau sejak smp untuk dapat sekolah. Mereka, sudah harus sadar sejak dini, melawan orang tua saat masih kecil lantaran pesimisme orang tua-tua pedalaman yang masih tak percaya dengan sekolah. Kalau tidak, taklah bisa mereka sekolah, menjadi bagian anak-anak kebanyakan yang setelah tamat SD tinggal di kampung membantu ayah menangkap ikan dan bertani kopra.
*Buat Mereka, Teluk Aluluan: Elsi, Reki, Tio Van Hoten, Septori, Lili Trikia, Ari Andi Ramadan, Wardi, Achmad Rido, Sanipa, Bella Sheilvia, Emy Syafitri, Sarwenda, dan Yoland


Maratua, Berbahagia dalam Keterbatasan

*(Risto, SMPN 27 Berau di Pulau Maratua)

Maratua… merupakan salah satu pulau penempatan peserta SM-3T Universitas Negeri Makassar. Terletak di Pulau terluar Kabupaten Berau-Kaltim, yang berbatasan laut langsung dengan dua negara tetangga (Malaysia dan Filipina). Hanya terdapat dua kendaraan menuju ke sana, yang pertama dengan menggunakan kapal barang, butuh 12 jam kurang lebih perjalanan dari Tanjung Redeb dengan kendaraan ini, berbiaya normal 50 ribu rupiah (biasanya sang nahkoda menggratiskan untuk guru-guru yang mengabdi di pulau). Sedangkan, akses yang kedua bisa ditempuh dengan speedboat, ditempuh 4 jam dengan biaya 250 ribu rupiah. Pulau ini berpenduduk asli Suku Bajau, berbaur dengan suku perantau yang kebanyakan Bugis dan Jawa.

Sejak pertama kali datang, rasanya tak ada yang paling sakit saat mengetahui dan mengalami segala realitas kehidupan daerah pedalaman yang terpencil dan terisolir. Tak pernah ada listrik pemerintah, penerangan hanya mengandalkan genset yang menyala dari maghrib hingga jam 10 malam. Barang-barang kebutuhan sangat mahal, air hanya mengandalkan hujan, dan tak ada signal, satu-satunya tempat bersignal adalah di dermaga (Dermaga Pelepas Rindu). Maka, angin malamlah yang lebih banyak menyaksikan, angin yang sejak beratus-ratus tahun lalu selalu setia menggerakkan pepohon kelapa yang berbaris rapi di semenanjung. Saya selalu setia di dermaga, melepas rindu pada dunia luar. Beranjak bersama malam, dari satu kesepian menuju kesepian berikutnya.

Sebagai daerah terpencil, dan berbatasan laut langsung dengan Negara tetangga. Salah satu masalah terbesar adalah nasionalisme. Kemampuan terbaik selalu berusaha kuberikan, membantu peserta didik bergembira dalam belajar. Memastikan, bahwa mereka, anak-anak negeri dalam keadaan baik-baik saja, tak kurang suatu apa di dadanya, tak pudar segala semangat di hatinya. Kami tak hanya belajar di kelas, berdialog diselingi canda dan tawa, biar mereka terbahak meski suguhan situasi sama sekali tak menawan

Hingga akhirnya secara perlahan, saya telah semakin bisa beradaptasi, telah makin cinta pada masyarakatnya yang ramah, terharu pada perjuangan anak-anak pulau untuk dapat sekolah, dan terpesona pada kecantikan alam Maratua yang para turist menjulukinya sebagai “paradise islandTak apa beras mahal, dan kami hidup dalam segala keterbatasan, tapi Maratua, selalu menawarkan petualangan yang mengasyikkan, membuatku mampu menaklukkan banyak hal dan makin merasa sebagai “laki-laki”… dan akhirnya, saya makin menyadari suatu hal… bahwa Semakin terbatas, semakin kita menemukan banyak alasan untuk berbahagia.
  

