Pages

Selasa, 12 Juli 2016

Sebut Saja Ini Romantika

Aduhai, saya ingin bercerita, kepada kawan-kawan seangkatan saya yang sekarang telah dewasa. Alangkah beruntungnya kita, yang terlahir tahun 80-an hingga awal 90-an. Di saat dunia kita memang masih sangat anak-anak, masih sangat kampung, masih sangat tradisional. Saya ingin bercerita, menghadirkan kisah picisan masa lalu, lalu menarik garis pembanding, dengan pendidikan masa sekarang. Adakah kemajuan, adakah itu hanya kemunduran?
Masa sekolah, adalah masa-masa bahagia. Tidak ada galau-galau, kita disadarkan sedari dini untuk rajin belajar, patuh pada guru-orang tua dan jangan nakal, biar jadi anak yang cerdas, anak yang berguna buat nusa-bangsa dan agama. Malas sedikit, dapat nasehat agung dari guru-guru kita, bandel sedikit diingatkan dengan lembut, bahkan pada kondisi tertentu dihukum dengan keras, yang pada zaman sekarang tentulah sudah dianggap pelanggaran ham.
Mari, kita simak lagu-lagu masa anak-anak kita. Akan saya hadirkan salah satu, sebuah gubahan dari Ibu Sud, tentang makna diri dan sekolah.
Hai, Amat, mengapa tidak sekolah?
Aku? Lebih senang tinggal di rumah.
Hai Amat, janganlah kau tinggal bebal.
Nanti tentu kau akan menyesal.
Hai Amat, janganlah kau tinggal dungu
Aku? Tidak perlu pergi berguru
Hai, Amat, tak guna kau banyak harta.
Kalau engkau tak dapat membaca.
Hai Amat, lekaslah pergi belajar.
Benar? Benar segala katamu, benar.
Hai Amat, ingatlah akan pesanku.
Itu kunci jalan kehidupanmu.
Dahulu kita diajari pendidikan budi pekerti, pekerti yang luhur, yang didasar pada falsafah agama dan falsafah pancasila. Sekarang kita diajari pendidikan karakter, yang bahkan anjing pun, kucing pun, harimau pun, semua binatang pun punya karakter. Dahulu kita diajari membaca kalimat “ini Budi, ini bapak Budi,” dari sebuah buku kecil yang sopan, menampilkan gambar anak berbudi pekerti, yang berkesan jelas taat pada orang tua, rajin ibadah, rajin menabung. Sekarang malah buku itu diejek oleh orang pintar, dan buku2 kita diganti dengan gambar-gambar sampul artis-artis cantik dari Jakarta, yang kemarin digosipi di tv sedang putus dengan pacarnya.
Aduhai dulu, kita dididik dengan keras oleh guru-guru yang pendidikannya tidak tinggi, tapi belum pernah nonton tivi, yang hatinya masih jernih, mengajari kita untuk jadi anak yang patuh pada guru dan orang tua, rajin belajar dan penuh semangat biar pintar, memberi tahu bahwa hemat pangkal kaya, rajin shalat dan mengaji biar jadi anak soleh. Sekarang, aduhai, perih sekali hati saya melihat anak-anak zaman sekarang. Bahkan guru-gurunya saja sudah tidak berdaya, negara telah melahirkan guru-guru yang dicurigai, yang tidak dihormati. Guru-guru yang tidak dipercaya, hingga anak butuh dilindungi darinya dengan undang-undang. Aduhai, siapakah sang pembuat undang-undang itu? Sudah pernahkah beliau turun ke sekolah, melihat keadaan anak-anak zaman sekarang? Pahamkan dia bagaimana itu pendidikan?
Aduhai lihatlah, pendidikan karakter yang dirancang oleh (katanya USAID) itu, sangat menekankan guru menhormati siswanya (bkn lagi siswa menghormati guru), datang sekolah disambut dengan senyum manis, berbaris depan pagar, menyalami siswa. Masuk kelas, guru pun lebih duluan dalam kelas, menyalami siswanya. Ini dimaksudkan mengajari karakter, tapi nyatanya, justru siswa makin tidak menghargai guru, patoa-toai sama gurunya, tidak adalagi guru yang tegas, yang galak, yang ditakuti (tentu, galak itu dibutuhkan, yang pada kondisi tertentu ditakuti siswa).
Aduhai dulu, kita diperkenalkn dengan Sultan Hasanuddin, dengan Bung Karno, bahkan diharuskan menghafal 4o nama pahlawan dan daerahnya, agar tahu betapa susahnya mendirikan negara ini, betapa kita harus cinta pada negara ini dan melanjutkan perjuangan dan pengorban mereka. Aduhai sekarang, anak-anak kita lebih cinta pada barcelona dibanding yang dari negaranya sendiri, lebih mengelu-elukan tim blanda yang dahulu menjajahnya dan mencibir tim sendiri, lupa pada yang dahulu menindas nenek moyangnya. Betapa kita kagum sekali pada jepang, pada korea, tanpa ada lagi ruang melihat hal yang bisa dikembangkan di daerah sendiri. Bagaimana mau maju negara, cinta pada negara saja tidak ada, produk negeri sendiri diremehkan, dicibir, dianggap tidak berkualitas. Aduhai, tidak butuh waktu 100 tahun, buat kita melupakan masa-masa ditindas sama penjajah kurang ajar, bukan mengajarkan membenci, bukan. Tapi mengajarkan sadar, bahwa ini dada masih punya cinta, masih punya bangga, pada negara kita yang sekarang dirundung malang ini.
