Pages

Kamis, 07 Maret 2013

Kisah Buat Langit

(Refleksi Akhir Studi)


“Sehebat apapun seorang pria, pria manapun itu, lihatlah, selalu ada wanita manis di dekatnya, mendampinginya. Karena hidup tidak pernah sempurna untuk dijalani seorang diri” (Anonim)
Ahhaaay..... Kalau itu ditarik ke kehidupanku, siapakah wanita manis itu? Orang jawakah? Orang Bugiskah? Orang Makassarkah? Atau jangan-jangan orang sekampungku sendiri!? Hohoh. Aku tak pernah tau, hanya Dia yang maha tahu. Semuanya telah tertulis di perkamen rahasia di atas sana. Hanya saja, aku ingat, aku selalu berharap (dan semoga begitu) dia adalah orang terbaik yang dianugerahkan Allah kepadaku.
Aku tahu, laki-laki yang baik untuk wanita yang baik, demikian juga sebaliknya. Aku sadar, manusia akan dipertemukan dengan orang yg sekualitas dengannya. Lalu bagaimana dgnku, bagaimana kualitas rupa dan diriku? Aah, aku malu mengatakannya padamu kawan, aku. Seorang manusia kebanyakan, manusia yang sangat biasa, bahkan terlalu biasa. Hanya saja aku tak mau mengidentikkan diriku dengan manusia-manusiaan seperti yang pernah dikatakan dosen sastraku, tidak, aku tidak mau kawan. Aku. Seorang yang berasal dari sebuah keluarga yang berpenghasilan rendah, keluarga sederhana - kalau tidak mau dikatakan miskin- yang sedang mengais kepercayaan diri dari lingkungannya, yang menyusun rencana untuk dapat sekolah, meski hanya bermodal nekad, do’a dan sedikit harap.
Rupa? Ah, rasanya ini lebih memalukan untuk diperkatakan. Tapi biar, biar kawan tahu. Aku selalu merasa cermin di kamarku itu selalu berbohong kepadaku. Makanya aku tak pernah menyukainya. Dialah yang mengatakannya padaku bahwa aku tak pernah gagah, jelek, jelek sekali, tapi entah, atau barangkali hanya cermin di kamarku itu yang telah membohongiku, aku berharap begitu, sangat berharap.
Yah, waktu telah bergulir lama sekali di hadapanku. 23 tahun. Berupa-rupa peristiwa telah menjumpaiku, aku telah berkenalan dengan banyak hal, berjabat dengan berupa-rupa warna kehidupan. Dan dari serentetan warna itu hal apa yang bisa kuambil sebagai pelajaran? Aku malu kawan, malu sekali, bahwa telah bertahun-tahun aku hidup, telah berpuluh tahun aku sekolah, dan lihatlah aku hari ini, mengenal diriku saja aku belum bisa.
Aku malu. Waktu telah berganti, dari detik, ke menit, ke hari, ke pekan, ke bulan, ke tahun, dan sampai pada ke 23 tahun umurku hari ini. Telah banyak hal yang berganti, presiden telah berganti, gubernur telah berganti, bupati di kabupatenku telah banyak kali berganti, gelarkupun sudah berganti, tetapi sepertinya isi kepalaku belum berganti.
Aku malu. Bahwa meratapi apa yang telah terjadi hanya sebuah kebodohan. Bahwa menyiksa diri dalam kubangan penyesalan hanya berakibat pada kekesalan pada diri sendiri. Toh, semua telah berlalu, telah habis dimakan waktu.
Kawan, aku tak hendak mengatakan bahwa aku tengah galau dengan kesendirianku sekarang, tidak. Aku hanya merasa tengah menyia-nyiakan banyak sekali waktuku. Berpuluh tahun kawan, 5 hari lagi genaplah 24 jatah umur yang telah kuhabiskan, entah berapa lagi jatah umur yang disimpankan Tuhan untukku. Entah bagaimanakah akan kuhabiskan sisa usiaku? Masihkah seperti hari-hari kemarin? Entah.
Sekarang. Aku tengah menanggung beban berat. Bagaimanapun, sarjana, di mata orang adalah orang yang pintar, orang ahli di bidangnya, sementara aku? Ahh…. Aku tak tahu, dengan bagaimana kan kutanggung beban yang di letakkan di pundakku itu.
Tuhan….. aku tak tahu bagaimana.
Sementara, tahu kah kawan? hatiku, selalu menuntut untuk menjadikan diriku orang yang layak diperhatikan oleh langit. Manusia yang manusia, bukan manusia-manusiaan. Laki-laki yang laki-laki jiwa raganya.
Malam ini, pada kisah yang kawan baca ini, anggap saja aku tengah berkisah pada langit. Kawan tau kan? Tak banyak manusia yang bisa dipercaya di masa ini. Makanya, langit adalah kawan paling perhatian yang kupunya. Kuharap, langit tak pernah bosan dengan kisah-kisahku…..
D. N. Ahmad
Makassar, 7 Maret 2013….