   

Minggu, 14 September 2014

Catatan Perjalanan (29 Bolang SM-3T) Di Berau*

Oleh: Dhito Nur Ahmad (Risto)

Sore, 29 Agustus 2014, setelah menempuh perjalanan yang panjang dan melelahkan serta menyinggahi tempat-tempat yang asing. Akhirnya sampailah kami di Kabupaten Berau. Sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Kalimantan timur. Kami, rombongan sarjana mendidik (SM-3T), berjumlah 29 orang, didampingi dua dosen kereen kami (Pak Suardi dan Pak Jumadi), bermaksud ke Berau bukan untuk berwisata, bukan pula untuk jalan-jalan, tapi malam itu di kepala kami telah tergambar bahwa esok, kami akan masuk dalam sebuah ruangan yang (cukup) mewah, ada banyak orang, ada tepuk tangan meriah, spanduk yang dibentangkan besar-besar di hadapan, dan pajangan foto-foto yang dideretkan rapi di dinding. Pun, Pak Bupati akan menyambut kami secara khusus. Sekadar seremonial, yang pastinya akan ada ucapan selamat, akan ada ceramah panjang tentang pentingnya pembangunan kualitas pendidikan, foto-foto bersama, juga jabat-jabat tangan bersama. Dan itu semua dilakukan dengan ramah dan dipaskan untuk mngena di hati.

Dan betullah, pertama kali datang, di penjemputan area bandara kami disambut dengan hangat sekali oleh Pak Prapto, pak wakil kadis yang katanya diutus khusus oleh Kepala Dinas untuk menyambut kami. Senyumnya lebar, kumisnya tipis, serta punya tata kesopanan yang seukuranku berlebihan. Kami diangkut dengan dua bus, masing-masing menuju ke hotel yang berbeda (Hotel Sanggam dan Nirwana). Berau adalah sebuah kabupaten yang tak bisa dianggap kecil, perjalanan dari bandara ke hotel kami rasakan lumayan jauh, 25 kilo kurang lebih. Kabupaten yang  beribukota Tanjung Redeb ini merupakan kota yang sedang berkembang dan membangun, dimana-mana kami disuguhi dengan pemandangan pekerja-pekerja proyek yang sedang memperbaiki jalan, di jalan-jalan umum kita disugui dengan pajangan-pajangan semacam: mohon maaf, jalan sedang dalam perbaikan, atau maaf, jalan Anda sedang dialihkan. Saya kemudian teringat tentang beberapa literatur dan berita yang pernah saya baca dan dengar, bahwa kaltim ini merupakan kota industri yang kaya dan punya sikap dermawan tak terkira. Penghasil batu bara, gas alam, dan minyak tertinggi, dan itu semua diserahkan dengan kereen dan elegan sekali pada asing. Sementara, telah kusaksikan sekarang, kotanya sendiri tak terlihat maju, dari rumah-rumah penduduknya tampak bahwa mereka belum sesungguhnya sejahterah. Dan saya yakin mereka telah dilukis dengan sangat professional oleh asing untuk tunduk dan patuh. Maka terngianglah di benak saya sebuah tindak yang paling saya benci: Kolonialisme.

Malam hari, akhirnya bertemulah 14 anak muda bugis-makassar yang sedang mengawali rantau di Kota Berau. Di hotel, pertemuan selalu makin kami intensifkan, percandaan dan segala hal remeh-temeh tentang tugas mulia, meluruskan niat, sikap patriotik, kemungkinan situasi buruk, dan juga tentang…hm, cinta, selalu kami bicarakan dengan hangat dan akrab. Hingga kami rasa tak ada ruang bagi kami untuk bersedih. Saya, zam, chaerul, dan iccank, menjadi serupa komoditi ekspor berkualias selangit diantara 10 perempuan-perempuan lain teman kami (chepi, ully, mirna, misna, kasma, lia, ani, irma, erna dan dillah). Scara… kami berempat adalah pria baik hati dan jauh dari sifat sombong (-__-)