Dahulu, kita diajarkan musyawarah mufakat, bahkan anak-anak seusia saya sangat menghafal GBHN, sebagai haluan negara yang dirumuskan oleh lembaga tertinggi negara bernama MPR, yang dahulu masih kuingat diketuai orang alim bernama Amin rais. Sekarang majelis permusyawaratan itu tdh tdk ada, GBHN telah dihapus. Haluannya diganti dengan demokrasi yang entah akan membawa negara kita kemana. Sistem baru itu mengajarkan kita pemilu, yg bahkan sgalanya butuh berdebat dulu, butuh saling mengakali dulu, yang bahkan seorang professor pun setara kualitasnya dgn pengembala kerbau, yang kuantitas lebih dipilih dibanding kualitas.
Aduhai Dahulu, para perempuan adalah mahluk paling sopan di dunia, paling pemalu di dunia, bahkan paling pemarah dan galak (kadang juga menangis) kalau dikasi jodoh2 sama temannya, sekarang aduhai, ada semuami tawwa pacarnya, bisami nahitung2 mantannya. Padahal di masa saya SD hingga SMP, berpcran adalah aib, ditau keluarga bisa dihajar, diomeli. Itu tindakan memalukan, org makassar bilang tau napakasiri bija pammanakanna, Ibunya akan merasa diolesi tai di mukanya oleh anaknya sendiri, merasa telah gagal mendidiknya. Bahkan nikah terpaksa, merupakan tindakan bunuh diri, secara adat keduanya harus mati diujung badik atau kalewang.
Dahulu, aturan masih bersandar pada hukum adat dan Al-quran, yang rata-rata berjalan beriring, sekarang datang pula aturan dari asing yang bernama ham, gender, dengan segala aturan undang-undangnya, yang anehnya bisa mengalahkan, bisa menggeser aturan luhur adat dan agama itu. Akibatnya, lihatlah anak-anak sekarang, kasihan saya melihatnya.
Aduhai dulu, kita diajari untuk fanatik, menempatkan cinta tertinggi pada nusa-bangsa dan agama. Yang rincian fanatiknya meliputi tiga hal, yakni: meyakini dengan sungguh, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan sungguh-sungguh dalam perbuatan. Sekarang, kita tidak diajari untuk fanatik, fanatik adalah sikap bejat. Dianggap tidak ada toleransinya, tidak menerima perbedaan, dan primordial, yakni mementingkan golongannya diatas golongan lain. Padahal, kalau beragama tidak fanatik, pasti mudah sekali disesatkan, kalau belajar tidak fanatik, maka yang kita dapat hanya keragu-raguan dan kesia-siaan, kalau berbangsa tidak fanatik, akan lebih mengelukan negara lain diatas negaranya.
Dahulu, kita diajari menghafal, kita diajari mengingat dengan baik dengan melekatkan baik-baik setiap pelajaran di kepala. Aduhai sekarang, itu dianggap ketinggalan zaman, padahal dahulu, kejayaan didapat dengan menghafal, Al-qur’an berjaya karena hafalan, sahabat-sahabat adalah para penghafal yang hebat. Sekarang, mereka diarahkan memahami pelajaran, cukup dipahami saja. Jadinya, anak-anak kita bukanlah orang yang hebat hafalannya, dan tidak kuat pula daya analitisnya. Hebat hafalan, berarti ada dasar pijakan untuk dianalisis, tidak ada hafalan, analitik hanya mengambang, lari-lari pembahasan, tidak ada dasarnya, dan mudah tersest jalannya.
Aduhai dulu, kurikulum kita sederhana saja, tidak ribetji penilaiannya, karena perilaku belajar itu esensinya tidak dinilai, tapi ditangani penyelesaiannya secara langsung, secara terus menerus. Kalau kita nakal bukan dicatat, tapi diingatkan, dihukum, kalau cemerlang kita dipuji, ditepuktangani, bukan dinilai di atas kertas. Sekarang Kurikulum baru itu, bikin pusing guru saja di proses administrasi, tdk ditekankan proses membelajarkan, di proses penanganan. Harus bagaimana kalau kondisi kelas sedang begini, kalau siswa sedang kondisi seperti ini, kalau mengajarkan materi ini. Aduhai ribet sekali k.13 itu, labil sekali RPP itu, tidak berpendirian dan berubah-rubah.
Sebagai guru, paling tidak sadar dulu, tahu dulu masalah, bahwa saat kita telah diserang dari berbagai arah. Kita telah didoktrin banyak oleh media yang entah dikendalikan oleh siapa itu. Pendidikan kita dalam kondisi genting, butuh diselamatkan oleh orang-orang yang tahu masalah, sadar diri, yang pembelajar.