Kamis, 03 Januari 2013

Pacaran: antara Kenormalan dengan Pelanggaran


Berpacaran, ahhaay.... sebuah topik yang selalu menarik untuk dibahas, selalu menggoda untuk dibicarakan, dan selalu kontroversial dalam setiap pandangan orang. Ada yang mengatakan ini adalah sebuah kenormalan, sangat wajar, alamiah, dan justru orang yang tidak berpacaranlah yang tidak normal, karena tidak ada naluri biologis yang alamiah itu dalam dirinya. Namun ada juga yang mengatakan berpacaran itu sebuah ketidaknormalan, karena tidak ada sesuatu dalam dirinya yang bisa mengontrol nafsu biologisnya yang liar. Ini mengindikasikan bahwa berpacaran identik dari berbagai pelanggaran dari banyak aspek kehidupan, baik dari segi kemanusiaan, budaya, sosial, biologis, dan terutama agama.
Baiklah, itu akan kita bahas secara sederhana dalam tulisan ini. Kita akan bersama menganalisis mengapa keinginan berpacaran itu normal (sangat normal malah) dan mengapa berpacaran itu identik dengan pelanggaran. Seperti kita tahu bersama, maksudku sebagian (bagi yang tahu), bahwa cinta itu adalah bagian dari fitrah, bahkan orang yang tidak memiliki naluri mencintai itu bukan manusia namanya, barangkali mahluk lain yang bukan manusia, entah mahluk apa namanya. Namun, segala sesuatu yang baik itu ada penyakitnya, seperti: penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya', penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri, penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian, penyakit tampan adalah sombong, penyakit bangsawan adalah membanggakan diri, penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah menyombongkan diri, penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah, dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan (H. R. Ali R.A.)
Lalu bagaimana dengan cinta dan berpacaran itu? Di mana letak penyakitnya? Ah, rasanya tak perlu saya jawab, karena saya juga tidak tahu.... heheheh
Baiklah.... biar kukatakan padamu pendapatku tentang berpacaran ini kawan....
Dari aspek budaya.... jelas-jelas ini bukan kebudayaan kita. Maksudku bukan berasal dari falsafah hidup kebugismakassaran kita. Tengoklah sejarah. Adakah budaya berpacaran itu menjadi sebuah budaya yang dipuja-puja moyang kita? Justru perkara cinta dan berpacaran ini menjadi siri tertinggi manusia bugis makassar, sebuah pelanggaran tertinggi yang dimana pelanggarnya harus menukar dengan nyawanya. Nah, disinilah titik-baliknya, sekarang berpacaran menjadi kebudayaan baru yang sebetulnya bukan punya kita, tapi kebudayaan orang yang merasuki kebudayaan kita.
Dari segi kecerdasan, orang berpacaran itu biasanya selalu melarutkan dirinya dalam situasi kasmaran. Nah, disitulah logika akan lumpuh, mata dan telinga menjadi buta dan tuli, buta dari kebenaran dan tuli dari nasehat baik. Orang yang logikanya lumpuh pasti tidak akan bisa menangkap apa-apa, dia tidak bisa mempelajari hal apapun, tidak bisa berkonsentrasi, dan akhirnya menjadi bodoh.
Dari segi pergaulan sosial, orang berpacaran cenderung terbawa arus, ngalir, orang yang ngalir cenderung mengikuti apa saja yang trend, tidak memiliki kekuatan untuk melawan arus, dan akhirnya akan jatuh dipembuangan. Secara kemanusiaan, ini tentu saja tidak manusiawi, bahkan cenderung ke hewaniawi, mengapa? Karena nafsu, berpacaran identik dengan nafsu, yang kalau semakin diperturutkan akan selalu meminta yang lebih. Nah, kalau sudah demikian, pembeda antara hewan dan manusia itu menjadi makin menipis. Dan ini tentu saja menurunkan derajat kemanusiaan. Anak yang tak berdosa menjadi korban dan merentetlah kemudian tindakan aborsi, pembunuhan anak bayi, ah kawan pasti sering mendengarlah kejadian seperti itu di tv. Lalu bagaimana secara medis? Kawan tentu kenal penyakit berbahaya HIV/AIDS bukan? Nah, itu penyebabnya diawali dari pergaulan bebas semua itu, yang biasanya diawali dari embel-embel berpacaran.
Dari aspek biologis, kita semua, maksudku yang normal, tentunya dianugerahi nafsu biologis yang sangat alamiah. Kita diberi rasa cinta, sayang, marah, rindu, benci, suka, dan rasa-rasa  lainnya yang apalah namanya, yang jelas kalau rasa strawberyy, bukan. Nah, tentu saja sangat tidak seru hidup di dunia ini kalau rasa-rasa itu tidak naik turun. Ada suatu ketika rasa itu akan membuncah-buncah, mengharu-biru, bikin sakit kepala, lalu surut seperti tak punya rasa, dingin, datar, dan membosankan. Tentu saja bukan cinta namanya kalau tidak begitu, mungkin cinta itu takkan ada, atau paling tidak akan menjadi hambar, kurang menggigit, tidak menggelisahkan, tidak bikin cemburu, tidak misterius. tidak asyik.
Tentu saja kita sepakat bukan bahwa semua itu adalah anugerah? Dan anugerah itu layaknya untuk disyukuri, dan cara menyukurinya itu dengan memperlakukannya sebaik-baiknya agar tidak sampai anugerah itu justru menjadi perusak kehidupan kita. Agar tidak merusak, tentu saja perlu dikontrol, dan satu-satunya yang menyediakan solusi dan aturan kontrol dari itu semua adalah AGAMA ISLAM, satu-satunya kawan, ingat, satu-satunya. Agama kita telah menyediakan aturan main agar cinta itu tetap suci, tetap indah, tetap menggigit, tetap menggelisahkan, tetap bikin cemburu, tetap misterius, tetap asyik, dengan tak lupa menyediakan penyaring untuk menapis segala ampasnya yang rada-rada kotor.
Dan bersyukurlah orang yang diberi rasa cinta bisa menyikapi cintanya dengan tepat. Mengapa? Karena sangat berpeluang menulikan dan membutakan. Islam tidak pernah melarang dan mengekang manusia dari rasa cinta, tidak pernah kawan, tidak pernah, justru islamlah yang mengatur agar dengan cinta itu manusia tidak menjatuhkan martabat dan kehormatannya sebagai manusia.  
Lalu, Bagaimana sikap kita? Apakah kita menganggap berpacaran adalah sikap normal atau sebuah pelanggaran? (D. N. Ahmad)