Selain itu, tak lupa pula kami bicarakan tentang Paskhas, maksudku, kisah-kisah yang kami lewati bersama di asrama Paskhas-AU. Dalam hal ini, chepi, sebagai wanita paling cerewet dan mengaku diri paling cantik (heheh) paling banyak bercerita. Segala yang bernama penderitaan bersama, tentara-tentara yang keras tapi punya sikap lembut mengagumkan itu, tentang muasal niat kenapa bergabung di sm3t, tentang kemungkinan hidup malang selama setahun, juga tentang kejadian-kejadian lucu saat camping bersama di lereng bukit moncongloe, maros. Ah chepi dan ully adalah yang paling tau, telah sangat jago bercerita dan sepertinya sudah berpengalaman dengan segala hal yang berhubungan dengan perasaan. Dan saya? Yang merasa berkarakter asli pendiam dan berusaha memosisikan diri senyambung mungkin, tak banyak berkomentar apa-apa. Tapi atas nama kesetiakawanan, sebagai sumber untuk lebih banyak belajar, pun sebagai bahanku untuk menulis, kudengarkan semuanya baik baik, kusimpan di memoriku, juga kurekam beberapa adegan yang menurutku penting.

Maka betullah, saya memang yang harus lebih banyak belajar. Pertemuan kami selanjutnya, saya mengalami banyak hal yang mesti kupelajari lagi, semisal bagaimana menambah confident saat jadi korban percandaan teman, bagaimana membuat orang tertarik dan terkagum-kagum dengan ceritaku, juga tentang cara memberi semangat dan bangga pada diriku sendiri melebihi caraku melakukannya pada orang lain.

Apa yang terjadi pada kami selama berada di hotel, telah cukup menunjukkan bahwa kami sudah sangat akrab. Rahasia-rahasiaan telah sebagian besar dibongkar, hingga akhirnya kami harus mengakhiri moment kebersamaan itu dengan perpisahan yang mengharukan. Saya bersedih tentu saja. Moment terakhir kebersamaan, saat teman-teman sehotel, juga teman lain yang menginap di hotel nirwana bertemu bersama, pada sebuah acara penyambutan oleh bupati, kepala dinas, camat-camat, dan kepsek-kepsek di sebuah ruangan. Kami harus saling merelakan, Zam, sang wakorkab –bersama Pardin- bertugas di Kelay, mengajar anak suku dayak dalam Kalimantan. Ainun, sang sekretaris sekaligus inisiator dan yang paling banyak ide tentang kami, bersama Ika, Eni, Syifah, dan Innah di tempatkan di Kepulauan Derawan, sebuah pulau wisata yang indah dan terluar. Sementara Chepi, sang bendahara, bersama Kasma bertugas di Talisayang. Teman-teman yang lain, tersebar rata ke banyak daerah (Segah, Batu Putih, Tabalar, Biatan, dan Maratua) berjauhan satu sama lain.

Sebelum berpisah, tentu saja ritual yang tak kami lupakan adalah berfoto bersama, berlatarkan gedung dinas kota Tanjung Redeb, ke-29 orang teman, bersama kedua dosen pendamping kami (pak suardi dan pak jumadi) yang setelahnya menyalami kami dengan hangat sekali, membisiki kami kalimat menyemangati (terutama analogi adaptasi pisangnya Pak Suardi), dan juga mengingatkan kami untuk tetap menguatkan koordinasi.

Kami merasa masih harus bertemu dalam waktu yang tidak (terlalu) lama, untuk saling bercerita pengalaman di penempatan, untuk menyampaikan hasil observasi awal sebagai bahan program kerja pengabdian, mengalternatifkan segala masalah yang mungkin saja dihadapi teman di lokasi, dan juga memantapkan segala hal yang berhubungan dengan koordinasi. Kami (saya, zam, ainun, chepi dan teman lain) adalah orang yang paling membutuhkan bantuan dari berbagai pihak. Terutama, tentu saja kerjasama dan kebersamaan dari teman-teman SM-3T Berau yang lain, semoga segala yang telah dipogramkan dengan mantap sekali dapat berjalan dengan mengagumkan dan berujung pada hasil pengabdian yang mengesankan.

Akhirnya, sampailah kami di masing-masing penempatan. Saya makin merasakan, makna kebersamaan dan hangatnya persahabatan justru setelah kami berpisah. Sebuah sensasi membahagiakan, dan selalu saya rindukan. Sampai jumpa pada kisah indah kita yang lain. Salam hangat dari kami, dari pulau indah dan terluar, Maratua. (Dhito, Adi, Ilu, dan Putu)
*korkab