Selasa, 31 Mei 2016

Cantik Itu Sakit



Oleh : Dhito Nur Ahmad

Aku mengenal pria itu dua bulan lalu. Dia datang bersama senja dan menyejukkan tubuhku dengan sinaran lembutnya. Betulkah dia mencintaiku? Entah. Yang kutau dia bilang mencintaiku, kemudian setelahnya melukaiku dengan teramat dalam. Bahkan menggelapkanku ke dalam bayangan hitam yang kelam, aku hampir saja tak mendapat petunjuk pulang setelah kejadian itu.
***
Sebuah hari yang tak sederhana, aku mengenalnya pada suatu hari yang tak kumengerti. Hari itu, aku telah mendapati diriku berada pada sebuah tempat bersamanya. Hanya kami berdua. Saat itu, masih sore. Masih kulihat cahaya matahari yang memantul di balik jendela wisma. Sepi, tak ada suara, hanya suara letupan jantung yang kurasa terasa merobek dada. Tentu saja kau telah tau apa yang telah kami perbuat saat itu.
Setelah itu, keadaan tambah senyap. Perasaan itu pun lenyap. Dia memintaku untuk melupakan semua kejadian itu. Aku pun tak ada pilihan lain selain menerima kejadian sore itu. Lalu kami, dia dan aku berpisah seolah tidak pernah terjadi apa pun, membawa sejuta penyesalan yang mungkin akan diratapi suatu saat nanti. Kawan!  inilah cinta dan kekasih yang pertama menyalamiku. Sesuatu yang banyak dipuja-puja jutaan manusia di bumi
Ceritanya sederhana. Aku, adalah seorang mahasiswa di salah satu universitas negeri di kotaku. Jauh sebelum aku di sini, aku adalah wanita kebanyakan di kampungku. Aku hidup jauh di pelosok kabupaten. Sebuah desa kecil yang damai, Bertani dan berkebun adalah aktifitas utama di desaku, termasuk ayahku. Meskipun begitu, desaku tergolong maju, masyarakatnya makmur. Mungkin seperti desa kebanyakan di kabupatenku, yang sedikit berbeda adalah adat dan kultur masyarakat di desaku yang mendapat pujian dari banyak kalangan. Desaku terkenal sebagai basis kultur islam yang kokoh, sebuah anugerah terindah yang di anugerahkan Allah kepada desaku. Tentu saja termasuk aku dan sanakku.
Aku besar di pesantren, dari TK sampai Madrasah Aliyah semua kuhabiskan di kampung halamanku sendiri. Belajar ilmu agama dan segala unsur pendidikan yang berlaku di pesantren. Semua menyenangkan, hidupku sangat ceria. Tapi itu dulu, dulu sekali ketika aku belum mengenal dunia secara luas.
Setamat Aliyah, adalah semacam ketakterdugaan ketika aku berkesempatan untuk kuliah di Makassar, kota pusat pendidikan dan peradaban modern di Indonesia timur. Tanah baru, suasana baru, dan tentunya dengan tantangan yang baru.
Maka, di sinilah aku sekarang. Berkenalan dengan langit dan tanah lain yang tak pernah kutemui di kampungku. Sangat mengasyikkan, lambat laun aku semakin merasakan sebuah perkembangan kehidupan. Kadang-kadang terbersit di pikiranku akan tidak enaknya kehidupanku dulu. Tak seperti sekarang, dulu tak pernah aku untuk sekedar jalan-jalan di mall, nontong di bioskop, atau sekedar ke tempat wisata yang indah dan menenangkan. Aku begitu merasakan kebebasan yang tak terhingga, tak ada lagi aturan ketat kampungku yang seakan memenjarakan, jilbab kutanggalkan, karena keadaan yang tak memungkinkan. Pun melihat teman-temanku melepas jilbabnya saat pulang kuliah. Sekarang baru kurasai semuanya. Wuuih..! hidup ini indah ternyata!
Semua berawal pada suatu hari. Aku masih ingat hari itu. Sore. 12 November 2010. Aku melihat sebuah gejolak yang resah pada kedalaman mata seorang lelaki. Saat itu dia memujiku cantik, wanita tercantik yang pernah ia lihat. Setelahnya, dia kemudian bilang mencintaiku dan menanyaiku perasaanku terhadapnya. Dan aku menolaknya, lalu pergi di hadapannya. Tapi, peristiwa itu tidaklah membuatnya menyerah, dia mengejarku dengan berbagai macam caranya. Dia sungguh perhatian terhadapku. Jika bertemu di kampus, dia selalu menggodaku, selalu bilang bahwa aku ini cantik.
Lalu betulkah aku cantik? Aku tidak tahu. Yang kutahu teman-temanku pun sering bilang begitu. Lalu hal apakah yang bisa kuambil dari kecantikan ini?
Sepekan setelahnya, aku berjumpa dengannya secara tak sengaja, di kos seorang kawan, matanya begitu dalam memandangiku, menembus jauh di relung hatiku. Dia mengenalkanku dengan suatu keadaan yang sama sekali asing buatku. Sore itu, hatiku telah ditaklukkannya tanpa perlawanan. Dia telah merubahku menjadi kekasihnya, laki-laki yang telah membuatku menjadi ember yang siap menampung apa pun yang ditumpahkan kepadaku. Aku sendiri tak tahu, senangkah aku dengan kejadian itu. Cintakah aku kepadanya? Entah! Yang jelas dia bilang cinta kepadaku, dan aku pun mengangguk pasti ketika sore itu dia menanyaiku hal serupa.
Di tempat itu lah kami sering duduk berdua. Menggunakan waktu yang telah tersedia untuk kami. Hari itulah kami larut dalam sebuah kenangan yang mungkin akan menjarahku seumur hidup. Kelarutan dihadapan kekasih adalah bayangan bau neraka yang menyengat, tapi itu nanti dirasakan pada saat kekasih itu telah tiada. Kurasai betul, bahwa sungguh tak mudah untuk hidup dalam dunia yang aneh ini. Aku, cinta, dan dosa cinta begitu tipis perantaranya, seperti berada dalam satu dunia yang sulit dipilah. Namun, itulah aku. Wanita kebanyakan abad ini. Wanita yang mungkin tak aneh di masa yang menjunjung tinggi budaya baru yang tak berpendirian.
Setelah itu kami berdua terhenyak. Dan mulai sama-sama perih dengan keadaan yang tak tertahankan. Semua menyayat, seakan mau membunuhku karena kubang penyesalan yang amat dalam.
Lalu, bencikah aku padanya? Cintakah aku padanya? Aku sungguh tak tahu apakah aku membencinya atau mencintainya, yang jelas dia pernah bilang mencintaiku.
Makassar, 2010

Jumat, 20 November 2015

Salam dari Makassar, Adik-Adik Maratua!

“Apakah ini gerangan yg sedang kurasakan?”

Ada suatu waktu saya merasa menjelma seorang pria yang tergila2 pada perempuan tionghoa bernama a ling dalam lagu crhistopher nelwan. Dunia seperti berputar, badanku gemetar. Seperti ada kupu2 menari, dalam dadaku. Tapi tidak, ini bukan cinta yang seperti itu, ini bukan kegilaan naïf itu. Ini tentang kenangan, sebuah lagu yg mengingatkanku pada satu episode terindah dalam hidup saya, pada sebuah tempat yang jauh, di pelosok Kalimantan.

Dan di malam ini, di malam sunyi ini, saya ingin sekali mengatakan…. bahwa saya rindu, sangat rindu, pada adik-adik saya di Maratua. Lalu saya menangis, benar-benar menangis. Laki2 memang boleh menangis, boleh bersedih, boleh tersentak, atas sebuah kenyataan pahit. Saat saya tersadar pada satu hal, bahwa jarak, saya dan kalian, telah jauh, betul2 jauh. Tidak ada lagi acara2 mengajar, tidak ada lagi kegiatan2 di dermaga, main2 volly di lapangan, dan jalan2 ke banyak tempat wisata. Aih, kalau rindu itu datang. Saya jadi benci perpisahan, sangat benci.