Merantaulah


Oleh : Imam Asy-Syafi'i
Orang pandai dan beradab
tak kan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Pergilah! 'kan kau dapatkan pengganti dari kerabat dan teman
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air yang diam menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih jika tidak dia 'kan keruh menggenang

Singa tak kan pernah memangsa jika tak tinggalkan sarang
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak kan kena sasaran
Jika saja matahari di orbitnya tak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Rembulan jika terus-menerus purnama sepanjang zaman
Orang-orang tak kan menunggu saat munculnya datang

Biji emas bagai tanah biasa sebelum digali dari tambang
Setelah diolah dan ditambang manusia ramai memperebutkan
Kayu gahru tak ubahnya kayu biasa di dalam hutan          
Jika dibawa ke kota berubah mahal jadi incaran hartawan

Kamis, 27 Desember 2012

Puisi Untukmu Kawan....


Puisi untukmu kawan
Semoga....... kau senang, kau bahagia
Nanti, aku ingin berkunjung ke kotamu
Semoga kau masih mengenalku

Puisi untukmu kawan
Kubuat hanya untukmu saja
Semoga.... kau senang kau bangga
Nanti, semoga masih ada waktu untuk bercerita
Tentang waktu yang mengalir ditepian hari kita

Puisi buatmu kawan,
Semoga.... kau senang kau riang
Nanti, kita masih akan bernyanyi bersama
Pada bayang indah kenangan
Biar melipur dan menusuk hati

Barangkali nanti, takkan lagi ada puisi tentang kita, kawan
Karena hanya sepi yang akan menari di hari kita
Dan angin yang takkan lagi membawa kabar hidupmu
Pun hari yang tak menyediakan waktu untuk bersama
Meski hanya bercerita, tentang kenangan di lorong kampus kita

Kawan, di sinilah, di kampus kita
Kita pernah bersama mengeja kata cinta
Kau yang mengajarkanku makna kebersamaan
Yang membuatku jatuh cinta pada kesepian

Puisi terakhir untukmu kawan
Semoga kau senang, kau bangga
Bahwa kita pernah akrab di sini
Di tepian kampus kita, dalam remang pinggiran waktu

Rabu, 26 Desember 2012

Lagi.... Tentang KKN-PPl


Oleh : D.N. Ahmad
Kesunyian jualah yang akhirnya menetaskan rindu. Kebersamaan, canda, dan kebahagiaan, barangkali adalah arus kebahagiaan yang hanyut ke muara dan tak kembali. Adakah kesendirian dapat melunasi semua itu?
Sore, tanggal 25 April 2012, aku merasakan sebuah gemuruh yang resah dari kedalaman hatiku, dan hari ini, lagi-lagi aku merasakan gemuruh itu. Kenangan. Ya, lagi-lagi tentang kenangan, sesuatu yang telah membuatku menjadi manusia paling menyedihkan di bumi ini. Kenangan itu, seperti batu kerikil di pinggir jalan, liar, kotor, selalu tak mau lepas di ingatan dan selalu tak sabar untuk ingin dituliskan. Maka aku, dengan susah payah harus mengumpulkan ingatan untuk menuliskan semuanya.
Rindu dan kenangan, seperti saudara kandung, ah bukan, lebih tepatnya saudara kembar, identik, serupa, namun apabila diteliti secara seksama ia tak sama. Bagi seorang kekasih, rindu adalah kegalauan hati ingin cepat-cepat berjumpa dengan kekasihnya, namun bagiku, bagi seorang mahasiswa yang hampir sarjana, rindu itu adalah berpacu dengan waktu, memburu dosen biar wisudah secepatnya dan terlepas dari belenggu universitas yang memenjarakan. Ah tidak, aku tidak ingin bercerita tentang kerinduan itu. Aku ingin bercerita tentang kerinduan seorang mahasiswa KKN-PPL yang telah lama meninggalkan lokasi KKN-PPLnya. Namun apapun itu, rindu tetap identik dengan kesedihan. Semenjak kumeninggalkan kota mereka, rindu itu adalah seekor raksasa yang betah berlama-lama di hatiku, ia menginap, mengganggu, tak mau pergi, jahat.
Malam ini, ketik aku menuliskan cerita ini. Anggap saja aku tengah mengusir raksasa itu dari hatiku. Namun hari-hari berlalu, semua upayaku untuk mengusirnya selalu tak berhasil. Jadilah aku seperti ini, begitu menyedihkan.
Nyatanya, aku selalu rindu, rindu bercanda lebih seru lagi dengan mereka, rindu tertawa lebih lama lagi, rindu bercerita lebih panjang lagi. Aku rindu dengan mereka yang menyapaku dengan sapaan “Kak”, rindu dengan orang yang kusapa dengan “Dek”. Aku rindu sebuah pagi di mana aku selalu mandi paling awal, sholat subuh, jalan-jalan ke pangker sembari berharap aku bertemu seseorang yang mengenalku di sana dan menyapaku dengan “Kak Dhitoooo....”. Aku rindu sebuah hari dimana aku menghabiskan sebagian hari dengan mengajar di kelas sambil bercanda. Aku rindu dengan sebuah sore dimana aku bermain takro bersama dengan adek-adek, atau sesekali bermain basket di halaman sekolah. Aku rindu menghabiskan hari dengan berjalan-jalan ke lejjae, pantai wakka, bilariase, dan lumpue. Aku rindu pada puisi-puisi yang mereka tuliskan khusus buatku. Aku rindu...... Dan dari serentetan kerinduan itu hal apakah yang bisa kuambil? Toh sekarang aku hanya bisa rindu dengan kerinduanku.
Ya, malam ini, kerinduan tentang kisah KKN-PPL di kota pangkajene sidrap tiba-tiba saja memuncak di kepala. Sebuah kisah sederhana, kisah kebersamaan yang terjalin secara sederhana, namu menghasilkan sebuah kenangan yang tidak sederhana, yang melahirkan sebuah pengalaman mahal yang bernama inspirasi. Disana cukup banyak kisah terukir, antara aku dan teman-teman seposko, antara aku dengan masyarakat kota pangkajene, antara aku dengan tuan rumah poskoku (Kak Andry, Pak Bahar, Ibu Muti, Kak Hasni, tak lupa pula dua adikk yang lucu Dillah dan Tiara), dan yang tak terlupakan kisah antara aku dan adik-adikku di SMP Negeri 3 Pangsid (Spentreed).