Saya mencintai kalian, bukan sebagai ikal mencintai a ling. Tapi seumpama ibu mus, pada si ikal. Di usia kalian yang menjelang remaja, yang orang bilang masa labil-labilnya dan belum punya pegangan hidup agar tak terombang-ambing, belum ada yang bersedia menjadi peganganmu, bahkan oleh dirimu sendiri. Selama ini tidak ada yang mengajarimu tentang realnya hidup, ilmu terkini yang kamu butuhkan, yang real, mendesak, dan sangat kamu butuhkan sekarang juga. Di daerah jauh dan pedalaman begitu, yg figure contoh positif belum banyak, yang mencontohkanmu harus bagaimana agar kamu baik2 saja saat sedang jatuh cinta, harus bagaimana kalau sedang bosan, sedang jatuh, atau diam-diam galau dan cemas tanpa sebab. Tidak, kamu mesti belajar sendiri, dunia tak mengajarkanmu, belum! Tapi selalu kukatakan dulu. jadikanlah segalanya adalah guru, tempat belajar. Temukanlah guru sebanyak2nya dalam hidup. Sering2lah kunjungi hatimu, temuilah ia dalam malam. Bacalah buku-buku terbaik, temukan teman2 terbaik, dan teladanilah hanya org2 baik. Tak pernah ada mantan guru dalam hidup, itu bukan jabatan, dia panggilan hati, pekerjaan jiwa.

Setiap orang memiliki cara untuk mengenang, setiap orang mempunyai saat2 tertentu dikepungi rindu. Lalu, seperti apa saya dikenang? Bagaimana saya dirindu? itu bagian personal kalian. Tapi bagi saya, ber-sm3t di maratua adalah 1 tahun episode kisah terindah dalam hidup. Sbuah kisah petualangan anak muda dengan segala dimensi yang kompleks. Memberiku segala proses yg dibutuhkan. Terimakasih atas setahun yang indah. Jauh di dalam lubuk hatiku, saya sangat menyayangi kalian. Tak pernah cukup segala ilmu, tak pernah cukup segala senyum dan cinta. Segala kisah bisa kita simpan, untuk kita ceritakan suatu nanti, saat berjumpa lagi, nanti.

Antara Makassar-Maratua, terbentang jarak. Jauh, jauh ke utara. Kesana segala rindu berarak, segala haru mengarah. Tak semua pesan sempat di balas, atas pertanyaan dari  kalian, yang hampir selalu sama: Apa kabar kak? Kapan kembali lagi ke pulau Kak? Malam ini, kujawab, dengan segala rindu dan haru bahwa saya Alhamdulillah selalu sehat, masih selalu baik2 saja, dan insha Allah, kalau Allah menghendaki, suatu nanti akan kembali ke maratua, meski sekedar jalan2, meski belum tau entah kapan. Salam dari Makassar, baik-baiklah selalu di sana, di pulau indah kalian!

Sincerely love, Dhito Nur Ahmad!

Andai Dia Masih di Sini


Alhamdulillah, tunai sudah impian keluarga kecil saya. Sebuah impian kecil, tercipta sejak dulu, didoakan sejak lama, yang diharapkan almarhum ibu. Sangat besar keinginan beliau mewujudkannya dahulu, bahkan saat beliau masih sakit, beliau (masih kuingat) pernah membisiku satu kalimat. Mengungkapkan kekhawatirannya, kalau-kalau tak sempat menikahkan anak tertuanya. Itu tidak boleh, itu dosa. Dia ingin melihat cucu, punya menantu, berbesan.

Tapi aih, takdir, atau sesuatu yang telah diatur sang maha pencipta berkehendak lain. Saya tidak menyesalinya, (sekarang telah) merasa tak perlu terlalu lama memikirkannya, merasa tak perlu memarahi takdir. Bahkan itu, impian kecil itu, diam-diam menjadi impian saya juga. Dan hari ini, alhamdulillah. Sekarang, di alam sana, melalui cermin ajaib yang diberikan Allah. Pasti ibu telah menontong, semoga bahagia ia.

Ibu menganggapku sudah laki-laki, sudah sanggup menjaga orang, terutama diri dan saudara perempuan saya.Tapi aih, saya masih sangat malu. Barangkali ibu tengah geleng-geleng kepala di alam sana… Untuk diri saya saja belum bisa, malah dipercaya utk orang lain. Beliau… yang tidak sekolah, tapi paham segala gelagak, tahu sakit anak muda seperti saya. Membuat saya kini berpikir-pikir, jangan2 itu semua benar…. jangan-jangan selama ini saya tdk berkembang, karena terlalu banyak kemudahan? Terlalu banyak fasilitas? Bahkan sudah mulai percaya pada hape yang smart tapi isi kepala makin tidak? Jangan-jangan benar….. Saat semua sudah tercukupi, kita malah menggampangkan perangai, kita malah mengabaikan agama… Dan justru sulit sekali menemukan alasan utk berbahagia. Aih, hidup, takdir, atau apapun yang ada padanya, memabukkan!

Sekarang, setelah musim hujan itu usai, setelah saya benar-benar bisa menerima kepergian. Saya kadang merasa, cinta kami itu, memang perlu dididik dengan jarak. Agar dia semerbak suatu nanti, karena tak mungkin di dunia, siapatahu bisa disurga. Itu…. bukan karena islam menaruh ibu sebagai orang nomor satu ditaati setelah Allah dan Rasul-Nya. Tapi memang karena, ah- seperti kamu tahu-, laki-laki mudah sekali ditaklukkan dengan kelembutan. Ibuku lembut sekali, seperti -(*ini yang ingin sekali saya katakan) –, mirip sekali dengan besan perempuannya kini. Maka kubayangkanlah kini, pikiran berandai-andai yang hadir begitu saja di pikiranku: Andai beliau masih di sini. Betapa sebuah keakraban besar 2 keluarga akan tercipta dengan hebat.

Saya tahu beliau ada, melihatku, mengetahui semua yang kulakukan, mengamati perkembangan ilmuku, perilakuku, dosaku, juga kebaikanku. Seperti kata Uzt.Felix: Selama tak bersama, kalau memang ada cinta, gantikanlah canda dengan do’a, isilah malam dengan munajat, agar kelak bisa berjumpa, kalau tidak di dunia, siapatahu bisa di surga.