Di spentreed, rasanya aku selalu bahagia. Aku selalu lupa cara untuk bersedih. Disanalah baru kunikmati hidup tanpa diatur, bebas serupa burung-burung. Bisa bicara sebebasnya. Di waktu istirahat aku selalu nongkrong di lab. IPA yang disediakan sekolah sebagai tempat istirahatku, dan mereka adik-adikku selalu saja ada yang datang menemani, berbicara sebebasnya, bercanda sebebasnya, jika mereka iseng mngerjaiku dengan bahasa bugis maka akupun pasti mengerjainya dengan bahasa makassar. Hahaha... saat seperti itu kami pasti saling tertawa. Aku ingat, seorang siswa pernah menanyaiku dengan beruntun, “Kak, apa sih gunanya itu pacaran?, pernahki berpacaran? Sama siapa kak, siapa namanya pacarta?” hahaha tahukah? Aku betul-betul kebingungan menjawabnya. Tapi tidak, aku tidak ingin mereka berpikiran bahwa aku miskin ilmu tentang berpacaran. Maka akupun menjawab sekedarnya bahwa aku hanya memiliki pengalaman hampir berpacaran, atau keakraban yang sangat dan orang identikkan berpacaran, jadi tentulah saja aku tidak tau manfaat berpacaran aku hanya tamat di teorinya saja. Dan di saat seperti itu, mereka semua selalu tidak percaya dengan ceritaku.... “iyya kaaaaahhh.....???? ” katanya dengan... ah, kenapa jadi manis sekali?!
Di spentreed, banyak sekali cerita terukir. Tentang latihan upacara bendera di sore hari, tentang latihan kasidah di poskoku, tentang persiapan acara maulid di sekolah, tentang bermain basket bersama, upacara bendera bersama, tentang pengalaman pertama makan makanan khas sidrap, tentang........ mereka, adik-adikku, yang memberiku pengalaman pertama memimpin, membuatku mengerti kerja tim dan kebersamaan, merekalah yang mengajarkanku makna kata “kita” dan “kami”.
Tapi, ah.... lihatlah hari ini, tak ada yang tertinggal kecuali cerita. Kenangan kebersamaan yang selalu tak ingin bosan untuk dikenang. Aku selalu ingat kenanganan saat terakhir aku masuk di kelasnya. Siang itu, foto-foto pahlawan yang terpajang di tembok yang menjadi saksi, saksi untuk semua tawa, pilu, tawa, haru, luka, dan segala perasaan aneh yang pernah singgah di hati, menjelma seekor raksasa yang menetap dan tak mau pergi di kamarku.  Foto-foto itu, begitu murung, sangat murung, semurung langit pangkajene yang sedang berencana hujan.
Dan akhirnya, waktu selalu menepati janjinya, bahwa tak ada yang lebih pasti selain perpisahan. Memutus cerita-cerita kami di spentreed, aku kembali ke kotaku. Melanjutkan pendidikanku, dan menggiringku ke rutinitas kampus yang makin hari makin bikin sakit kepala. Dan akhirnya kesunyian jualah yang akhirnya menetaskan rindu. Kebersamaan, canda, dan kebahagiaan, barangkali adalah arus kebahagiaan yang hanyut ke muara dan tak kembali.
Hari-hariku selalu sepi, sunyi, sepi, sunyi, sepi.... hanya hapeku yang tak pernah sunyi, pesan dari kalian, adik-adikku yang selalu menanya kabar, kapan datang lagi ke sekolah, kubalas saja sekedarnya bahwa aku selalu baik-baik dan semoga nanti Allah masih menyediakan waktu buat kita berjumpa lagi.
Adik-adikku yang tercinta, tetaplah seperti ini, kenanglah kami kakak-kakakmu. Berilah sedikit ruang di hatimu untuk kami, sedikit saja. Untuk nanti, kita tempati saling bercerita jika bertemu, untuk nanti saling melepaskan kerinduan. Berdoalah Adik-adikku, semoga kami semua baik-baik, demikian jualah yang kulakukan untukmu. Meski kini kita tak lagi bersama, tapi kita beradik-kakak selamanya, kita bersama selamanya, bersama dalam kerinduan yang sama, sampai nanti, waktu yang menuntaskan semuanya. Terimakasih atas hari yang indah, kebersamaan yang indah, dan kerinduan yang....??
Malam ini hujan turun, deras, deras sekali. Aku tahu, aku telah jatuh cinta, dan inilah cinta sejati itu, cinta dengan segala kegilaannya, dengan segala kerinduannya.
 Makassar, sebuah malam di bulan Mei

Senin, 17 Desember 2012

Mencintai dengan Biasa








*Ambillah hikmah walau dari mana asalnya..
Aku tertegun menatapmu gadis.


Menangisi seseorang lelaki yg mematahkan hatimu..


Ingin ku marah dan meneriakimu..

“Tak perlu seperti ini, jangan buang percuma air matamu”
tapi aku tak bisa menambah sakit hatimu..
Dan ku hanya terdiam mendengar semua keluh dan sakitmu..

Cinta, sebuah rasa yang tak mampu ku cerna.
Datang dan pergi tanpa kau duga..
Namun ku yakin itu tetaplah anugrah..
Karena tanpa cinta hidup adalah derita..

Aku pun tak menampik betapa indah cinta dan mencinta.
Entahlah, ku tak mampu menggambarkan dalam untaian kata, semua hanya hamparan rasa..
Namun, haruskah, Saat rasa itu menyelimuti, matamu kau butakan..?
Ketika indahnya merekah, haruskah nurani di hinakan..?
Tidak.. Jangan begitu..

Bagiku, mencintaimu cukuplah dengan biasa..
Tak ada kalimat rayu menghibah..
Tak ada harapan tinggi membumbung..

Bagiku jatuh cinta padamu cukup dengan biasa, sangat biasa..
Ku tak butuh ungkapan rasa yang mampu menumbuhkan ranjau didada..
Tak perlu kalimat pujian yang menyemai riya’ di hati..

Ku mencintai dangan caraku yang biasa..
Karena ku tahu akhirnya nanti takdir Ilahi yg terjadi..

Karena ku mencintai dengan biasa,
maka ketika ku tahu kau jauh dari sempurna, maka bagiku itu adalah wajar..
Ketika ku dapati kau dalam salah, maka ku tahu kaupun manusia biasa..

Ku mencintai dia yang biasa..
Ku tak akan pernah berharap kau seorang sempurna, karena akupun jauh dari sempurna..
Ku tak akan terpikat pada yang merasa dirinya luar biasa..

Ku hanya mencintaimu karena kau begitu biasa..
Yang ku cinta bukanlah bidadari karena akupun tak sesuci malaikat..

Mencintai dengan biasa,
maka ku tak mau ada khalwat yang menjebak..
Tak ada tatapan rindu membuncah..
Tak ada ungkapan cinta merayu..
Tak akan ada ikatan semu sehina pacaran. Apalagi yg dibumbui dgn ‘islami’..
Tak ada pertemuan sebelum ijab di lontarkan..

Agar, kiranya takdirNya tak menyatukanmu denganku..
Maka akan ku tanggapi dengan biasa, sangat biasa..
Tanpa air mata..
Tanpa rasa sesak di dada..
Tanpa benci yg menggumpal..

Mencintai dengan biasa..
Cukup disini, di dalam hati,
tak perlu ada yang tahu,
bahkan kau pun tak perlu tahu..

Mencintai dengan biasa,
dengan menitipkan cintaku padaNya Sang Pemilik cinta..
Sang pengatur segala..
Hingga saatnya nanti, jika Dia berkenan menyatukan kita dalam indahnya ikatan suci..

Maka ketika ijab telah terlontar..
Ketika hijab telah tersingkap..
Ketika cintamu telah memilihku..
Maka, aku akan mencintaimu dengan luar biasa..

Pesan dari Ayah


Diadaptasi dari: Nunu Nurulhasanah Muhsinin

Nak, ayah sengaja membawamu kesini karena  ayah mau bicara serius sama kamu, ayah ingin memastikan kepastian masa depan kamu, kepastian keputusan hidup kamu, dan kepastian mimpi-mimpi kamu.  Sekarang, kamu sudah baligh. Kamu relatif sudah bisa membedakan yang benar dan yang salah. Tapi kamu masih terlalu muda buat kenal dunia secara luas, seluas laut dan langit di depan kamu itu.