Daan… saya ingin sekali berucap terimakasih. Keluarga besar saya, yang membantu, mendukung, mendoakan. Mungkin saya saja yang memang mudah terharu, (karena ini memang) mengharukan! Islam, mengenal menikah sebagai acara sakral penyempurna agama, pencipta bahagia dan keturunan yang diberkahi. Menjadikannya ibadah, yang mesti dimudahkan jalannya, serta dalam proses yang sederhana. Semoga pernikahan ini diberkahi, dijadikan penentram jiwa buat keduanya, dijadikan sakinah mawaddah marahmah. Aamiin!

Kamis, 27 Agustus 2015

Sebuah Pagi di Pulau Sangalaki

Ada sebuah pernyataan paling menggoda, paling bikin gugup, paling menggetarkan, dan melakukannya punya resiko terlalu besar. Tetapi dengan tidak mengikrarkannya, menjadikan kita dianggap kurang manusia, dan ke(normal)manusiaan kita dipertanyakan. Ada sebuah pernyataan paling menakutkan tapi juga sekaligus membawa senyum harap, membawa kebahagiaan sekaligus kesedihannya, kesenangan sekaligus airmatanya, ketenangan sekaligus kesakitannya. Duhai… pernyataan apakah kiranya itu, dari manakah gerangan pernyataan itu berasal, dan untuk apa sebenarnya ia ada?
Semua kalimat itu, muncul pada sebuah pagi, di sebuah pantai di Sangalaki. Merasa sendiri dan (dianggap) menyedihkan, saya melihat cakrawala mengerut, membentuk garis seperti tali, di sanalah menggantung segala angan dan pertanyaan-pernyataan itu. “Kebahagiaan dan kesakitan hanya persoalan beda sensasi, tergantung bagaimana kita menikmati dan memaknainya”. Tak pernah ada masalah dengan tangisan pertama kita, pun tak kan pernah ada masalah dengan tangisan selanjutnya, entah dengan alasan apapun, mau itu karena sakit, difitnah, dimaki, atau merasa kehilangan hal yang tak pernah dimiliki (heheh, apamitu?!). Seperti saat seorang sahabat pernah menulis: “Dik, jika dia betul2 belahan jiwa yg memang diciptakan untukmu, kemanapun engkau pergi, bagaimanapun keadaan perasaanmu padanya, dan seberapapun jauhnya jarakmu dengannya, suatu saat dia akan kembali dan menjadi milikmu. Kalau tidak, berarti dia bukan (si)apa2, dan se-suatu- orang yg bukan (si)apa2 tak pantas utk merisaukanmu”. Pun hidup, yang akan terus mengalir serup air, biarkan saja ia mengalir, lalu kita pun bergerak bersama alirannya. Sederas apapun arusnya, patuhi aturan main, terus memperbaiki diri, arus tenang akan datang sendiri pada momennya.
Lalu kuingat lagi seorang kawan akrab di Makassar, saat masih menempuh pendidikan. Punya cita-cita mendapatkan perempuan (baik). Rupanya seleranya dianggap terlalu tinggi oleh orang lain (meskipun saya menganggapnya tidak). Seorang islam, cerdas, istiqomah, dan menjaga diri. Dan memang, susah, tidak mudah, sangat. Sebab, zaman tak lagi mengizinkan orang-orang seperti itu eksis dan bertahan. Lalu tiba-tiba sekarang, seperti telah menjadi keajaiban ilahi, kawan akrab saya itu sekarang telah terduduk pula di sini, di Sangalaki, bersama saya, dalam kepala saya. Ia hidup, masih hidup sebenarnya, meski telah sekarat, dan hampir-hampir mengubur keinginan mulianya itu.
Dulu ia masih bertahta, dinaungi sayap-sayap malaikat, membuatnya sanggup pergi membuktikan diri sebagai laki-laki. Memenuhi impian masa kecilnya untuk tak lahir dan besar di sarang. Di sangalaki, begitu banyak penjelasan kudapat, ia bergantung pada pepohon rimbun nan elok di pesisir, bertaburan diantara pepasir, dan terbaca di punggung tukik. Penjelasannya asli dan tak rumit, datang di kepalaku yang biasanya hanya bersedia menyediakan penjelasan yang menyenangkan hati saja. Saya, dan kawanku seperjalanan, para guru dan beberapa siswa, disiang hari sembari menunggu air pasang. Banyak bercerita, para senior yang telah matang ilmunya dan panjang pengalamannya masng-masing berbagi kisah, tentang cerita cinta mereka.
Saya kemudian teringat penjelasannya Bang Tere Liye, beliau pernah menulis: Permasalahan atau urusan hidup itu persis seperti rumput di halaman. 100 kali kita potong, rapikan, perindah, maka 100 kali pula rumput tersebut tumbuh lagi, tinggi, berantakan. Terus saja begitu, ada-ada saja masalah/urusan baru yg muncul. Oleh karena sudah demikian kodratnya, maka drpd mengeluh, berputus asa, lebih baik siapkan peralatan yg baik, sisihkan waktu, dan jangan malas segera disiplin memotong rumputnya, agar terus indah dilihat sepanjang waktu.
Berdasar dari cerita cinta yang dijelaskan para guru senior. Saya menemukan banyak definisi yang salah (ini berdasar persepsi saya), lalu inilah yang barangkali iseng dikatakan di hadapan siswa-siswa di kelas, mencitrakan begitu dalam tingkah lakunya. Pengalaman saya, karena saya termasuk pria baik hati dan tidak sombong (prêt tt), sangat sering ditanyai siswa tentang pacarnya, saat sperti itu, slalu kuarahkan, kubahasakan halus sebaik mungkin dengan satu arah yang pasti: Sudah, putuskan saja pacarmu itu, dek!. Dengan tujuan, agar ia hidup normal dan baik-baik saja, tak perlu galau-galau untuk hal tak penting.   
Tapi masalahnya, orang seperti ini di zaman sekarang akan tertindas, diabaikan, tersingkir. Ia berada pada pilihan pelik, mempertahankan prinsipnya atau tersingkir dari dunia tempatnya hidup dan bernaung, artinya ia hidup tapi seolah tidak karena tak diakui lingkungannya, tak ada tempat berekspresi. Dan itu tidak mudah, kasihan juga. Bagaimana kalau ia tak sanggup? Bagaimana kalau ia tak cukup kuat menahan itu semua? 
Tentulah tak pernah kusalahkan waktu, tapi memang banyak sekali hal berubah oleh waktu. Makin hari, pepohon kian habis. Sawah-sawah mulai ditumbuhi rumah-rumah, tanah-tanah dibeli orang asing lalu digerusnya kekayaan alam kita, rumah-rumah ditimpali informasi sesat di layar kaca, yang mengajari anak2 kita hidup lebay dan kurangajar. Tempat ibadah kian melompong. Muda-mudi lebih suka keluyuran di jalan dan keramaian-keramaian. Gadis-gadis kini tak sungkan lagi mengenakan pakaian setengah jadi. Anak muda pun lebih suka bergerombol di pinggir jalan ditemani botol, kartu, dan gitar. Pasangan terpaksa menikah menjadi kabar biasa. Merentet kemudian, kasus memalukan yang terjadi di luar nikah. …….dst.
Di sunyi sangalaki, bergantung sisi kontemplasi. menggantungkan hal-hal miris yang terjadi, membenarkan betapa propaganda yahudi yang digencarkan melalui media yang dikuasainya telah berhasil, membuat kita jadi orang-orang kalah, kalah total. Mereka seperti mampu mengerahkan ratusan iblis untuk membekuk orang-orang pintar yang bertengger di lembaga-lembaga Negara, guru dan pelajar-pelajar yang ada di kampus dan sekolah-sekolah. Telah kita lihat betul keampuhan sihir-sihir mereka.
Lalu, setelah segalanya terjadi, setelah kini segalanya sudah jadi hal biasa dan (terkesan) tak dosa lagi. Sesuatu yang sebetulnya disadari sejak dulu tapi terjadi begitu ajaib, seperti sesuatu yang alamiah, mengelabuhi akal pikiran dan terjadi begitu saja, tak dipedulikan begitu saja. Menyeret kita semua, masuk neraka secara berjamaah, nanti! Lalu apa yang hendak kamu (kita) lakukan? sesuatu yang entah bertanya padaku. Ah, aku hanya rindu kawan lamaku, rindu masa-masa semangat memperjuangkan idealisme asing yang menggetarkan dan sangat beresiko, yang membuat dunia tak menerima dan menyingkirkan penganutnya dari atasnya. Di Sangalaki, saya kemudian berpikir tentang pulang. Apa yang bisa kukatakan (pada-Nya) di sana setelah pulang nanti?  