Nak, apa kamu pernah menerka kenapa ayah sangat membatasi kamu nonton TV, kenapa ayah sering potong kabel TV yang baru dibeli ibumu? Apa kamu tahu kenapa ayah sering ajak kamu menjauhi keramaian, kenapa ayah sering banting pemutar musik kamu? Kamu tahu, nak? Itu karena ayah sayang kamu dan tak mau kamu jadi orang-orang bentukan media mainstream yang tak islami.

Pada umumnya mereka itu membuatmu tahu dalam ketidaktahuan. Kamu jadi tahu cara membuat orang ketawa, cara supaya dunia melihat kamu, cara berbahasa yang up to date, dan cara tetap ikut tren. Kamu jadi tahu si artis anu lagi bunting 7 bulan. Kamu dijejali dengan informasi-informasi tak penting, sama tdk pentingnya artis anu baru ngerayain ulang tahunnya di Food Court Pondok Indah Mal.

Tapi nak, kamu tak pernah diajarkan harus gimana kalau kamu mimpi basah, apa yang harus kamu lakukan kalau mau nikah tapi belum siap. Kamu gak diajarkan bahwa onani itu masuk dalam tujuh dosa besar. Kamu tak diajari cara milih calon pasangan hidup yang benar, apa kriterianya.

Kamu jadi tahu batasan HAM tapi tidak hukum islam. Kamu jadi tahu cara ngitung PPn, tapi ngitung zakat kebun kamu sendiri saja bingung. Kamu jadi tahu di Bangladesh itu orang kebanjiran terus, tapi kamu malah tak tahu komplek sebelah kita juga kebanjiran. Siaran setengah jam pagi-pagi itu jelas kurang nak. Bahkan kamu sama sekali tak dibuat mengerti cara baca Quran. Bedain “fa” sama “qof” saja tak bisa, gimana mau paham, anakku?

Kamu nanti malah jadi bingung, di TV diajarin menikah sama anak di bawah umur itu bejat tak ketulungan, apa kamu mau bilang Nabi Muhammad yang menikahi Aisyah umur 16 tahun itu bejat? Di TV diajarin makan jilat tangan itu tak sopan, tapi di hadits kamu temui sunahnya itu malah jilat tangan. Di TV diajarin kalau ketemu orang itu salaman, padahal di hadits yang kamu pelajari, lebih baik kamu ditusuk besi panas daripada bersentuhan dengan bukan mahrom. Di TV disiarkan bahwa lesbi dan homo itu manusiawi dan sudah lazim, tapi di hadits, mereka itu layak dihukum mati.

Ayah paling takut kamu mengarah ke logika-logika praktis begitu. Ayah takut kamu menomorduakan Quran Hadits karena tak logis menurut kamu. Camkan ini nak, agama itu bukan dibangun dari logika, dan agama itu jauh dari kelogisan-kelogisan yang ada di novel Sophi’s World, walaupun dia jadi best seller internasional selama beberapa tahun. Nak, Al-Quran itu sudah jadi super best seller se-semesta selama belasan abad.

Kalau agama ini menuruti kelogisanmu, tak akan ada cerita 313 pasukan islam dengan perbekalan dan senjata yang jauh dari memadai bisa menang melawan 1.000 pasukan kafir dengan perbekalan dan senjata yang berlebihan waktu perang Badr. Tak akan ada cerita pasukan islam masih bertahan di perang Khandaq setelah dikepung dari segala penjuru. Gimana mungkin ada bantuan angin dalam perang di abad ketujuh? Nonsense! Itu semua tak akan masuk ke logikamu, nak.

Kamu akan wudhu dengan membasuh duburmu kalau kamu mau ikut logika, tapi bukan begitu yang diajarkan, nak. Kita tak tahu apa-apa. Keimanan itu bukan kelogikaan. Iman itu artinya percaya. Percaya bahwa aturan itu tepat walau tak masuk logika kamu.

Itu kenapa kamu harus mendalami Quran Hadits dengan mantap. Kamu tahu kan, bahwa ilmu yang wajib dicari itu ada tiga: ayat yang menghukumi, sunah yang ditegakkan, dan ilmu hukum waris. Intinya kamu wajib belajar Quran Hadits. Ilmu yang di luar itu statusnya cuma ilmu tambahan. Ayah sama sekali bukan melarang kamu sekolah sampai title kamu 10 biji, kalau ada. Sekolahlah tinggi-tinggi, cari ilmu sebanyak-banyaknya, itu positif.