Masyarakat Bajau, Tentang Kepuhunan dan Kisah Cinta Remajanya


*Sebuah riset sosial, yang berdasar persepsi pribadi penulis!
“Jangan pergi dulu dek, singgah dulu sebentar. Nanti Kepuhunan!”
Sesuatu berdebar di hati saya saat perbincangan kami pertama kali dengan komunitas masyarakat Bajau. Saat itu, saya yang serupa mahluk asing (dari luar angkasa), hinggap secara misterius di sebuah komunitas komunal (suka berkelompok), yang tak kutahu adatnya bagaimana, apa agamanya, makanannya apa, dsb. Dan saat itu, kujumpai kalimat aneh pertama kali: Kepuhunan. Yang selanjutnya, biasanya terdengar lebih lengkap: Jangan dulu pergi, nanti kepuhunan.
Sekarang telah kumengerti benar, kepuhunan, yang merupakan bahasa yang paling sering saya temui di Maratua… Adalah Sejenis mitos, (sejenis pamalik) yang dipercayai, dipopulerkan, dan dianut secara turun-temurun. Masyarakat Bajau yang ramah dan punya sikap pemurah tak terkira, akan merasa tidak senang saat menawari makanan dan tidak di makan. “Nanti kepuhunan” mereka bilang.
Kepuhunan dalam bahasa bajau, artinya: tertimpa pohon, sebuah bahasa kiasan yang berarti pula: celaka, kena balak, tidak beruntung diperjalanan. Hal ini sesuai dengan falsafah kehidupan laut mereka yang hati-hati dan tidak boleh sembarang bertingkah. Kalimat sejenis, misalnya; Jangan main-main di laut, atau jangan buang perangai di laut” Artinya, bisa saja terjadi bahaya, balak yang diluar kendali kita, yang disebabkan oleh setan.
Mereka sudah mengerti, pusatnya setan ada di laut, kerajaan setan bertempat di laut, dan iblis pun memimpin, merencanakan, dan mengendalikan pasukannya untuk menyesatkan manusia, dilaut. Makanya, di masyarakat suku Bajau, kalau ditawari makanan, harus makan. kalau dipanggil singgah untuk minum teh, harus minum dulu biar sedikit. Kalau akan memancing, dipesankan untuk tidak main-main (di Makassar saat bepergian, orang tua kita akan berpesan, hati-hati di jalan - pembeda) Saya pikir, itu juga berkenaan dengan kepercayaan tradisional mereka yang (sekarang) telah berbaur dengan islam, di dada mereka.  
Masyarakat bajau, cewek-ceweknya cantik-cantik, manis-manis (seperti gula), dan senang berkumpul. Saat melihatnya pertama kali, kubayangkankanlah situasi kampungku di masa lalu, saat saya masih SD. Di sore hari, cewek-cewek telah berduyung-duyung ke sumur memakai daster, mereka berkumpul di sana bukan untuk mandi sebagai tujuan utama, melainkan ngobrol dan cerita-cerita. Di sini, fenomenanya agak mirip, kalau sore dan sedang tak main volly, cewek-cewek berdaster akan terlihat berjalan bersama (sekarang sudah berubah, yg berdaster justru ibu-ibu), berkumpul di dermaga, berkumpul di sana membentuk lingkaran. Hape di tangan masing-masing.
Saban malam, usai isya, usai segala aktivitas seharian yang membosankan dan itu-itu saja. Para remaja kemudian akan menghambur lagi ke dermaga. Duduk bergelap-gelap dengan masing-masing menenteng hape (hanya di sini tempat bersignal). Di sanalah para setan berkerumun, di sanalah awal mula semua pertemuan, menemani anak-anak muda yang duduk mojok berpasangan tanpa menghiraukan orang lain. Seperti telah mahfum olehmu, kawan. Di zaman sekarang, remaja mana sih yang tak punya pacar? Kegilaan pada dunia kecil ini seperti cacar yang menyerang hati remaja-remaja Indonesia. Pun, sekumpulan remaja pedalaman Kalimantan terasing di pulau. Tentu saja kecuali dua orang pria perantau Makassar yang pernah tinggal di perumahan kompleks sekolah -_-
Kisah cinta mereka skeptik. Berpacaran, ---biasanya budaya berpacaran mereka dilakukan semenjak smp, putus-nyambung dengan orang yang berbeda, hingga akhirnya putus, atau (harus) menikah, bukan karena nikah paksa seperti dalam novel sitti nurbaya, tapi karena terpaksa nikah---, ketemuan, duduk berdua di dermaga. Para lelaki tak mengenal cinta sebagai perjuangan, pengorbanan untuk mengejar panaik yang banyak, terpaksa berpisah karena lanjut sekolah, kisah cinta terbentur adat, atau karena ditolak karena alasan-alasan ekonomi dan keturunan. Tak, masyarakat bajau tak mengenal itu. Mereka mengenal menikah dalam proses yang sederhana, tak berkelok seperti adat bugis, terjadi begitu saja, dan tak terkesan begitu sakral penuh adat.
Barangkali (ini hanya barangkali), tak ada diantara mereka yang pernah membaca kisah cinta romeo-juliet, fahri-aisyah, laila-majnun, ikal-a ling, arai-zakiah, atau kisah cinta semacamnya yang butuh pengorbanan, semisal kisah cinta yang sang wanitanya telah terlanjur mengunci hatinya baik-baik, lalu kuncinya dilempar ke dasar samudra dan sang laki-laki mesti mendapatkannya terlebih dahulu. Dasar samudra itu sangat gelap, butuh senter tercanggih buatan jepang. Celakanya, kunci itu dijaga oleh tujuh ekor hiu gergaji yang besar, hiu itu ganas-ganas, dan hanya bisa ditaklukkan dengan racun penawar khusus agar hiu itu mabuk dan tertidur. untuk mendapatkan racun penawar itu, dibutuhkan bertapa 40 hari 40 malam, tak makan tak minum disebuah goa angker. Untuk ke sana harus izin dulu sama penjaga gua, membawa seorang perawan berkulit putih yang tinggal di sebuah desa di afrika………dst. 
Tapi kisah cinta mereka tetaplah pada kegilaannya. Semua cerita tak masuk akal, yang tidak butuh penjelasan, yang (orang bilang) buta itu, tetaplah mereka jalani segitunya. Seperti kebanyakan remaja tak tegas, yang umumnya takkan mampu mengendalikan peran dan diri. yang akhirnya jatuh pada kubangan penyesalan, seperti air yang jatuh di pembuangan.
Pada Remaja Bajau, saat ada pesta pernikahan, dikenal pula istilah: acara muda-mudi. Berupa acara buat para anak muda (yg biasanya) bersama pasangannya masing-masing (yang tak punya pasangan akan merasa terasing), menghadiri pesta di malam hari. Tak tanggung-tanggung, disediakan tempat untuk senang-senang, di malam hari pula. Dihibur biduan khusus, saban malam beberapa akan berjoget bersama, ditemani goyang dumang, morena, dan music discotik.