Ayah cuma takut, kamu bisa menghitung bulan itu tepat ada di atas kepala kamu pada tanggal berapa jam berapa, tapi kamu kebingungan ngitung waris waktu ayahmu ini meninggal. Ayah takut kamu bisa fasih luar biasa berbahasa Inggris, tapi salam aja ngomongnya “semlekum”. Ayah tak mau kamu hapal irregular verb dan certain adjective, tapi tak hapal siapa saja mahrom kamu.

Ayah tak mau kamu bisa membedakan processor bagus dan yang tidak, bisa bedakan awan cumulus dan nimbus, bisa bedakan membran sel dan membran mitokondria, tapi kamu tak bisa bedakan halal-haram dan suci-najis. Dan hal-hal semacam itu. Ayah takut kamu kuasai dunia tapi tak ngerti hukum islam, nak.

Ayah tak kebayang, pasca tiada nanti kamu jawab apa waktu ditanya, “Kenapa dulu kamu lebaran duluan dibanding tetanggamu?” Apa kamu bakal jawab, “Abis di tanggalan lebarannya tanggal segitu, saya kan gak tahu aturan sebenarnya gimana.” Terus ditanya lagi, “Lantas, kenapa kamu tidak cari tahu ilmunya?” Apa kamu berani jawab begini, “Saya kan mau sekolah sampai S3, mau punya rumah besar, mau jadi anggota dewan, target saya banyak, jadi belum sempat mendalami islam.” Berani?

Dalamilah ilmu agama, nak. Malaikat akan membentangkan sayap-sayapnya karena senang padamu yang sedang mencari ilmu. Sampai ikan-ikan di lautan, semua mendoakanmu, nak. Kalau kamu jadi pengajar dan pengamal Al-Quran, ayah bakal dapat mahkota emas yang terangnya lebih dari matahari. Itu jauh lebih membanggakan dari ayah dipanggil mau diberi penghargaan karena kamu meraih nobel. Ayah dapat mahkota, kamu tentu dapat lebih dari itu, nak.

Setelah ilmumu kuat, aplikasikan, sebarkan, dan perjuangkanlah semaksimal yang kamu bisa, nak. Jangan takut cacian orang. Jangan menyerah walau sedunia ini memusuhi kamu. Gigit agamamu dengan gigi geraham. Lebih baik kamu hidup dengan ngangon kambing di Gunung Leuser sana ditemani 200 harimau sumatera daripada kamu hidup makan enak dan mudah tapi tak bisa aplikasikan agamamu.

Nak, dari dulu orang hebat itu selalu dianggap asing di zamannya. Itu bukan berarti kamu harus menjadi asing, nak, bukan. Tapi, risiko kamu “diasingkan” masyarakat itu besar kalau kamu bawa nilai-nilai baru, atau nilai-nilai lama yang dianggap baru.

Anak muda seperti kamu punya tenaga dan semangat yang jauh lebih besar daripada orang tua seperti ayah begini. Ibnu Umar, pada usia 13 tahun ingin ikut dalam Perang Badr, tapi dilarang, nak, karena masih terlalu muda. Ia akhirnya ikut dalam perang Khandaq pada umur 15 tahun. Sejak belia, beliau senang mencari ilmu, nak. Beliau menjadi periwayat hadits kedua terbanyak setelah Abu Hurairoh.

Kamu tentu sering dengar Ali bin Abi Thalib, anakku. Beliau sudah menjadi bintang lapangan pada Perang Badr, saat usianya masih sekitar 25 tahun. Beliau menjadi pimpinan pasukan Perang Khaibar, beberapa tahun kemudian, yang akhirnya menang gemilang. Beliau yang membunuh Marhab, panglima besar Yahudi. Semua dalam usia belia, anakku.

Imam Bukhori yang menyusun hadits tershahih sampai sekarang, beliau mulai berkelana pada umur 16 tahun. Jiwa muda yang tetap teguh belasan tahun menghimpun hadits-hadits shahih. Kamu tahu apa yang terjadi pada Imam Bukhori, anakku? Beliau diusir dari kampung dan menjadi musuh banyak orang pada zaman itu. Tapi itu tidak membuatnya gentar.

Selanjutnya giliran kamu yang meneruskan perjuangan. Selamat berjuang nak, luruskan niat, ayah doakan!