Seni dan hiburan, adalah dunia mereka, olahraga adalah detak nafas mereka. Sebuah apresiasi membanggakan apabila terdapat acara seni atau olahraga di kampung, menunjukkan identitas khas yang melekat pada budaya mereka. Unik dan Mengesankan!
*Dhito Nur Ahmad

Berkenalan dengan Alam Maratua

Kawan, sudah pernahkah kalian ke Maratua? Atau begini, sudah kenalkah kalian dgn Maratua, atau paling tidak pernah mendengar atau membaca nama Maratua? Mari, akan kuajak kalian berkenalan. Mr. Robert, bule’ dari polandia pernah kumintai pendapatnya, ia berujar: Very beautiful young man. Like a little paradise! Maratua, terletak di utara, keindahannya tak diumbar-umbar, tak terlalu diekspose, hingga tentulah tak sepopuler pantai Kuta di Bali, Pantai Senggigi di Mataram, alam Raja Ampat, atau pantai Losari di Makassar. Tak. Maratua berbeda. Ia tersembunyi, jauh ke utara, di batas laut Negara tetangga. Ada banyak destinasi yang bisa kawan kunjungi dan nikmati. Kalau suatu nanti kawan berkunjung ke sini, dan jika kalian berjalan di sepanjang pulau yang melengkung seperti huruf J, kalian akan disambut dengan udara yang lembut dan segar, udara yang tak dingin dan tak panas, seperti memang telah ditakar Tuhan untuk dipaskan di hati. Kemudian, lihatlah ke sekitar: pepohon yang masih belantara, dan monyet-monyet bergelantungan di atasnya, laut yang berpendar biru muda, menjilati pasir putih, beburung yang terbang, dan delta yang melengkung seperti telah disolek secantik mungkin oleh Tuhan.
Mari! Mari kawan, akan kubawa kalian jalan-jalan mengelilingi pulau eksotik ini. Pertama, akan kukenalkan kalian kampung tempat tinggalku. Kampung Payung-Payung, merupakan bagian dari empat kampung yang ada di pulau: Bohebukut, Bohesilian, dan Teluk Alulu. Saat kalian ke Payung-Payung, tentu saja kalian turun di ujung dermaga. Berjalanlah kalian di sepanjang dermaga itu. Keluar dari dermaga menuju perkampungan, kalian akan disambut dengan gapura besar, memampangkan sopan sebuah tulisan penuh adat “ Selamat Datang di Objek Wisata Pulau Maratua Kabupaten Berau”, dengan patung penyu di kanan kiri sebagai pengawal. Selepasnya, rumah kecil-kecil berbaris tak rapat, jalan lurus-lurus tak beraspal, dan para pejalan tak beralas kaki lalu lalang di bahunya. Di kanan kiri jalan tertata rapi sekali pepohon kelapa, berjejer memanjang seperti barisan upacara. lalu seratus meter dari tempat itu, hanya diantarai sebuah lapangan sepak bola, terdapatlah sebuah sekolah, tempatku mengukir kisah bersama adik-adik siswa. Antara dermaga, lapangan sepak bola, masjid, dan sekolah, merupakan pusat kampung payung-payung. Di dominasi warna hijau dan biru.
Di hadapan kampung itu, sedikit menjauh, terdapat pulau cermin raksasa di tengah laut: Pulau Kakaban, tempat ubur-ubur terbaik dunia berada. Di sebelah baratnya, terdapatlah pulau Sangalaki, merupakan tempat penangkaran penyu alami. Penampakannya kecil seperti spot di tengah laut, pasirnya bersih dan dipenuhi bekas rayapan penyu. Telah pernah kami kelilingi dengan jalan kaki di putih pasirnya, dibelai semilir anginnya.
Mari, kita ke utara, menemui gugusan pulau lain yang ada. Tepatnya di ujung terutara, terbentanglah dua pulau kembar, bernama Bakungan. Saya telah dua kali ke sana, tidur2an di dermaga panjangnya, dan menatap berlama-lama ke utara. Tak ada apa-apa lagi setelahnya, kecuali lautnya yang sangat biru pertanda sangat dalam, membentang kosong hingga ke filipina.
Jika kalian pernah berkunjung ke Maratua, saya yakin kalian pasti akan mengingatnya sampai sekarang. Saat matahari pertama kali menyinari bumi, kalian akan disambut dengan kicauan burung yang bersahutan, monyet yang berangkulan. Lalu, dari pantulan embun yang membasahi pepohon bermunculan warna-warni seperti pelangi, seperti selendang para bidadari yang selalu menari penuh bahagia. Para warga telah mengenal kedamaian adalah nafas, seperti detak jantung yang berdentam setiap detik, alam di kampung adalah hidup mereka. Kalau kawan ke sini, demi Tuhan, kawan tidak akan menemui air yang meninggi yang menggenangi rumah, tidak akan pernah ada kemacetan-kemacetan menjengkelkan, suara-suara bising kendaraan, dan keadaan yang runyam saat anak-anak muda turun ke jalan dan melempar batu sembarangan.
Di selat, terdapat 4 gugusan pulau cantik, hanya dua yang berpenghuni (rumah wisata) yaitu Pulau Papandangan dan Nusa Kokok. Pulau tercantik dan menjadi icond adalah Pulau Papandangan (atau lebih popular disebut pulau Nabuko –disebut begitu karena wisata pulau ini dikelola perusahaan wisata jerman yang bernama PT. Nabucco--).
Sebenarnya saya telah beberapa kali ke Nabuko dan saya tak pernah bosan dengan sensasinya. Sebab air laut pandai sekali memainkan peran. Ketika surut tiba, tampaklah pasir putih membentang yang bagus ditempati main-main dan berkejar-kejaran. Jikalau pasang, tempat itu jadi laut dangkal yang dirambati berbagai jenis ikan jinak, itu berarti aktivitas snorkeling jadi mengesankan. Saya pernah melihat penampakannya dari atas gunung putih, daratan tertinggi maratua. Dari sana, Nabuko begitu menggoda dengan penataan artistik. Pantainya dikelilingi rumah-rumah bule menghadap kelaut dengan teras memanjang sampai ke laut dikokohi tiang-tiang yang panjang. Dari puncak gunung itu pula, tampak deretan kelapa yang berbaris. Kalau air surut, pasir putih akan membentang membentuk lingkaran tak jauh dari hadapannya sampai ke Pulau Nusa Kokok. Di siang hari, di sanalah bule-bule berjemur sepanjang surut.
***
Kalau hujan turun, pelangi warna-warni selalu. Berpadu puncak pepohon kelapa dan chery yang tumbuh banyak di pekarangan. Kalau panas, laut akan menghembuskan nafas segarnya ke pulau, meniup pepohon dan segenap mahluk-mahluk yang ada di bawahnya. Ketika kita ingin memancing, tak perlu jauh-jauh ke tengah laut, di ujung dermaga pun, bisa dapat ikan. Mata kalian akan kian terbuka, ketika melihat penyu menyerbu pagi di dermaga, selalu. Ada ratusan penyu yang selalu datang ke pantai, memutar-mutar, bermain-main di air dangkal, sambil sesekali menyembulkan nafasnya ke udara.
Sementara, sekolah kami (SMPN 27 Berau) beragam buah meneduhinya. Cabang-cabang buah kedondong tinggi berkilat-kilat memampangkan buahnya yang ranum menguning dan tak dipedulikan, kalau pagi burung-burung segala rupa rajin bermain-main di situ, meloncat-loncat penuh bangga ke pohon ketapang, nangka, kates, lalu menjarah buah-buah cherry yang tumbuh di depan rumahku. Saat kupusatkan pendengaranku pagi-pagi, duduk bersila memejamkan mata di teras, serupa pekunfu shaolin yang sedang bertapa, saya begitu dapat merasai semilir angin yang menggerakkan dedaun, dan bunyi-bunyi beburung itu seperti mahluk-mahluk dari surga yang meniupkan keindahan sampai ke kalbu.
Mari, kawan. Akan kuajak lagi kalian ke Kampung Bohesilian, di sini terdapat Objek wisata Teluk Pea, Ombok-Ombok, Gua Angkal-Angkal, Danau Haji Mangku, dan Goa Sembat. Hutannya luas, belantara dan curam. Sementara, di Kampung Bohebukut yang merupakan ibukota kecamatan, terdapat Maratua Paradise, Maratua guest house, Goa Organ, Danau Tanah Bambang, dan Goa Keheabok. Antara kampung Bohebukut dan Payung-Payung, terdapat lagi danau besar nan cantik: Haji Buang, begitu damai dan asli. Kalau kawan bersampan ke tengahnya, akan kawan temui segala rupa ubur-ubur dan monyet2 yang berangkulan di deltanya. Kalau dari gunung putih, penampakannya serupa kelokan ular bercabang: Mengesankan.
Kalau ada waktu, berkunjunglah suatu nanti, kawan! Akan kawan temui sebuah dunia yang kan membuatmu jatuh cinta pada alam, pada petualangan…. Kawan!

*Dhito Nur Ahmad (Peserta SM-3T UNM di Maratua)